19.05
11

Oleh: Rohani *)

SELAMA bertahun-tahun bahkan berabad-abad wacana Islam selalu diwarnai dengan pertentangan antara dua kubu: kubu (yang mengklaim) “islam murni” atau islam ortodok vis a vis kubu “islam nggak murni” (biasa disebut islam sinkretis atau islam heterodoks). Pertentangan ini tidak sebatas wacana atau perdebatan intelektual saja, tetapi –dan ini yang paling tragis- saling menghujat, memurtadkan dan mengkafirkan (Sumanto al-Qurtubi: 2002). Kita tahu dalam sejarah keislaman, bahwa islam “nggak murni”-lah yang selalu menjadi tumbal kekenesan “islam (sok) murni”. Sejak Ibn Manshur al-Hallaj, Ibn al-Arabi, Hamzah Fansuri, Syaikh Abd al-Jalil (Siti Jenar), Kyai Mutamakin dan las but not least Gus Dur (dan jamaah NU-nya). Mereka-mereka adalah para “pejuang” tradisi falasifah yang pandangan-pandangan dan amaliyah ibadahnya selalu dicibir, diolok-olok, dicaci dengan istilah terkena penyakit TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat) dll oleh oknum-oknum (sengaja digunakan kata “oknum” karena tidak semua pemeluk “islam-sok-murni berpandangan serupa) penyokong salafiyah yang dengan genitnya mengaku sebagai pewaris Islam yang otentik.
Dalam sejarah Islam klasik, penyokong “islam murni” ini dilakukan oleh kelompok Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Abd Wahhab, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, sampai Kaum Padri di Minangkabau. Pada tahun 1912-an, Muhammadiyah –sebagai pengembang “islam murni” di Indonesia- menghujat habis-habisan kaum tradisionalis sebagai kaum sarungan, islam mistik, islam klenik, pecinta kuburan, gemar tahlil, hobi istighatsah dan cibiran lainnya, yang kesemuanya dianggap bid’ah karena sesat menyesatkan (Greg Barton: 1999). Bahkan hujatan-hujatan ini masih terasa sampai saat ini.
Perlu dicatat, bahwa dalam pandangan “islam murni”, Islam yang benar adalah Islam yang ada di Timur Tengah dengan varian syariat Islam-nya (walaupun masih dipertanyakan “syariat” yang mana?) dan karenanya pemahaman islam yang membumi adalah salah dan sesat (Sumanto AQ: 2002). Sebenarnya tidak ada yang salah dalam mengekspresikan keberagama-an atau keislaman seseorang, tetapi yang menjadi masalah adalah menggunakan ekspresi ke-arab-an sebagai ekspresi dan tafsir tunggal dan dianggap paling absah dalam beragama dan berkebudayaan. Dalam konteks Indonesia, Islam yang baik adalah Islam yang memahami kebutuhan-kebutuhan masyarakat Indonesia dan dapat memecahkan problem-problem nyata yang dihadapi umat dan tantangan didepannya, atau Islam yang membumi yang dapat mengawinkan antara tradisi lokal dengan keyakinan agama –meminjam istilah Gus Dur – Pribumisasi Islam (Abdurrahman Wahid: 1999).
Islam bukan agama instan
Islam bukanlah agama yang sekali jadi (instan) atau dengan kata lain, Islam tidak lahir dari ruang dan lembar kosong. Al-Qur’an, misalya, meskipun diyakini sebagai Firman Tuhan (Kalam Allah) Yang Maha Gaib, kenyataannya kalam Tuhan tersebut telah memasuki wilayah historis (Nasr Hamid Abu Zyad: 2002). Pertama, Tuhan telah memilih bahasa manusia (bahasa Arab) sebagai kode komunikasi antara Allah dengan nabi Muhammad SAW; Kedua, keterlibatan Kanjeng Nabi sebagai penerima pesan disatu sisi dan sebagai penafsir di sisi yang lain, ikut menentukan proses sosial pengajaran dan tekstualisasi al-Qur’an; Ketiga, sejak turunnya, al-Qur’an telah berdialog dengan realitas (dibuktikan dengan asbab al-nuzūl), banyak sekali peristiwa yang mengiringi turunnya sebuah ayat dan yang merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ummat waktu itu (KH. Dr. Muchotob Hamzah: 2003), dan; Keempat, kalam Tuhan tersebut telah direkam dalam bentuk catatan atau teks (pelepah kurma, tulang belulang dan mushaf) (Subhi Shalih:tt).
Dengan kata lain, al-Qur’an dapat dikatakan sebagai “produk budaya” (al-muntaj al-tsaqafi). Ini berarti tidak semua doktrin dan pemahaman agama dapat berlaku sepanjang zaman dan tempat, mengingat gagasan universal Islam telah mengambil dan dibentuk oleh locus bahasa dan budaya Arab yang bersifat relatif, berdimensi lokal dan partikular. Karena itu dapat dipahami pula dari zaman ke zaman selalu muncul ulama-ulama tafsir yang berusaha mengaktualkan pesan al-Qur’an dan tataran tradisi keislaman yang tidak mengenal batas akhir (M. Imdadun Rahmat: 2003).
Pun, demikian dalam produk fiqih, fiqih tidak lahir dari ruang hampa, ia tidak ada tanpa adanya situasi dan kondisi yang melingkupinya, sehingga dalam tradisi syafi’iyyah dikenal adanya qaul qadim dan qaul jadid, ini menandakan bahwa keputusan hukum akan berubah sesuai perubahan situasi dan kondisi, taghayyur al-ahkām bi taghayyur al-amkinah wa al-ahwāl wa al-azminah (Jalal al-Din al-Suyuti: tt), karena yang terpenting dari semua produk fiqih adalah kemaslahatan yang dalam bahasanya Abdullahi Ahmed an-Naim disebutkan “al-ahkāam masyru’at li mashalih al-ibad” atau putusan-putusan hukum diundangkan demi kemaslahatan hamba/manusia (A.A. An-Naim: 2001), sesuai dengan misi universal islam: rahmatan lil ‘alamin.
Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa fiqih selalu mempertimbangkan aspek sosial, budaya, letak geografi dan bangunan sosiologis manusia, fiqih adalah produk seorang mujtahid yang mencurahkan segala daya untuk memecahkan sebuah masalah. Hasil dalam sebuah kerja ijtihad tidak selamanya ‘benar’ namun juga ada kekurangtepatannya. Dan ini-pun dijamin oleh sebuah hadits; jika benar mendapatkan dua pahala, namun bila salah ia mendapat satu pahala, yaitu pahala ijtihadnya.
Akhiran
Adalah kurang tepat apabila “islam murni” memandang bahwa satu-satunya “islam” yang benar dan diridhoi Tuhan adalah islam yang saruju’ dengan Timur Tengah (dengan jubah dan jenggotnya), karena islam adalah agama untuk seluruh umat manusia (yang mau beriman) dan tentunya berbeda tradisi, budaya dan sebagainya.  Peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam di nusantara (baca: Jawa) dengan akulturasi atau mendialogkan Islam dan budaya merupakan bentuk keislaman yang membumi, indah dan eksotik yang tidak dapat dilupakan oleh siapapun yang mengaku ‘islam’ di Indonesia ini.
Jika penafsiran tentang Islam langsung merujuk pada al-Qur’an dan hadits, jangan-jangan justeru akan terjebak pada pemahaman yang salah karena kurang –untuk tidak mengatakan tidak- menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan penafsiran al-Qur’an, pun sebaliknya jika hanya berpedoman dan berpatok dengan satu penafsiran, jangan-jangan terjebak pada pensakralan hasil pemikiran islam, taqdis al-afkar al-Islami. Dengan demikian, ber-Islam secara lentur, fleksibel dan elegan dengan berpedoman pada tasamuh (toleransi), i’tidal (adil dalam menilai dan berbuat), tawasuth (moderat dalam pikiran dan tindakan), tawazun (seimbang) dan amar ma’ruf nahi munkar serta tidak ekstrim (adam al-thatharruf) baik kiri maupun kanan adalah sebuah pilihan bijak NU, bukan?


*)Rohani, Alumnus Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Al-Iman Purworejo; Ketua Deputi Pendidikan dan Pengkaderan Serikat Petani Kedu Banyumas (SEPKUBA) (2003-2007)
**) Sumber tulisan: Buletin FoDKA, Edisi 7/Th.III/Juni 2004

11 komentar:

  1. hanya beberapa hal yang tak kan mengalami perubahan. seperti shalat, puasa, haji. sedang untuk banyak hal, terutama yang bersangkutan mu'amalah sangat dimungkinkan adanya perubahan2 sikap dan itu diakui oleh agama.

    BalasHapus
  2. Indonesiakan islam NO islamkan indonesia

    BalasHapus
  3. pak anang: kata KH. Hasyim Muzadi__ ada tiga hal dalam agama Islam yang tidak boleh direko doyo: Gusti Allah, Kenabian Muhammad dan Kitab Suci al-Qur'an. itu harga mati. masalah furu' menyesuaikan aja.... hehe..
    Den mas agus: wah, PMII tenan nak ngene iki..wkwkwk

    BalasHapus
  4. sangat menarik sekali artikelnya, saya sungguh mendapat pencerahan dari artikel ini...
    bisakah menyempatkan waktu berkunjung ke sini...
    http://cinta-syamsudin.blogspot.com/search/label/KEISLAMAN

    BalasHapus
  5. Alangkah baiknya jika judulnya diganti...

    BalasHapus
  6. Al ngibroh bingumumillafdi la bihususissabab

    BalasHapus
  7. ajaran islam mengandung nilai2 kemanusiaan yg universal...menghormati manusia,cinta dan kasih...itulah yg harus kita jadikan prinsip hidup...karena isi al quran jg padat dengan pesan2 moral....

    BalasHapus
  8. Bahjah numilang24 April 2011 08.00

    @Sofyan- memang benar al qur'an mengandung nilai2 kemanusiaan yg universal namun apbila manusia sdah tdk manusiawi lgi mka al qur'an akn dianggap tdk manusiawi lgi bkn ? Nangudzubillah

    BalasHapus
  9. memahami al-ibarah biumumillafdzi la bikhususis sabab atau lebaliknya al-ibarah bikhususis sabab la biumumillafdzi adalah sebuah pekerjaan yg tdak boleh dilakukan dg serampangan, harus bisa memahami antara dalil- madlul, atau tanda - tinanda sesuai dg kaidah yang berlaku.
    Islam memuat nilai universal yang humanis, nilai2 tsb tidak akan dapat "menyejahterakan" umat manusia kalau dalama memahami semua Petunjuk Tuhan dgn cara yang kurang tepat.. juga harus dipahami bersama bahwa Allah ta'ala mengajarkan rahmat dan kedamaian lewat "islam" (damai)yang dibawa Muhammad saw. hanya pribadi yg congkak dan aroganlah yang suka mengebiri hak-hak Tuhan di muka bumi ini dgn menyalahkan, memurtadkan bahkan mengkafirkan kayakinan umat (islam) lainnya yg kebetulan berbeda dalam memahami Firman Tuhan tersebut. mari kita kembangkan islam yg RAMAH, bukan Islam yg MARAH!... @Salam: Gus Durian Wonosobo, Garda NUsantara Teritori Wonosobo

    BalasHapus
  10. SAAT Umat Islam Memukul SEMUA BERITA / MEDIA CETAK, ELEKTRONIK, ONLINE MELIPUT!!!!

    Tapi Saat Umat Islam di Bunuh???

    NJEGIDEK (DIAM) SEMUA / MENUTUP-NUTUPI!!!!

    BalasHapus
  11. jare sopo mas?.... membunuh dan dibunuh mesti ada sebab musababnya... dibunuh karena apa itu?

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.