12.37
4

Oleh : Sabiq Carebesth
Sajak untuk gadis bermata lembut
 Ada malam waktu itu, ketika mendung; deru hidup mengalun bersama angin, menyenandungkan kebisuan di tiang malam berselendang rasa gamang.
Aku memandangmu tanpa keberanian; hatiku tertegun dan bimbang, betapa kagetnya aku bahwa kau rupa dari harapan masa silamku; betapa gugupnya jiwaku, bahwa kau adalah lamunan paling jauh yang datang dari kedalaman lautan batinku. Maka semenajak itu, betapa waktu telah melunasi segala kepiluan yang diam-diam. Perlahan-lahan kau megisi ruang paling dalam dari hati: hendak menjadi sunyi, mau mencatat cerita di dindingnya; mau menggambar lukisan purba tentang rindu.
Wahai dingin dan rembulan yang menggantung di ranting cemara, angin dingin yang sembunyi di balik hutan karet; “jangan menggangguku!” isyarat-isyarat rebah lah, aku tidak sedang ingin kecewa.
Lelap lah impian, aku hanya ingin merasa: tersenyum dan merasa lega. “Aku mencintai gadis bermata lembut itu.”
[Perkebunan Karet, 24/01/2011]

Lolongan Kesepian
Di kesenyapan malam ia menimang angan
Di tepian malam ketika jiwa menangisi dosa-dosa
Sedang hujan dalam hatinya membekukan rindu yang selalu
“Ia sedang jatuh cinta.”

Memang ia ingin menangis;
Dihdapan hidup yang tragis.

Memang ia ingin meringkik;
Seperti kuda yang tertusuk rembulan
Dan ia kehilangan.
Memang ia ingin melolong
Seperti lolongan serigala di kesunyian:
Ia ingin mengabarkan kegelisahan
Kehelingan-kehilngan…
“kesepian itu ada dalam hatinya!”

Suara jeritan menggema di pepohonan
Menabrak ruang hampa
Dan jarak membatas waktu:
Jalan lengang nun sunyi dari lorong gelap masa lalu
Begitu purba, dimana?

Ia ingin yang hilang mendengar
Ia menunggu yang jadi sunnyi kembali
Kepada ombak membadai
Malam kelam dan senja menua:
Ia dendangkan lagu pilu
Agar tersiar rindunya:
Namun hanya suara-sura;
Melecut hatinya dalam jelaga:
“hanya sepotong tatapan lembut tertinggal di laut, sudah jadi buih! Hanya seulas senyuman waktu itu; sudah jadi mega keemasan! Hanya setetes air mata: sudah jadi tarian malam! Hanya kelembutan tangannya; sudah menjadi kabut, mendung dan hujan kali ini! O, betapa Ia lembut seperti sutra, ia bening seperti waktu, ia sunyi seperti mimpi; ia begitu jelita seperti kemolekan hujan waktu kau dan ia bertatapan pertama kali, bagaimana kau mau mencarinya?”
[26/01/2011, Sabiq Carebesth]

Sublim
Apa rasanya kehilangan? Bisakah kau membagi padaku sebuah kisah; dimana kau melihatku tengah duduk menggandeng lenganmu, dan kurasakan nafas dalam dadaku yang menyesak, sedang dingin yang menggigilkan setiap bagian dari sisi jiwamu berdesir ingin menyusuri jalan-jalan; melewati batas-batas dari sepi ke sunyi; hanya untuk duduk di tepi sungai keheningan.
Di sana kau tak lagi melihat jalan pulang, semua jembatan talah roboh menyatu dengan kabut, di atasmu kebekuan, dan dihdapanmu hanya kejauhan: dapat kah kau mengatakan bagaimana kau mencintainya?
Sebuah pohon yang baru kau lihat berlumut biru dan pada tangkai daun-daunnya tampak canggung. Sebuah batu tampak lemah dan tua, hening dan begitu kedinginan di tepi kali yang mengalirkan air dari tangisan yang seperti tangisanmu sendiri.
O, tak ada lautan tampak dari kejauhanmu. Senja yang biasa seperti lupa; ia mungkin tak lagi mengenalimu, atau kah senja yang ketika itu kini ada dalam keheningan hatimu? Seperti setiap sunyi dan kesepian yang mengajarimu berlari lebih jauh; kedalam dirimu sendiri.
[Sabiq Carebest, 30/01/2011]

KUDA-KUDA ITU
Kemana kuda-kuda itu berlari menjauh? Luka yang menggores dadanya hanya perasaan lain dari kegelisahan akan pencarian yang maha mendalam!
Bukan keramaian, atau kesunyian paling hampa yang dicarinya. Ruang dan jarak sudah ia susuri; tapi kesunyian itu ada dalam hatinya, kemana ia mau menjauh?
Ia rindu pada yang melegakkan hatinya. Mata lembut kekasih yang membuatnya tak lagi takut pada hidup; gadis yang memperhatikan tiap langkahnya. Seorang jelita yang padanya hendak ia percayakan setiap langkahnya: agar dikenang dan dihargai.
Kuda-kuda itu, kemana ia berlari menjauh? Kesunyian itu ada dalam hatinya!
[Sabiq Carebest, 2011]
TERJARING SEPI
Kulihat pada diriku
Hanya fragman dari kisahmu
Yang mengisahkan hidup dan waktu
Barangkali takkan sampai lembaran akhir.
Kulihat pada diriku
Hanya sepotong sajak tak selesai
Dari sajak panjang yang kau tulis
Dalam lelah sebelum istirah.

Kulihat pada diriku
Hanya garis kecil di sudut kanvas
Dari lukisan agung yang kau gambar:
Selalu dalam kegamangan waktu.

Kulihat pada diriku
Hanya setetes air keruh
Dari pesta hujan yang kau gemari
Dalam mau menari-nari.

O, ampunkan lah diriku
Suatu waktu mungkin aku hanya sunyi
Pergi terjaring sepi dan kelam sendiri.
[Sabiq Carebesth, 26/01/2011]

Sumber :

Sabiq Carebesth, Alumni Pon-Pes Al-man Bulus Purworejo lahir pada 10 Agustus 1985, pecinta buku dan kesenian. Sehari-hari aktif bergiat pada Lingkar Studi Kebudayaan Indonesia (LSKI) dan bekerja sebagai redaktur Jurnal Pertanian&Pedesaan Yayasan Bina Desa Jakarta.

4 komentar:

  1. Muhammad Arwani10 Maret 2011 13.20

    Wow...Inspiratif... Santri Al Iman ternyata tidak hanya bisa bicara soal santri dan pesantren. Tp juga bisa bicara dalam sastra dan budaya...Seandainya, bakat-bakat ini tarangkul dalam satu wadah, membesarkan almamater...Wah, Al Iman akan menjadi Pesantren multi dimensi....Hm...mudah2an bukan hanya mimpi.

    BalasHapus
  2. Lumayan ni buat tambahan referensi

    BalasHapus
  3. hemmmm....!!! (decak kagumku telah mewakili kekagumanku)...

    BalasHapus
  4. alhamdulillah
    ternyata petani tidak identik belepotan lumpur
    menyentuh dunia tani dengan seni

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.