20.14
2
Edi Rohani (berkacamata) dan Nurul Fala narasumber talkshow soal remaja
Remaja adalah pelaku sekaligus korban dalam kasus kenakalan remaja. Menghadapinya tidak harus dengan menyalahkan. Perlu kombinasi langkah, media dan aktor dalam menghadapinya. Demikian intisari pernyataan Edi Rohani, MS, Alumnus Pesantren Al-Iman Purworejo yang juga Ketua PC. IPNU (Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Kabupaten Wonosobo dan Direktur eksekutif eL-KLIM (Lembaga Kajian dan Layanan Informasi Masyarakat) Wonosobo dalam talkshow di Radio Fast 96.4 FM Magelang, Kamis (6/9/2007). Ia juga menanggapi pertanyaan pendengar pada acara yang digelar the WAHID Institute, Pesantren API Tegalrejo Magelang dan Radio Fast FM Magelang itu. Berikut petikannya:
Guntur (G):Mengapa remaja kita cenderung terjerumus pada hal negatif?”
Edi Rohani (ER): ”Remaja merupakan masa labil emosi. Pada usia ini, mereka sedang berupaya mencari-cari identitas diri. Kadang diekspresikan dengan ingin menjadi “wah” yang kadang negatif. Tapi kita tidak boleh kaku dan hanya menyalahkan remaja. Karena remaja adalah pelaku sekaligus korban yang perlu kita selamatkan, tanpa harus disalahkan. Ada jaring emosional sensitif yang untuk merajutnya perlu keteladanan”.
G:Jadi apa yang harus dilakukan?”
ER:Pertama, menanamkan pendidikan agama sejak dini sebagai kontrol. Dalam ajaran agama disebutkan, Kullu mauludin yuladu `ala al-fithrah (Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci). Makanya setiap bayi yang baru lahir selalu diperdengarkan adzan dan iqomah sebagai pondasi spiritualitas keberagamaan. Menjadi tanggungjawab orang tua untuk melukis karakter anak yang pada hakekatnya suci. Dengan kesadaran keberagamaan, dalam arti takwa — kita merasa selalu diawasi Tuhan di manapun — maka kita tidak akan berani berbuat neko- neko, yang dilarang atau yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan sosial. Ittaqillaha haitsuma kunta (Bertakwalah di manapun kamu berada). Kedua, pendidikan umum. Ada kesan, pendidikan pesantren vis a vis pendidikan umum. Padahal, ada kekhasan masing- masing yang saling melengkapi. Pesantren itu pendidikan kearah ‘ubudiyyah (peribadatan, red.), sedang sekolah umum mengacu pada hal-hal duniawiyah (dunia, red.). Bahkan hingga kini sebagian kalangan pesantren mengatakan, “untuk apa sih belajar matematika, jika toh malaikat tidak bertanya soal itu”. Padahal kita tahu, penemu aljabar, astronomi maupun pelopor dunia kedokteran adalah orang Islam. Mengapa kita tidak bisa belajar dari mereka? Itu kan sangat ironis. Tugas kita adalah menghilangkan dikotomi pesantren dan sekolah umum itu, sehingga kita bisa berhasil di masa depan”.
Dialog dan Tanggapan Melalui Telephon dan Sms
Bondis di Wonosobo:Bagaimana cara efektif menyelamatkan remaja-remaja kita?”
ER: ”Faktor terpenting adalah memupuk kesadaran pribadi masing-masing. Meskipun para ulama, polisi dan lain sebagainya menghimbau, tanpa kesadaran pribadi semuanya sia-sia. Keikutsertaan mereka pada organisasi yang positif dapat menjadi kontrol labilnya emosi mereka dan kontrol bagi berbagai perilaku menyimpang. Jadi, bagi remaja yang masih sekolah, efektifkan organisasi- organisasi intra sekolah untuk mengembangkan diri dan mengasah bakat terpendam dalam berbagai bidang yang positif. Ini berguna untuk masa depan. Kadang pihak sekolah memang ‘kaku’ dengan tidak mendukung kegiatan siswa, karena dianggap sebagai perlawanan. Tapi remaja harus bisa menunjukkan diri dengan karya positif, bukan menentang dengan arogansi keremajaannya. Ini memang dilematis, tapi konsisten membangun potensi diri harus tetap dilakukan”.
Saiful di Purworejo: ”Bagaimana organisasi meminimalkan kenakalan remaja?”
ER: ”Organisasi itu penting sebagai wahana mengembangkan diri secara efektif. Ketika Orde reformasi terbuka, maka dibutuhkan berbagai organisasi yang lebih inovatif. Bahkan kita bisa mengikuti beberapa organisasi ekstra atau organisasi pemuda untuk lebih menggali kemampuan dan potensi diri. Jadi, berorganisasi tidak bisa hanya mengandalkan OSIS. Di dalam organisasi, kita akan mengenal leadership, etos kerja dan sebagainya. Kita juga dilatih hidup dalam komunitas dan menyelesaikan persoalan yang ada didalamnya. Dari organisasi ini, otomatis pelajar atau remaja mendapat pembelajaran hidup bermasyarakat. Di kalangan pesantren yang masihmenekankan sami`na wa atho’na, pendidikan berorganisasi dan berdemokrasi masih sangat minim. Tentunya tidak demikian dengan Pesantren API Tegalrejo atau pesantren lain yang moderat. Karenanya, sangat penting melatih diri dan mengarahkan remaja berorganisasi untuk menyalurkan potensi dan bakat-bakat “liar” remaja dalam arti positif”.
Maftuhin di Temanggung:Bagaimana idealisme gerakan muda jika dihadapkan pada urusan perut?”
ER: ”Ini selalu menimbulkan kegagapan. Selama ini, teman-teman aktivis selalu menekankan pada kesepakatan-kesepakatan komunitas dan mengesampingkan urusan keluarga, bahkan pribadinya. Ini koreksi bagi kita yang keasyikan mengabdi pada masyarakat; bahwa urusan perut itu hajat pokok yang harus terselesaikan lebih dulu. Secara pribadi, persoalan ini menjadi momok. Namun kita harus selalu optimis. Ada jaminan Tuhan, kalau kita mengurusi orang lain, Tuhan akan mengurus kita”.
“Memang betul, ajaran agama mengatakan, Tuhan akan selalu mengurus orang-orang yang ikhlas mengurus orang lain. Namun kesadaran bahwa rizki diatur Tuhan, ini harus disertai usaha sungguh-sungguh dan manajerial yang proporsional dan profesional, sehingga seimbang antara kepentingan pribadi dan kewajiban berbagi”.
G:Sebelum diakhiri, ada yang ingin disampaikan?”
ER: “Sebisa mungkin hindari apapun yang bermakna coba coba. Lakukan yang jelas ada manfaatnya. Bergabunglah dalam organisasi untuk menyalurkan hobi dan bakat secara positif. Sebatas pengingat, kita harus bisa mempertanggungjawabkan amanah Tuhan melalui kegiatan positif. Jangan sampai tersaruk pada penyimpangan dan kenakalan yang merugikan kita sekarang dan di kemudian hari, Sekian dan terima kasih”
_____________________
Keterangan:
*) Talkshow dipandu oleh Guntur (penyiar senior Radio Fast FM Magelang) dan dimuat oleh Jawa Pos Radar Jogja, Edisi 10 September 2007. bisa diakses di:  http://www.wahidinstitute.org/indonesia/images/stories/Sisipan/radaryogya-iii.pdf)
**) Suplemen ini terbit atas kerjasama The Wahid Institute dan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang.
Redaktur Ahli: KH Yusuf Chudlori, Yenny Zannuba Wahid, Ahmad Suaedy; Sidang Redaksi: Ahmad Suaedy, Rumadi, Abd. Moqsith Ghazali, Gamal Ferdhi, M. Subhi Azhari, Nurul H. Maarif, Nurun Nisa; Kontributor: M. Achadi, Kholilul Rohman Ahmad, Arif Hidayat;
Kontak Redaksi: Jln. Taman Amir Hamzah 8 Jakarta - 10320.
Email: info@wahidinstitute.org; Website:www.wahidinstitute.org
 

2 komentar:

  1. ini memang tantangan buat kita bersama. mengapa? karena saat ini semua sudah tersuguhkan di depan mata. dan kecenderungan sebagian remaja memilih suguhan2 yang dapat "memuaskan" dalam jangka pendek. sementara dari kalangan pesantren lebih banyak mengedepankan bahasa fiqh (halal n haram) tanpa mendekati psykologi remaja

    BalasHapus
  2. Yups!... Remaja, kata para psikolog adalah masa dimana mencari "identitas diri", dan "jati diri" sehingga mereka sering nge-gank, berkelompok dll dengan teman sebaya yang punya "visi" dan hobi yang sama. mereka banyak yang menyalurkanya lewat organisasi remaja,organisasi sekolah, remaja masjid dll, namun banyak pula yang berkumpul dalam kelompok-kelompok negatif, punk, tak jarang pula terlibat dalam pergaulan bebas (termasuk narkoba dan free sex di dalamnya). ini adalah fenomena yang sudah tidak asing lagi disekitar kita. pertanyannya kemudian: seratus persen salahkan mereka?..dan tanggungjawab siapa untuk "mengembalikan" mereka yang jadi korban budaya Barat tsb ke jalan yang 'benar'?... dua pertanyaan ini harus kita jawab dengan jujur bahwa: mereka tidak dapat sepenuhnya dipersalahkan!!... dan adalah tugas kita bersama untuk mengajak mereka "insaf" dengan cara kita dekati dengan penuh simpati dan kasih sayang, bukan dengan cemoohan dan kebencian, agar mereka luluh unt mentas dari "dunia hitam", atau dalam ungkapan lain, kita ("yang sadar" hehe..) harus bisa merangkul dan mendekati mereka dengan "masuk melalui mereka, keluar melalui pintu kita"... artinya kita srawungi mereka untuk kita ajak ngobrol dari hati ke hati sebgaimana yang dilakukan oleh (alm) Gus Miek, Pendiri Jamaah Dzikrul Ghafilien dan Majlis Semaan al-Qur'an. Gus Miek biasa keluar masuk bar, tempat pelacuran dan diskotik, bergaul dengan para germo, PSK,gigolo, preman dsb tapi dengan sebuah tujuan yang mulia: menyadarkan mereka!. Subhanallah!, seandainya para kyai dan ulama' bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Gus Miek,dan memandang segala sesuatu tidak hanya dari sudut pandang fiqih yang hitam-putih, niscaya banyak dari para remaja yang "tersesat" kemudian tersadarkan karena simpatik atas dakwah yang disampaikan!. nulise gampang, nglakonine sek susah, bukan?..hehe... Wallahu Musta'an...

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.