12.28
8
Oleh: Muhammad Arwani *)

Ada teman guru MAN, sedang mengawasi Ujian Madrasah di salah satu MA swasta di sebuah pesantren di Purworejo, sms ke saya,"Pak, saya bangga sekaligus prihatin. Bangga karena anak-anak MAN masih jauh lebih baik dari sisi moralitas dari pada di sekolah ini. Prihatin karena melihat anak-anak MTs/MA kondisi moralitasnya seperti itu, di pesantren lagi".
SMS tadi membuat sontak batin saya. Benarkah demikian kenyataannya? Pertama, saya masih meragukan pengamatan teman guru tadi. Dia, barangkali, melihatnya sepintas saja pada  saat mengawasi Ujian. Di samping itu, si teman tadi bukan alumnus pesantren. Bisa saja dia salah faham menyikapi tingkah laku anak. Atau, dia sudah punya anggapan awal atau presupposition terhadap santri dan pesantren. Kedua, Bisa saja pengamatan guru tadi benar. Bila dilihat dari sisi personal, dia cukup kapabel dalam menganalisa tingkah laku seseorang, karena kawan saya tadi adalah alumni UGM jurusan psikology dan Guru BP. Maka, ada alasan saya untuk meyakini analisanya.
Kalau pengamatan teman guru tadi benar, maka kita semestinya amat prihatin. Sebagai santri Pesantren, hati kita teriris. Ada rasa tidak rela meski di satu sisi bisa jadi kita mengakui kenyataan itu.
Saya kemudian mencoba menghubungkan cerita kawan tadi dengan beberapa peristiwa yang saya alami. Beberapa waktu yang lalu, saya terkejut dengan hasil Ujian madrasah di Purworejo. Untuk maple Agama Islam dan Bahasa Arab, nilai antara MAN dengan MA swasta  Pesantren di Purworejo, tidak ada bedanya. Bila kita percaya akan hasil ujian tadi, sekali lagi bila kita percaya, maka kita bisa simpulkan sementara bahwa kualitas mata pelajaran Agama Islam dan Bahasa Arab antara MAN dan MA Pesantren tidak ada bedanya. Kejadian itu berulang setiap tahun. Sudah 3 tahun ini hasilnya tetap sama; tidak ada perbedaan nilai Agama Islam dan bahasa Arab antara siswa MAN dengan MA Pesantren. Saat itu, saya masih mencoba membela diri. Pengalaman saya sekolah dulu, materi pelajaran yang disampaikan oleh guru terkadang tidak sesuai dengan Kurikulum, sehingga ketika tes, saya dan kawan-kawan kesulitan mengerjakan soal. Tapi tu dulu. Apa saat ini juga sama? Saya tidak tahu persis. Idealnya sudah berbeda. Fenomena ini rupanya juga ditangkap oleh Ust. Hasan saat memberikan sambutan pembentukan Panitia Haflah beberapa waktu lalu. Beliau mengkhawatirkan, lebih tepatnya “duko” dan tidak bisa menerima kenyataan apabila nila agama dan bahasa Arab siswa MA Pesantren sama dengan siswa MAN. Saya agak menduga, jangan-jangan beliau memang sudah tahu data tersebut.
Peristiwa kedua yang patut kita renungkan adalah tertangkap basahnya santri beberapa waktu yang lalu sedang berduaan di warnet. Kita tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam warnet. Akan tetapi, sebagai santri, saya kira hati kita tidak bisa menerima dan membenarkan tingkah laku tersebut. Yang lainnya adalah trend berpakaian siswi MA Pesantren akhir-akhir ini menunjukkan gejala negative. Siswi sudah terbiasa menggunakan baju-baju ketat. Bila zaman saya dulu siswi memakai baju ukuran L dan XL, sekarang mereka menggunakan baju-baju berukuran M dan S. Disamping ketat, baju mereka juga tidak sampai menutup pantat. Belum lagi rok mereka yang menyapu tanah, tanpa menghiraukan kesuciannya.
Bila kita kaitkan peristiwa-peristiwa yang saya alami tadi, maka saya kemudian cenderung membenarkan pengamatan kawan saya tadi. Barangkali dia memang benar dan kita pantas menghela nafas prihatin. Bukan saja sisi akademis yang memprihatinkan, moralitas pun sudah sedemikian membuat kita mengelus dada.

So, mengapa semua bisa terjadi…

Pertama, dari sisi akademis, barangkali memang pesantren agak terlambat di dalam mengantisipasi perubahan-perubahan kurikulum dan pendekatan pembelajaran.  Sering terjadi, guru guru tidak faham terhadap perubahan kurikulum dan metode pembelajaran yang sedang berlaku saat ini. Hal ini diperparah dengan “keengganan” guru untuk mencari tahu perubahan-perubahan tersebut. Alasan klise sering terlontar; “tidak sempat”, “terlalu sibuk”, “tidak ada waktu dan biaya” dan sebagainya. Semestinya itu tidak terjadi. Fasilitas, kemudahan akses dan kesempatan terbuka banyak apabila kemauan ada. Saya sangat khawatir justru yang terakhir yang terjadi. Kemauan untuk belajar dan belajar sudah tidak ada. Bagaimana akan mendorong siswa mau belajar bila guru tidak belajar.

Kedua, sisi moralitas. Apa yang sedang terjadi dengan pesantren saat ini? Pesantren saat ini gagap di dalam mengikuti arus perubahan masyarakat yang sedemikian cepat. Pesantren, yang dalam beberapa hal cenderung tertutup, terlambat di dalam memahami perubahan pola pikir dan kebutuhan masyarakat. Keterlambatan ini kemudian menyebabkan terlambatnya penentuan-penentuan strategi pesantren di dalam mengeliminir dampak negative yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan tersebut. Pesantren, yang bersifat open-for-all education institution, di mana tidak terdapat seleksi calon santri membawa konskuensi input yang sangat beragam, bahkan terkadang harus menerima santri “bermasalah”. Masyarakat sendiri pun sudah terpola demikain. Anak-anak yang baik dan pintar tidak akan mereka masukkan ke pesantren, tetapi ke sekolah-sekolah favorit. Sebaliknya anak-anak bermasalah akan mereka masukkan ke pesantren, sehingga pesantren menjadi “bengkel” ketok magic untuk anak-anak mereka. Dengan beban sedemikian berat, pesantren juga terlambat di dalam mengadopsi pendekatan-pendekatan baru di dalam membimbing santri. Hukuman fisik dan kekerasan yang menurut teori pendidikan modern sudah tidak layak digunakan masih sering dijumpai di lingkungan pesantren. Fungsi pembimbingan tidak berjalan semestinya. Dan saya berani memastikan, masih jarang, untuk tidak mengatakan tidak ada, pesantren yang mempunyai atau setidaknya melibatkan guru pembimbing dan psikolog di dalam membimbing dan membina para santri.
Perubahan pola masyarakat juga ternyata mempengaruhi pola pikir penyelenggara pesantren. Pola pikir masyarakat yang cenderung pada materialistis juga merembes ke dunia pesantren yang selama ini dikenal “steril”. Penggajian guru, kepanitian dan sebagainya menimbulkan permasalahan sendiri bagi penyelenggara pesantren. Hitungan jam kerja seperti layaknya di kantor-kantor sekarang bukan lagi barang asing di pesantren. Pengabdian (khidmah), yang menjadi khas di Pesantren, kini berubah menjadi kerja hitungan jam dan dengan demikian terdapat perhitungan. Saya tidak berpretensi agar guru-guru di pesantren tidak digaji. Bisyaroh (gaji) tetap penting dan mesti diperhatikan untuk mengingkatkan kesejahteraan penyelenggara pendidikan. Akan tetapi, apabila orientasi material sudah menjadi yang utama, maka kehancuran pesantren tinggal menunggu saat saja. Akumulasi persoalan-persoalan inilah yang saya kira menjadi salah satu dari sekian banyak factor yang mempengaruhi menurunnya moralitas santri, seperti yang dikeluhkan kawan guru di atas.

Next..apa yang mesti dilakukan..

NU sudah punya landasan pikir jitu di dalam mengantisipasi perubahan zaman. “Al Muhafadhah ‘ala al Qadim as Shalih wa al Akhdzu bil jadid al ashlah”. Pesantren perlu kembali ke jatidiri sebagai lembaga pendidikan berbasis cultural. Pesantren juga dikenal baik di dalam menanamkan nilai-nilai moral dengan cara yang efektif, yakni dengan uswah. Pengelola pesantren hanya perlu mempertahankan itu. Uswah mesti ditegakkan, dimulai dari pimpinan, guru dan santri senior. Tidak perlu muluk-muluk dengan strategi ini itu yang belum tentu pas dengan budaya pesantren. Sembari mengadopsi model-model pembelajaran modern untuk meningkatkan kualitas akademis santri, mempertahankan tradisi ikhlash, budaya membaca dan musyawarah, menanamkan jiwa kejuangan dan siap hidup dalam kondisi apapun, saya kira, cukup efektif untuk membentuk santri-santri bermoral baik dan siap berjuang di jalan kebenaran.. Amin..

*) Alumni Al Iman tahun 1994, kini mengajar di MAN Purworejo

8 komentar:

  1. ada beberapa yang perlu saya sampaikan :
    1. semoga bukan almamater di mana saya dibesarkan, karena kalau terjadi di almamaterku, aku ikut malu.
    2. pergeseran dari khidmah menuju ujroh adalah langkah mundur kejebur sumur. NA'UDZU BILLAH MIN DZALIK.
    3. uswah harus slalu dan senantiasa menjadi sandaran dalam thalabul 'ilmi.

    BalasHapus
  2. Sepakat...mudah2an tidak terjadi di pesantren kita. Tulisan di atas tidak dimaksudkan memojokkan siapapun. itu adalah renungan dari peristiwa yang terjadi. barangkali tulisan itu amat "berani dan radikal". Itu semata ditujukan untuk langkah "antisipasi dan kewaspadaan" tinggi dari kita, komunitas santri dan pesantren..

    BalasHapus
  3. Setelah membaca tulisan ini...mestinya kita ikut merenungkan...dan melakukan tindakan....semoga kita bisa menegikiti ARUS tanpa harus TERBAWA ARUS....

    BalasHapus
  4. aku yo gumun mas... banyak kawan santri sekarang yang gagap mahami "alamat i'rab", yang sok nggaya, yang omongane kasar, sang pakaiane ra genah, yang ceweane kendel, yang...yang..yang...de el el... nak wes ngene, mau dikemanakan kwalitas sebuah pesantren?

    BalasHapus
  5. Muhammad Arwani11 Maret 2011 10.27

    Bener Mas Edy. Pesantren mengalami krisis percaya diri. Kawan-kawan santri tidak sadar akan potensi yang sebenarnya mereka miliki. nyantri bukan lagi pilihan hidup, sehingga sulit diharapkan keseriusan. Mereka lbh bangga bisa komputer tapi ra biso ngaji, lbh bangga ber hp ria dr pada ber 'imrithy. mereka lebih suka ber mesum dengan lawan jenis dari pada bergelut dgn kitab kuning. Harus ada penyadaran besar2an..bahwa pesantren pinya potensi besar di dalam membangun umat. Santri adalah pilihan hidup dan menjadi santri itu bergengsi dan elit

    BalasHapus
  6. Ad satu nilai yg sangat kuat yg selalu dipegang oleh yg (maaf) mendapat "keuntngan" dg nilai trsbut yaitu : orang dulu pasti lebih baik dg orang sekarang bhsa pesantrenya "aabaukum khoirun min abnaikum ". Pertanyaanya : 1. apkah nilai ini masih relefan untk jaman sekarang ? 2. Ap sebenarny hikmah dibalik nilai itu ? 3. Ap maksud yg sebenarnya dri nilai trsbt ? 4. Ini maqolah at hadis at kata bijak dn siapa yg mempeloporinya ? Mhon untk dijwb sec ilmiyah bgi siapa sja yg tahu syukron jazil.

    BalasHapus
  7. Sambodo Dawwala,31 Maret 2011 16.10

    aabaukum khoirun min abnaikum”
    1. apkah nilai ini masih relefan untk jaman sekarang ?
    JAWAB: semua maqalah bijak adalah relevan, tergantung dari sisi mananya kita memandang
    2. Ap sebenarny hikmah dibalik nilai itu ?
    JAWAB: salah satunya adalah ajaran moral agar generasi sekarang menghormati, menghargai dan meneladani (yg baik2) dari generasi sebelumnya
    3. Ap maksud yg sebenarnya dri nilai trsbt ?
    JAWAB: lihat jawaban nomor 3 diatas
    4. Ini maqolah at hadis at kata bijak dn siapa yg mempeloporinya ?
    JAWAB: lepas dari itu maqalah/hadits, apa yang terkandung di dalamnya patut kita renungkan dan kita fahami.

    BalasHapus
  8. Bahjah Numilang3 April 2011 01.13

    Lihatlah pada kebiasaan anak2 yg SAMA-SAMA mereka lakukan yg bukan karena aturan namun murni kebiasaan anak2,dari situ akn tampak jelas kekuatan ap yg paling berpengaruh trhadap mereka dihati mereka.bila kebiasaan mereka menghafal nadhom2 maka jelas para ustadzlah yg pling mempengaruhi mereka.namun bila baca buku pelajarn.., maka jelas para guru2 madrasah yg paling berpengaruh dll jadi lihatlah ap yg kuat dn yg lemah dihati mayoritas anak2 mka akn ketahuan inti masalahny dri yg kecil smpai yg besar ...

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.