11.40
4

By : Dewi Mar’atusshalihah
Gerimis senja, Kuala Lumpur, 2009
Selepas solat Isya’ sambil menggendong anak kedua saya yang berumur enam bulan, saya sempatkan untuk meneruskan mengetik tugas kuliah yang terbengkalai beberapa hari dikarenakan setiap buka komputer pasti anak-anak sudah langsung menyerbu rebutan memakai komputer. Mereka sibuk minta nonton kartun lah, latihan ngetik lah, nanya ini-itu lah, main game lah…liat foto lah... Fuyoooohh…
Sambil mengetik saya pasang CD murotal al-Qur’an yang kebetulan sampai surat al-Waqiah. Zahra, si sulung asyik bermain boneka dibelakang kursi saya. Tiba-tiba ketika bacaan al-Waqi’ah sampai ke ayat kesepuluh Zahra nyeletuk membaca ayat kesebelas, “ulaaikal muqorrobuun” dengan suara pelatnya. Kontan saya terkejut. Lho...dah hapal mendahului lantunan CD bacaan abinya..Mulutku masih menganga belum selesai terkejut Zahra dah mendahului dengan...“..Na’iim...” kemudian “...Waliin...”, “..Khoriin...”, “duunah...”, “Biliin...”, hafal penghujung ayat-ayatnya saja.
Fatimah el-Zahra, 2,5 tahun, memang lagi penasaran-penasarannya mempelajari sesuatu yang baru. Sampai saya kewalahan dan kadang jengkel dibuatnya. Saya tidak heran kalau sekarang dia sudah hafal surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek lain, hafal alphabet A sampai Z, one hingga twenty, Wahid hingga ‘Asyrah, Alif hingga Ya, nama hewan dan buah-buahan..karna memang itu saya ajarkan. Tapi al-Waqiah....? saya belum pernah mengajarkannya, karna saya fikir itu masih berat untuknya dan saya akan ajarkan bertahap dikemudian hari.
Sekedar hafal ujung-ujung ayat surat al-Waqiah mungkin bukan hal yang luar biasa. Tak sehebat Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba’I dari Iran yang diumur 5 tahun sudah hafal seluruh Al-Quran, yang dengan mudah menafsirkannya juga, yang berhasil memperoleh gelar Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh. Tidak juga sehebat Askrit Jaswal dari India yang menjadi mahasiswa dan dokter bedah termuda dalam sejarah. Tak semencengangkan seperti Mozart yang telah mengcompose lagu pertamanya pada usia 5 tahun. Tak seperti William James Sidis yang sudah dapat membaca pada usia 18 bulan.
Pengalaman ini saya tulis bukan karena saya ingin membanggakan anak sendiri, ataupun ingin mengatakan bahwa Zahra hebat. Tidak. Zahra adalah anak yang lumrahnya anak kecil sebayanya namun punya keinginan kuat untuk selalu belajar. Dalam tulisan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa anak kecil ingatannya luar biasa sehingga kita harus maksimalkan potensinya semaksimal mungkin.
Begitu pula dengan Zahra. Akhir-akhir ini sambil mengetik saya selalu mendengarkan al-Qur’an dari komputer. Kebetulan CD murottal bacaan ayahnya memang bernada perlahan. Tanpa saya sadari, sambil bermain menemani saya mengerjakan tugas kuliah saya, memori Zahra menangkap sedikit demi sedikit ayat-ayat dari surat-surat al-Qur’an tersebut.
Pasti kita sudah berkali-kali membaca artikel tentang pertumbuhan otak bayi yang begitu cepat, sehingga proses dari 0-3 tahun disebut sebagai milestones atau tonggak bersejarah dalam perkembangan anak. Dia bagaikan sponge yang akan meniru dan menyerap apa saja informasi yang dia lihat ataupun dia dengar. Dia juga bagaikan rekaman yang terus berputar merekam apa yang terjadi di sekelilingnya. Serta bagaikan kertas putih yang dapat ditulisi apa saja.
Menurut penelitian ilmiah, anak-anak dapat dididik sejak masih dalam kandungan. Waktu di kandungan, otak dan indra pendengaran anak sudah mulai berkembang. Emosi dan kejiwaan ibu, rangsangan suara yang terjadi di sekitar ibu dan makanan yang dikonsumsi Ibu akan sangat mempengaruhi perkembangan otak anak di dalam kandungan sehingga peneliti menganjurkan para ibu untuk menstimulasi otak janin dalam kandungan dengan memperdengarkan musik Mozart ataupun Beethoven untuk mencerdaskan anak.
Dalam Islam bahkan mendidik anak dimulai sejak Anda memilih pasangan hidup Anda. Ini dikarenakan memilih pasangan hidup berarti Anda memilih mau seperti apa anak Anda, bagaimana Ayah/Ibu yang akan mendidiknya, atau bahkan kemungkinan sifat atau kepandaian seperti apa yang akan dimiliki anak Anda. Seperti hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah: “Takhoyyiruu li nuthfikum” yang artinya “pilihlah istri yang sesuai untuk benih-benih kamu (anak).”
Didikan awal ini penting sekali bagi memastikan pembentukan karakter anak. Mempunyai anak cerdas, sehat dan berkualitas sememangnya menjadi dambaan setiap orangtua. Untuk merealisasikannya diperlukan stimulan-stimulan perangsang kerja otak sejak dini. Rangsangan akan membantu pembentukan cabang-cabang sel otak dan melipatgandakan jumlah hubungan antar sel otak sehingga terbentuk sirkuit otak yang lebih kompleks, canggih, dan kuat. Pemberian rangsangan ini akan membantu pertumbuhan dan perkembangan fisik, intelektual, emosional, moral dan agama secara optimal.
Ayah dan ibu harus sama-sama komitmen untuk ikut serta terlibat dalam mendidik anak karena lingkungan sekitar yang positif akan mempengaruhi anak. Anak kita merupakan cerminan dari kita. Ia menyerap semua yang ada di sekitarnya. Sikap dan tingkah laku mereka adalah hasil didikan kita secara sadar maupun tidak. Benarlah pepatah “Children see, children do”, anak-anak melakukan apa yang mereka lihat. Jadi bukan hanya apa yang kita katakan, tetapi lebih kepada apa yang kita lakukan. Sedangkan yang dilihat dan ditirukan oleh anak tiap hari sedari mereka lahir adalah kita.
Kita hendaklah membesarkan anak kita menjadi khalifah Allah yang sukses dengan berusaha untuk mencontohkan hal yang baik dan menghindarkannya dari pengaruh negatif yang akan menjauhkannya dari Allah. Mumpung otaknya tengah berkembang pesat maka biasakanlah sejak dini untuk memupuk minat belajar dan menghafal al-Qur’an. Perdengarkanlah al-Qur’an sekerap mungkin kepada anak kita.
Pepatah mengatakan “melentur buluh biarlah dari rebung”, atau dalam bahasa Inggrisnya "it’s better to bend the willow when it is young" yang bermaksud lebih baik mendidik anak sejak dini. Sesungguhnya hatinya bening bagaikan mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal- hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pendidiknya juga ikut memikul dosa karenanya. Jadilah contoh muslim teladan bagi anak-anak kita. Tanamkan bibit agama agar dapat sukses dunia akhirat.
Walaupun fungsi Ayah Ibu sebagai pendidik nampak berat dan memerlukan kesungguhan serta kesabaran namun itu adalah suatu nikmat yang tak terkira. Ini disebabkan salah satu amanah dan harta peninggalan yang berterusan pahalanya ialah anak yang sholeh. Mereka akan mewarisi apa yang kita tinggalkan dan menyambung kehidupan dan peradaban manusia. Peranan mereka amat besar karena mereka akan menjadi khalifah Allah di atas muka bumi ini.
Malam semakin larut, saya terus kletak-kletuk memencet keyboard diiringi Zahra yang melantunkan hafalan ujung surat Luqman. “Kafuur…syai’aa…ghoruur…, ghodaa…, khobiir…, shodaqallahul adziim”. Semoga Allah panjangkan umur kita semua Nak… Jadilah penghafal, pengamal dan penebar al-Qur’an.

Dewi Mar’atusshalihah, Alumni MAK Al-Iman Bulus 1999 dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2004, sedang mengambil Master of Education Management di International Islamic University of Malaysia (IIUM)

4 komentar:

  1. kalo sekedar jadi ortu biologis gampang. tapi kalo jadi ortu yang bertanggung jawab dlm pendidikan dst, ternyata butuh benih dan tempat menyemai yang sip

    BalasHapus
  2. Memang bener pak Anang ya, kata pepatah Jawa, milih istri harus lihat bibit, bebet dan bobotnya, krn gennya sangat mempengaruhi "nature" anak, dan ibu jg nantinya yg paling berperan mendidik anak langsung dan lebih sering berinteraksi dgn anak, jd sangat penting jg utk pembentukan karakter anak secara "nurture"

    BalasHapus
  3. Wah tulisane mbak dewi wajib di baca untuk para JOMLOWAN...termasuk saya....jadi terinspirasi...
    tapi permasalahnnya kriteria BIBIT-BOBOT-BEBET yang gimana sih sebenernya?
    perlu diperjelas lewat tulisan selanjutnya ketho'e mbak dewei....

    BalasHapus
  4. Bahjah numilang31 Maret 2011 07.43

    Prihatin dn kasihan melihat kebanyakan orang tua jgnkan mendidik anakny, memenuhi kebutuhan sehari2ny saja sangat menguras fikir dan tenaga apalagi para kaum papa ...sungguh blum ideal, kebanyakan mereka masih faqir dlm segala sisi apalagi trhadap teori2 pendidikan lawong tamatany aja pling banter SMU,apkah mereka tdk puny hak untk memiliki anak yg qurrotul a'yunihim sbb hal2 trsbut ? Saya blm tahu, namu ad sbuah teori yg siapapun dpt mengamalkanny dn insyaAllah berhasil jitu yaitu maqolah Imam Ghozali nafa'anallah, kalo tdk salah : Ashlih nafsak yushlih annaas kullh, "salehkan dirimu maka orang lain (trmasuk anakmu) bisa saleh karnamu"...wallahua'lam.

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.