23.21
36
Oleh: Rohani *)
SEJAK dini kita dikenalkan dengan adagium (atau hadits: ?) al-Islamu ya’lǔ wa lā yu’lā ‘alaih (Islam merupakan agama yang luhur dan tidak dapat dikalahkan). Ungkapan ini, sepintas merupakan sebuah penyemangat keberagamaan kita, bahwa agama kita adalah agama yang tidak dapat ter(di)kalahkan dalam segala hal. Islam telah mencapai masa kejayaannya (asr al-dzahabi, era keemasan) dengan majunya peradaban dan ilmu pengetahuan di era abad ke-18 –an, namun sejak abad ke-19, Islam mengalami masa kemunduran bersamaan dengan memuncaknya peradaban Barat, bahkan sebagian besar dunia Islam diduduki oleh negara-negara Barat. Dalam suasana kemunduran itulah gerakan modernisme Islam muncul, mulai dari gerakan yang digawangi oleh Jamaluddin al-Afghani (pan Islamisme), Muhammad Abdul Wahhab, Muhamad Abduh, Rasyid Ridha, dll yang kemudian bersandar di nusantara melalui gerakan Muhammadiyah (1912).
Gerakan ini ditandai secara kuat oleh keyakinan bahwa kejayaan Islam akan bisa diraih kembali jika umat Islam kembali kepada al-Quran dan Hadis (al-ruju’ ila al-qur’an wa al-hadits) dan ajaran-ajaran yang asli. Karenanya, modernisme pemikiran Islam dalam praktiknya adalah purifikasi ajarannya. Ini sebenarnya merupakan kerangka berpikir yang paradoks. Keinginan untuk menjadi modern (sebagaimana yang dicapai Barat) ditopang oleh keyakinan tentang pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang asli. Tidak mengherankan jika dalam jangka panjang kita melihat bahwa modernisme Islam justru melahirkan banyak penyimpangan dalam pemikiran dan gerakannya. Sejarah menunjukkan bahwa gerakan fundamentalisme Islam justru menjadi anak kandung dari modernisme Islam. Demikian juga terorisme dan bentuk-bentuk radikalisme yang lain (Zannuba Arifah Chafsah: 2009).
Dalam kasus Indonesia, kaum Islam “modernis” (dalam bahasa guyonan Gus Dur kata modern, berasal dari bahasa Arab: Mudhirrin, yang artinya berbahaya (Abdurrahman Wahid: 2007) justru menunjukkan sikap politik yang kaku dalam berpolitik seperti ditunjukkan oleh Partai Masyumi selama satu setengah dasawarsa pasca kemerdekaan. Sebaliknya, kaum yang disebut tradisionalis, ortodoks (berasal dari: Irtadhaka, Tuhan meridhaimu) yang direpresentasikan oleh Nahdlatul Ulama (NU) justru menampakkan sikap politik yang lebih fleksibel, adaptif dan akomodatif terhadap otoritas sekular. Di satu sisi paradoks yang melekat dalam modernisme Islam tampaknya belum bisa diselesaikan dengan tuntas sampai saat ini.
Di sisi lain, NU yang tidak pernah mengkampanyekan modernisasi justru mununjukkan watak yang dinamis dan mampu melakukan perubahan-perubahan radikal yang menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat yang fundamental.
Karakter utama NU sebagai rezim pemikiran adalah kuatnya tradisi berpikir serba-fiqih di dalamnya. Pemikiran demikian secara sepintas lalu sangat ketinggalan zaman, karena hanya mengikuti pendapat ulama di masa lampau. Tapi, bagi yang mengamati dengan cermat dan seksama, maka di dalam pemikiran serba-fiqih tersimpan watak dinamis dan transformatif yang memungkinkan pemikiran NU berkembang dan berdialog dengan berbagai nilai yang datang dari peradaban lain. Pemikiran yang kaku memang kadang terlihat ketika ulama NU merujuk kepada pendapat ulama terdahulu saja. Tapi, itu hanya sebagian kecil dari tradisi pemikiran NU. Karena sudah sejak lama ulama NU mengubah tradisi pemikirannya kepada cara bermazhab secara metodologis atau manhaji (KH. MA. Sahal Mahfudz: 2003). Dalam cara demikian, yang paling berperan adalah teori hukum (ushul al-fiqh) dan kaidah-kaidah hukum (legal maxim, qawaid fiqhiyyah), bukan pendapat (qaul) ulama klasik itu sendiri (Zannuba AC: 2009)
Kedua perangkat itu berfungsi sebagai daerah sangga, yakni tempat ajaran Islam diterjemahkan dan diterapkan dengan memperhatikan aspek lokalitas dan kepentingan manusia dalam arti yang luas (maslahah). Orientasi pemikiran serba-fiqih yang mengutamakan kemaslahatan (sebagai tujuan dari pensyariatan, maqashid syariah) inilah yang membuat ulama-ulama NU bisa terus mengembangkan diri dan berdialog dengan berbagai tradisi dari peradaban lain. Pada saat yang sama, mereka bisa melakukan perubahan yang fundamental tanpa menimbulkan keguncangan yang berarti.
Simak misalnya perubahan radikal dalam pemikiran ulama NU ketika K.H A Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama RI pasca pengakuan kedaulatan menerima usul agar siswi (perempuan) bisa diterima di Sekolah Guru Hakim Agama Negeri (SGHAN). Pada waktu itu ulama sebenarnya masih memegang pendapat yang mengatakan bahwa wanita tidak diperbolehkan menjadi hakim agama. Secara tidak langsung, KH A Wahid Hasyim telah mengubah secara perlahan pemikiran tersebut, karena jika seorang perempuan bisa sekolah di SGHAN, maka kelak dia juga bisa menjadi hakim agama (A. Gaffar Karim: 1996). Dan, perubahan itu pada akhirnya diterima sampai sekarang tanpa ada pertentangan yang berarti. Demikian juga ketika NU memutuskan untuk membolehkan perempuan menjadi presiden seperti diputuskan dalam Musyawarah Nasional Ulama NU di Lombok Nusa Tenggara Barat pada 1997 (Majalah Aula: Nopember 1997)
Pemikiran serba fiqih, dengan demikian, mencegah suatu cara pandang monokultural terhadap realitas dan pada saat yang sama menyediakan daerah sangga yang rasional bila tujuan keagamaan dalam wilayah politik mengalami jalan buntu. Pemikiran serba fiqih menyediakan jalan keluar tanpa harus terjebak dalam sikap-sikap yang ekstrem. Para ulama NU misalnya pernah memperjuangkan agar syariah bisa dimasukkan dalam undang-undang negara pada sidang-sidang Konstituante 1958-1959. Namun, ketika usaha ini menemui jalan buntu, maka mereka tidak menolak eksistensi UUD 1945 dan Indonesia sebagai negara bangsa, tetapi menerimanya sebagai realitas politik dengan penuh kesungguhan, terutama karena umat Islam diberi kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya. Kaidah fiqih yang dirujuk adalah “ma la yudraku kulluh, la yutraku julluh”, apa yang tidak bisa diwujudkan semuanya, tidak boleh ditinggalkan bagian terpenting di dalamnya (al-Suyuthi: Asybah wa al-Nadha-ir: tt) atau “ma la yudraku kulluh, la yutraku kulluh”, apa yang tidak bisa diwujudkan semuanya, tidak boleh ditinggalkan keseluruhannya (Abdul Hamid Hakim: al-Bayan: tt)
Inilah solusi secara fiqih yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika politik NU sepanjang sejarah Indonesia dan mencegahnya terperosok dalam berbagai bentuk radikalisme yang justeru kontraproduktif terhadap cita-cita agama dan negara bangsa. NU menunjukkan suatu keunikan bahwa modernisasi bisa dikawinkan secara efektif dengan khazanah pemikiran keagamaan masa lampau. Pemikiran keagamaan yang serba-fiqih menunjukkan watak dinamis dan transformatif sehingga berhasil meletakkan pangkalan-pangkalan pendaratan bagi pengembangan masyarakat ke depan serta perubahan relasi struktural di dalamnya, tidak terkecuali dalam hal hubungan gender, antar-agama dan antar-ideologi.
Peradaban fiqih telah menjadi warisan dan kekayaan yang sangat berharga, sehingga ada landasan berpijak yang sangat kuat untuk pengembangan masyarakat bangsa ke depan. Tantangannya ke depan adalah bukan menemukan tradisi peradaban fiqih yang sama sekali baru, tetapi mengembangkan tradisi itu secara dinamis dan menerapkannya sesuai dengan kebutuhan hakiki manusia-suatu tugas yang jauh berat dari menemukan tradisi itu sendiri. Dalam konteks ini, dibutuhkan pemikiran yang mampu membuat proyeksi atas masa depan berdasarkan kompleksitas kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang ada, sehingga semua problematika umat manusia dapat dicarikan solusi dan jawabannya  dari kaca mata fiqh yang dinamis dan penuh farian hukum, tidak lantas (dengan serampangan) dihukumi bid’ah yang sesat dan karenanya harus dimusuhi karena tidak ditemukan dalil dalam al-Qur’an maupun hadits, bukan?

*Rohani, Alumnus MAK Al-Iman Bulus Purworejo, Jama’ah NU Kabupaten Wonosobo.

36 komentar:

  1. Kalangan yang slalu menggembar-gemborkan al islam ya'lu wa la yu'la alaih ternyata mengalami kesulitan untuk menunjukkan bahwa islam itu rahmatan lil 'alamin. sedang nu yang diangap kuno ortodok terbelakang malah secara nyata membuktikan bahwa islam itu shalihun li kulli makan wa zaman.

    BalasHapus
  2. Bahjah numilang29 Maret 2011 14.23

    Artikel ini juga paradoks ... Namun trnyata dn snytanya mau dirasa/tidak ASWAJA yg hrus digalakan bkn adagium diatas,dn juga fhamilah hadis diatas dlm kerangka ASWAJA pasti akn enak dn mulia..

    BalasHapus
  3. @Agus: mati urip ngegemi agamane gusti Allah lumantar gambar jagad lintang songo...mugo2 khusnul khotimah dan tidak tersesat.....
    @ pak anang: trekadang geli sendiri, ketika melihat saudara2 islam (sok) murni yang mengajak segala sesuatunya unt njiplak sesuai kanjeng Nabi, aku jadi kepikiran, kalau naik haji berarti kudu naik unta, sekarang ga boleh menggunakan tekhnologi, dll... wah betapa ribetnya hidup ini... sedikit2 haram, dikit2 bid'ah.. sesat
    @Sdr. Bahjah: yang menggalakkan hadits (adagium;?) diatas siapa mas?. justru saya berusaha mengkritisi pemahaman yang salah kok, bukan menggalakkannya... mungkin adagium diatas benar adanya (karena kebetulan saya juga belum ngecek melakukan kritik hadits tersebut), cuman pemahaman sebagaian umat Islam yang salah dalam memahaminya, sehingga seakan2 islam "telah unggul" dan tidak terkalahkan, padahal kenyataannya kita hanya bisa berbangga diri dengan era keemasan peradaban Islam dan lebih senang anti pati dan menyalahkan Barat.. Aswaja itu lentur mas,tidak serampangan dan tidak gegabah dalam bertindak, Aswaja selalu mengajarkan pilihan-pilihan unt menjawab problema kehidupan ini.. kalau saudara pengikut Aswaja semestinya saudara bisa merasakan kedamaian dari Aswaja yang sama sekali jauh dari paradoks... dalam kehidupan, sifat Rahman dan rahim Allah haruslah selalu memancari setiap aktifitas....Wallahu a'lam bi al-shawab

    BalasHapus
  4. bahjah numilang30 Maret 2011 06.06

    okay...ma waroda bihi asyar'u wala dlobitho lahu wala fillughoh fayurja'u ilal;urfi. apa-apa yang datang dari syara' dan tidak ada batasannya dlm kebahasaan maka hal itu dikembalikan kepada kreatifitas manusia (adat budaya) inilah watak modernitas yang sesungguhnya tidak paradoks.. wallohu a'lam

    BalasHapus
  5. @bahjah: dalam hal urf, yang terpenting adanya jaminan atas hak dasar manusia, al-kulliyat al-khams,itu prinsip utama dalam modernitas mas, saling menghargai dan bertenggangrasa, tidak saling menghujat dan menghinakan

    BalasHapus
  6. dalam hal mencontoh Kanjeng Nabi, kita harus melihatnya sebagaimana yang Hujjah al-Islam al-ghazali lakukan, yaitu membedakan antara "Muhammad yang Nabi" dan "MUhammad yang Arab", sehingga kita tidak dengan serampangan mengatakan "ini lho sunnah Nabi", "itu tidak ada tuntunan Nabi", "itu bid'ah karena nabi tidak melakukan" dll. al-Ghazali dalam al-Mankhul min Ta'liqat al-Ushul mengatakan: "Fain waqa'a min jumlati al-af'al al-mu'tadah min aklin wa syurbin wa qiyamin wa qu'udin wa itkain wa idthija'in fa la hukma lahu ashlan; wa dhanna ba'dz al-muhadditsin anna al-tasyabbuha bihi fi kulli af'alihi sunnatun, wa HUWA GHALADHUN", (Jika aktivitas Nabi Muhammad SAW tersebut masih dalam batas-batas aktivitas kebiasaa budaya, seperti makan, minum, berdiri, duduk, bersandar dan tidur miring ke kanan, maka sama sekali tidak dapat dikaitkan dengan hukum. sebagaian pakar hadits berpendapar bahwa mengikuti Nabi secara total adalah sunnah, dan pendapat inilah yang merupakan kesalahan berpikir)... Jika Hujjah al-islam saja berkata begitu, kok kita yang masih "cekak" selalu lantang mengatakan: "ini sunnah", "Itu Bid'ad" de el el... Wallah al-Musta'an.. _edi rohani_

    BalasHapus
  7. @ edi rohani>>>>>mungkin memang benar apa yang anda sampaikan.tapi segala yang nabi lakukan bukankah berasalkan wahyu......cara makan nabi menggunakan adab yang memang harus kita tiru....Tidur nabi beradab...jalan nabi beradab....duduk nabi beradab......
    dan secara medis pun telah terbukti bahwa yang nabi lakukan memng benar adanya....sudah sepatutnya kita sebagai orang yang mengaku mencintainya meniru semua gerak geriknya thooo.???
    SEANDAINYA MUHAMMAD SAW KATAKAN BAHWA ONTA ITU BER KAKI TIGA...PASTI AKU PERCAYA WALAUPUN MATA MELIHAT KAKI ONTA EMPAT.............wallahu a'lam

    BalasHapus
  8. bahwa sunnah itu ada 3 macam
    1.surroh ( gambar )ini yang jadi maslah......nabi berjenggot umatnyapun di sunahkan berjenggot.walaupun kebayakan kaum arab berjenggot.
    2.sirroh ( perilaku )nabi makan tidakk menggunakan sendok....kenapa....????apkah nabi menyuruh kita mengikuti.....???.
    3.sariroh ( fikir )..summah ini yang sering terlupakan ????
    Apa yang dan siapa yang nabi pikirkan siang dan malam.....????????

    BalasHapus
  9. sebagai orang yang yang menyakini adanya kias mengapa kita harus tertawa .........bukankah bid'ah hanya sebatas peribadatan saja......apakah sepeda motor itu bid'ah...?????

    BalasHapus
  10. Bahjah numilang30 Maret 2011 16.31

    1. Kulliyatul homs sdah masuk dlm syara',qowaid fiqhiyah diats intiny adlh mengkomunikasikn antra wahyu (syara') dn kreatifitas manusia (adat/budaya) dg memposisikan wahyu sbgai barometerny tdk malah sblikny sep mu'tazilah..
    2. Cara Makany Nabi Minumnya Tidurny dll masuk dlm ranah sunah tobi'iyah bkn sunah hukmiyah ad bbrapa Shohabat yg melakukn persis sep it.yg salah adlh ktika memposisikan sunah tobi'i kdlm hukmi dn juga tdk menganggap sunah tobi'i sbgai bgian sunah Nabi,wajarlah kalo sy pake baju sepak bola krna saking sukany dg bambang pamungkas dll

    BalasHapus
  11. kalo masih ada hadits ijma' qiyas belum berlaku..........

    BalasHapus
  12. Untuk sahabat-sahabatku:
    Kanjeng Nabi memang pribadi yang sangat sempurna, tidak ada sedikitpun celah kekurangsemprnaan, apa yang beliau sampaikan adalah bukan dari hawa nafsu, wa mā yantiqu ‘an al-hawā, in huwa illa wahy yūhā... namun beliau juga memiliki sisi-sisi “kemanusiaan” biasa yang angasto dahar jika merasa lapar, yang sare jika merasa kantuk, dll. Bidikan saya bukan disisi kesempurnaan Kanjeng Nabi, namun pada tingkah laku sebagian umat manusia (yang ngaku golongan islam modern) yang dengan seenaknya mengatakan bahwa amaliyah kaum nahdlyiin dianggap sebagai sesat dan bid’ah, itu pertama.
    Kedua, segala af’al Kanjeng Nabi adalah beradab adanya, tapi tidak kemudian semuanya mengandung konsekwensi hukum bukan? (baca postingan saya tentang qaul al-Ghazali sebelum ini). Nabi menjalankan ibadah haji berkendaraan (naik) unta, apakah (karena “katanya sunnah”) kita juga harus begitu?, nabi ngasto dahar menggunakan tiga jarinya, apakah kemudian saya yang makan nasi jagung juga harus begitu?... saya rasa tidak kawan, kita harus bisa mengikuti mana yang bernilai ta’abbud karena mengandung hukum, hukmy dan mana yang tidak, thab’iy (karena hanya sisi kebiasaan kemanusian biasa). Ini adalah pemahaman saya terhadap apa yang Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali sampaikan, kalau pemahaman saya keliru, mungkin karena “cekak”nya otak saya.
    Ketiga, Kanjeng nabi adalah uswatun hasanah, kaca benggala umat Islam dalam beribadah dan bermu’amalah, anehnya, justeru orang yang mengaku sebagai kaum salafy (yang semua amaliahnya “persis” dengan nabi=?), justeru sering bertamparemen galak dan sadis, hobi membid’ah dan mengkafirkan, lihai mengkapling surga (untuk kelompoknya) dan neraka untuk mereka yang tidak sepaham. Jika Nabi mengajarkan untuk saling menghormati diantara umat manusia, kenapa kita justeru saling menjegal?.. peristiwa fath Makkah adalah pelajaran berharga untuk umat Nabi Muhammad SAW...
    Wallahu al-Muwafiq

    BalasHapus
  13. AUFA MUJTAHID (WONOSOBO JATENG)30 Maret 2011 17.44

    Barokalloh Fie Umriek...
    Buat para ikhwan dan akhwat sekalian, dimohon kalo pos komentar di kasih nama, syukur bisa jelas alamatnya, Jangan cuma pake "Anonimous" aja, kurang asyik kayaknya. hehe
    Kita diskusi bareng yang enak untuk kemaslahatan dan pencerahan bersama. Dan Santai saja kami bukan tipe pemarah dan tidak anarkis kok...
    untuk itu dimohon jangan cuma berani kucing-kucingan, kayak main petak umpet aja...
    OK... Sob... trimakasih Matur nembah nuwun...
    Syukron Jazil...

    BalasHapus
  14. anang purworejo30 Maret 2011 18.00

    membaca kemen2 yang ada aku makin yakin:
    1. akan kehebatan langkah yang di tempuh oleh NU, dan
    2. semua yang komen itu adalah orang2 NU
    kenapa? nek ora NU kan ga' mau pake qawaid fiqhiyah, wong itu bukan qur'an hadits

    BalasHapus
  15. Bahjah numilang30 Maret 2011 18.49

    Hehe.... Sing pnting ngerti nk awake kucing drpda aufa mujtahid asal ktanya ijtihad tpi ga mau berijtihad wlau dlm bentuk kucing kucingan..hee . . (iki udu diskusi lo mung kucing meong)

    BalasHapus
  16. AUFA MUJTAHID (WONOSOBO JATENG)30 Maret 2011 19.17

    Buat ikhwan Bahjah Numilah, ucapan terimakasih setinggi-tingginya.... makasih sob... ide bagus tuh, ane demen comment anda... Jazakumullohu khoiran katsiroo...

    BalasHapus
  17. Bahjah Numilang31 Maret 2011 09.13

    Sayidah Ngaisyah RA ngendiko intine : Nabi akhlaquhul qur'an,jadi ekspresi appun dari Nabi adlh krna Akhlq beliau alqur'an,jganlah terjebak pda ekspresi2 Nabi hususny yg sunah tobi'i namun lihatlah akhlaq yg mendorong knp Nabi berekspresi khususny dlm sunah tobi'i adlh sep itu ... Ini yg perlu digaris bawahi dn dikaji krna disisi inilah trdapat jwbn knp Nabi memilih sep it,misal : kalo Nabi dahar beliau hany memakai 3 jari, knp pke 3 jari knp tdk pake 3 sumpit ad pesan akhlaq ap dibalik 3 jari trsbut dll inilah yg hrus dicari jwbny krna pasti nilai dibalik it bersifa yunifersal shingga tdk hrus brekspresi dg 3 jari misalny. Wallahu a'lam

    BalasHapus
  18. Anggie Aprilia Pecinta Gus Dur, Ponorogo, Jawa Timur31 Maret 2011 10.18

    "Kana akhlaquhu qur'anan"... renungkan taujihat (arahan) Gus Dur agar kita menjadi orang yang tidak hanya sekedar tahu (to know) tetapi juga menjadi orang yang mengerti (to understand) merupakan tausiyah yang sangat berharga untuk kita saling memahami dan menghargai antar komunitas bangsa dalam menjaga dan mengamalkan ajaran agama masing-masing... antara yang seiman, namun tidak seidiologi: lana a'maluna wa lakum a'malukum... antar yang berbeda agama, peganglah prinsip: lakum dinukum walyaddin... niscaya kita akan damai, jika tidak saling menghina, menjelekkan dan menyalahkan orang lain...monggo

    BalasHapus
  19. perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun perbedaan yang menjurus ke pertikaian adalah sesuatu yang salah. dalam menyikapi /menanggapi suatu persoalan, perlu diyakini bersama bahwa semua bersifat nisbi, relatif, karena yang muthlak benar hanyalah Allah, sehingga sangat tidak pas jika ada seseorang yang sangat lihai dalam megkapling2kan surga/neraka dan mengkafirkan atau memurtadkan muslim lain yang masih mengakui adanya Allah dan hari kiamat (dan rukun iman lainnya).
    Terkadang pula, kita memiliki rujukan yang sama, hanya saja, cara baca dan cara pemahaman kita yang berbeda, sehingga menghasilkan perbedaan pandangan-yang itu, menurut saya- wajar2 saja, asal tidak saling menghujat, disinilah dibutuhkan kedewasaan berfikir dan bersikap... Wallahu a'lam...

    BalasHapus
  20. Bahjah lgi santai31 Maret 2011 17.56

    Diatas kursiku ku memandangi Sore yang mendung lampu2 sentir2 satu persatu mulai berkelip nyala, menjadi kerlap kerlip, cahaya-cahayanya bersorak padang membentuk pesonany sndiri-sndiri membias dlm cakrawala keranjang langit yg mendung,aku duduk dg secangkir kopi tubruk dg ssekali menyisipkan sbatang rokok LA (lillahi ta'ala) ke mulutku.. fiuuh sambil memanjakan mataku memandang melirik anggunya cakrawala langit sore yg mendung..subhanallah ni'matnya..

    BalasHapus
  21. Bahjah Numilang1 April 2011 21.58

    Apa itu kebenaran nisbi ada - ada saja ...

    BalasHapus
  22. Wakhid santoso2 April 2011 11.21

    "setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan "
    WALLAHU A'LAM

    BalasHapus
  23. saudaraku bahjah yth. bukan mengada-ada, namun nyata adanya, suatu "kebenaran" yang saya yakini belum tentu sama dan sesuai dengan keyakinan tentang "kebenaran" yang anda yakini, saya mengatakan bahwa "A" adalah benar, tidak tertutup kemungkinan anda mengatakan bahwa "A" adalah salah dan "B" yang benar.. inilah kebenaran relatif yang melekat pada manusia..itu bisa anda dapatkan dalam penafsiran para ulama' tentang suatu ayat, atau perbedaan pendapat dalam tradisi fiqih, yang Mutlaq benar hanyalah Allah, Dia Yang Maha Haq dengan segala firman-Nya, selain itu, penafsiran atas firman Allah adalah nisbi dan relatif adanya...
    itulah mengapa Hadratul kiram Gus Dur menulis sebuah artikel-yang kemudian dijadikan judul sebuah buku-: Islamku, Islam anda, Islam kita, itu nmenunjukkan kerelatifan pendapat dan pemahaman masing2 orang dalam memahami (atau taqlid dan ittiba' ulama) terhadap pesan-pesan Tuhan dalam firmanNya.. Wallahu a'lamu

    BalasHapus
  24. Bahjah numilang12 April 2011 23.08

    Akhinal kirom alkabir @Edi Rohani, apapun bila diperbandingkan dg Allah jelas Allah lah yg muthlaq benarNy. Namun apkah it cara berfikir yg mutlaq benarny ? Pasti ad cara berfikir lain yg paling pas yg tanpa memperbandingkan antara kebenaran yg mutlaq dg kebenaran yg nisbi atau membandingkan kbenaran nisbi dg kebenaran nisbi yg lainya dg menggnakan penilaian A salah dn B benar at sbliknya.dan cara berfikir yg tanpa mengurangi kemutlakan Allah,karna sy yaqin yg dikehendaki oleh Sunan Gus Dur tidak sep cara fikir diatas it ? Krna (menurut sy) inti pesan dri karya Sunan Gus Dur "islamku islam anda dn islam kita" adlah justru mempersatukan antara kebenaran nisbi dg kebenaran nisbi yg lainya dlm keyakinan Allah lah yg mutlaq benarNy dn manusia tempatny salah,shingga dhrapkn cara berfikir ini akn berimplikasi kpd saling menghormatiny anara pemilik kebenaran nisbi dg kbmaran nisbi yg lainya dg bersama2 meyaqini Allah yg maha segalanya dn Dialah yg mutlaq benarny.wallahu a'lam.

    BalasHapus
  25. Om bahjah yang: sampean itu ya lucu, komentar sebelumnya mempertanyakan tentang kebenaran nisbi dg ungkapan yang (menurut saya) "sinis", (Apa itu kebenaran nisbi ada - ada saja ...). ungkapan ini menurut saya mempertanyakan sekaligus menafikan, e..e... pada komentar selanjutnya, anda "mengakui" adanya kebenaran nisbi.... sebagai pembanding mungkin, "Islamku", dalam padangan GD adalah islam yang dipikirkan dan dialaminya, yang merupakan islam yang khas, ini merupakan rentetan pengalaman pribadi yang perlu diketahui oleh orang lain, tetapi tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. "Islam anda" lebih merupakan apresiasi dan refleksi terhadap ritual keagamaan yang berlaku dimasyarakat, sebuah "kebenaran" yang harus diyakini karena berangkat dari keyakinan, bukan pengalaman, sementara "Islam kita" lebih merupakan deriviasi dari keprihatinan seseorang terhadap masa depan islam dan kaum muslimin. visi tentang "Islam kita" menyangkut konsep integratif yang mencakup "islamku" dan "islam anda" untuk "melebur" dalam "islam kita" yang saling menghargai dan memahami serta tidak memaksakan "islamku" sebagai tawaran wacananya, namun diperlukan dialog unt menyatukannya... mekaten, nuwun

    BalasHapus
  26. Bahjah numilang14 April 2011 08.48

    Sjujurny sy blm membaca artikel GD trsbt,coba anda jelaskn dlm bntk contoh kongkrit yg ad di masyarkat kita, cntoh "islam sya" dn "islam anda " dn konfigurasi macam ap yg dkhndaki dri "islam kita" sbgai sbuah wacana. . . Monggo ... ?

    BalasHapus
  27. baca aja mas, buku gus dur terbitan the WAHID Institute jakarta (cer.I 2007) kalau belum punya bisa dibeli di Toko Buku delapan TWI Jakarta, unt pemesanan dapat dilihat di web gusdur.net.. bersama gus dur presiden Indonesia, kita rajut benang kebhinekaaan....

    BalasHapus
  28. Sambodo Dawwala,14 April 2011 22.08

    pak bahjah, sebelum berkomentar apalagi manafsirkan, baca dan fahami dulu ya, boar ga salah persepsi dan pemahaman... pak edi rohani, tu diberikan contoh biar jelas... bu ida: jualan ya...hehehe

    BalasHapus
  29. Bahjah numilang14 April 2011 23.15

    Trimakasih untk semua ats arahanya dn mf atas kecrobohan sy dn ktidaktahuan sy,sjjrny sy udah lama brhenti baca2 buku krna alasn trtentu,dn skrang sy lg mulai latihan membaca lingkungan khsusny dirisndiri dn sy lebih suka dijelaskan oleh orang dripda membaca sndiri (buku) krna it lbih mengena dn falid dn memenuhi syarat rkunya jdi sudilah untk menjelaskan . . Monggo . . Sinten mawon hssny pk edi ?

    BalasHapus
  30. Unt.Sahabat bilal: membaca diri sendiri dan lingkungan itu lebih penting, apalah arti pengetahuan luas, tetapi "berkesadaran diri" rendah?... apalah artinya segudang buku dilahap, namun angkuh terhadap sesama?... tiadalah berarti pengetahuan banyak dibarengi dengan sikap yang tidak baik, suka mencela dan menghinakan yg lain....mekaten mas bilal adik seperguruan....

    BalasHapus
  31. Hehe2 . . . Njih leres nku,mso njnengan ra faham trik2 ku olehe diskusi,semua it dri awal smpai skarang hnya trik agar posting ini bnyk yg tertarik dsmping it agr njnengan trtantang membagi2 pengalaman anda yg kya'nya sdh bnyk pngalaman dll,tpi ya maaf klo sy berlbihan mf 300x.nuwun

    BalasHapus
  32. Bahjah numilang17 April 2011 18.26

    Fiqih adlah hukum2 amaliyah yg brsumbrkan dalil2 al quran/hadis yg brsifat dhoniy smentara syariat adlh yg brsmbrkn dalil2 yg qotngiy untk yg trahir ini tdk boleh diutak utik krna bisa keluar dri ijma' /ahlul jama'ah bgian tk trpisahkan (integratif) untk menjadi ahlisunah wal jama'ah (ASWAJA). Wallah a'lm

    BalasHapus
  33. bilal: hahaha... Jayyid jiddan!... tapi aku sempat terkecoh awakmu...

    BalasHapus
  34. Justru sy nyesel mmbukak trik sy tpi nasi udh jdi bbur ga po2 . . Wlaupun bisa jdi pngkuan sy itlah trik sy yg sbnarny bru dmulai he . . .

    BalasHapus
  35. jian cah mbulus do pinter2 nulis yo.... buat lembaga penerbitan akja ben memberdayakan...

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.