15.11
7

Oleh: Rohani*)

KAMPUNGAN, tradisional, kumuh dan jorok, itulah penilaian miring yang sering dilekatkan pada santri dan pesantren pada umumnya. Mendengan kata “santri” sejenak kita teringat dengan sekelompok orang bersarung yang sedang tidur atau sebagian sedang membaca kitab kuning (al-kutub al-mu’tabarah) sambil sesekali menggaruk-garuk tangan atau kakinya (yang terkena penyakit kulit). Kategorisasi dengan tradisional tersebut sejatinya turut memojokkan kalangan santri sebagai orang-orang yang jumud (Jawa: ajeg), eksklusif (tertutup), ketinggalan zaman (out of date), berpikir sempit dan picik, mereka tidak lebih sebagai serpihan masa lampau yang selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang berbasis Islam borjuis (baca: Muhammadiyyah) dan kalangan Islam “modernis lainnya.
Terlepas dari sorotan-sorotan miring diatas, keberadaan santri dan pesantren merupakan sesuatu yang menarik untuk selalu kita kaji: “(si)apa dan bagaimana sebenarnya santri itu?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kiranya perlu diketengahkan tesis dari KH. Wahid Zaini (1994:86) tentang tipologi santri. Pertama, ihtimam bi al-furudh ‘ainiyyah, seorang santri harus peduli terhadap kewajiban-kewajiban individualnya. Ini berarti bahwa, seorang santri harus peduli dan menyadari posisinya sebagai “thalib al-‘ilm”, sang pencari pengetahuan dan ber-tafaqquh fi al-din (mendalami pengetahuan agama). Jika sudah memiliki kesadaran seperti ini, secara otomatis seorang santri akan menghabiskan hari-harinya untuk belajar dan menggali khasanah ilmu pengetahuan (terutama agama) dengan berbagai macam sarana, wasilah-nya.
Disamping itu, tertanam di hati mereka, bahwa “tidak belajar satu hari, berarti mundur satu langkah”, pun demikian, mereka tidak akan mempedulikan adanya dikotomi antara ilmu agama vis a vis ilmu umum, sehingga mereka akan “menggali” kebenaran sebuah ilmu dari al-Qur’an, al-Hadits, para ulama’ dan cendekia apapun agama dan bidangnya karena seorang santri yang “sadar” akan menyakini bahwa selagi ilmu itu membawa kemaslahatan manusia (maslahah al-ammah) akan dapat pembenaran dari Islam, sebagai mana ungkapan (hadits ?-red) “khudz al-hikmah min ayyi wi’ain kharajat”. (ambillah pengetahuan/hikmah dari manapun ia berasal) karena pada hakekatnya ilmu hanyalah milik Tuhan (QS: 12: 76).
Kedua, husn al-mu’ammalah ma’a al-khāliq, membina dan menjaga hubungan baik dengan Allah. Seseorang yang memiliki hubungan baik dengan Tuhannya, secara tidak langsung akan selalu merasakan kehadiran dan pengawasan-Nya (muraqabah, God counciousness) sehingga akan berjalan pada “rel” yang telah digariskan Allah. Disinilah letak habl min Allah yang tertinggi: selalu dalam “bimbingan” Tuhan. Ketiga, husn mu’ammalah ma’a al-khalq, menjaga hubungan baik dengan sesama makhluk. Kategori yang ketiga ini lebih menekankan aspek sosial. Seorang santri harus bisa menjaga dan menempatkan dirinya di tengah-tengah orang lain (baca: sadar posisi) sehingga akan terbentuk hubungan yang humanis, dan saling menghargai sehingga terbentuklah hubungan sebuah komunitas yang kokoh, solid, bertanggungjawab, berdekadensi tinggi serta peka dan peduli terhadap penderitaan orang lain.
Abd Allah dan Khalifah Allah fi al-ard
Dari ketiga tipologi santri diatas, dapat kita persempit menjadi dua kesadaran, yakni: kesadaran diri sebagai hamba Allah, ‘Abd Allah yang harus menghambakan diri kepada-Nya selaku Sang Pencipta sesuai dengan tuntunan dan ajaran-Nya, dan; sadar terhadap tugas dan fungsi sebagai khalifah Allah fi al-ard, “wakil” Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Kesadaran ini menuntut kita untuk dapat mengelola dan melestarikan alam seisinya untuk kemaslahatan manusia bukan mengeksploitasinya dengan serampangan.
Dengan tiga tipologi atau dua kesadaran tersebut diharapkan santri semakin peka terhadap realitas kehidupan yang semakin berkembang dan berkesadaran kosmopolitan pula hingga dapat “menangkis” bahkan memutarbalikkan penilaian-penilaian yang disematkan pada kalangan pesantren. Para santri tidak boleh berbangga diri dengan para santri par exelence; Gus Dur, Ky. Masdar F. Mas’udi, Kyai Hasyim Muzadi atau kang Said Aqil Siradj yang telah mengorbitkan kaum santri di kancah internasional (bahkan karena jasa mereka-lah pandangan minor tentang santri “tradisional” mulai menipis). Tapi kita harus berbangga diri sebagai santri yang bisa mendobrak dan menggetarkan dunia yang dengan lantang berani mengatakan “Ha ana dza!” sembari menunjukkan suatu prestasi yang membanggakan kaum santri.
Masalahnya sekarang justeru ada pada diri kita;  mau (mampu)kah kita mengembangkan turats (tradisi) dan paradigma yang telah ditawarkan? Atau jangan-jangan kita hanya mau (syukur-syukur: mampu) melestarikan peninggalan mereka, al-muhafadzah ‘ala qadim al-shalih, tanpa diimbangi dengan semangat inovasi dengan mengadopsi atau menemukan penemuan-penemuan yang lebih baik, al-akh bi al-jadid al-aslah, disinilah salah satu letak kegusaran Kang Said Agil (1996) ketika mengkritisi faham Aswaja (ahl sunnah wa al-jama’ah) yang dirasa sudah ketinggalan zaman, karena hanya menerima madzhab secara qauli (produk hukumnya) tanpa memandang Aswaja sebagai metodologi berfikir (manhaj al-fikr) untuk memecahkan suatu persoalan serta melihat kaum NU (termasuk santri di dalamnya) dalam menyikapi suatu persoalan lebih bersifat reaksioner dari terkadang “kurang njlimet” karena hanya dipandang dari satu sudut pandang.
Jika di Pesantren diajarkan dawuh Kanjeng Nabi untuk “menuntut ilmu ke negeri Cina”, maka cita-cita untuk menjadi santri yang berpandangan luas semakin terbuka, bukan?.

*) Rohani, Alumnus PPTQ Al-Asy’ariyah Wonosobo dan Pesantren Al-Iman Purworejo, Pernah “mampir ngombe” di PC. PMII Wonosobo
**) Sumber : Majalah Multazam, Edisi 10/Th. 14/ Juli –Agustus 2005, hal. 11-12

7 komentar:

  1. waha .. asem ig ... bos edi ki alumni PMII juga

    BalasHapus
  2. hehe... mampir ngombe kan cuman sebentar mas,...tur ga mudeng apa2....Salam, Tangan terkepal!

    BalasHapus
  3. wahaha, maju kemuka

    BalasHapus
  4. mwmbaca tulisan mas edy, jadi geregetan sendiri.
    kita baru pada posisi senyatanya, belum pada semestinya. padahal tantangan di depan mata

    BalasHapus
  5. Ada kata-kata yang MENGGELITIK...UNIK...pokoe campur-campur...saat membaca tulisan Mas edy.....

    BalasHapus
  6. @iqlal: "maju kemuka, pantat mundur"..hehhe...
    @a: semestinya adalah melakukan apapun yang terbaik dan bermanfaat serta maslahah untuk yang lain. tantangan untuk ditaklukkan, bukan unt dihindari.. tantangan adalah motivator terbaik yang pernah ada....hehhe...
    @wi2T; emange aku ngitik2 po..hehe...

    "for All:Salam Gusdurians!"

    BalasHapus
  7. Sopo wonge ngamalake ngilmu sing wis dingerteni (ilmu qodim solih) Gusti Allah bakal aweh wong iku ilmu sing urung dingerteni (ilmu jadid ashlah) - wan yattaqillah (ilmu qodim) yajngal lahu makhrojan (jadid ashlah) = istiqomah . Wallah a'lam

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.