08.24
7

Oleh : M. Jafar Shodiq
Salah satu rukun Islam adalah melakukan ibadah haji. Ibadah haji wajib dilakukan oleh orang-orang Muslim apabila syarat-syaratnya telah terpenuhi, dan bila kita melalaikannya kita dinggap berdosa.[1] Salah satu problem mendasar penyelenggaraan ibadah haji saban tahun adalah menumpuknya jutaan jemaah dalam satu waktu pada satu tempat yang sama (Makkah, Madinah, atau Arafah). Pemerintah Saudi Arabia setiap tahun berusaha mengantisipasi lonjakan jumlah jemaah tersebut dengan berbagai cara, di antaranya dengan membatasi kuota peserta haji. Tapi, pembatasan kuota peserta haji ternyata tidak menyelesaikan masalah, karena pembatasan tersebut bertentangan dengan dambaan umat islam untuk melaksanakan salah satu rukun Islam. Untuk itu, diperlukan solusi yang lebih radikal dari sekedar membatasi kuota dan memperluas tempat-tempat penampungan jamaah. Masdar Farid Mas’udi,[2] - untuk seterusnya disebut Masdar -datang menawarkan solusi radikal. Menurutnya, persoalan itu bisa diantisipasi dengan kembali kepada pedoman al-Qur’an tentang konsep waktu penyelenggaraan haji. Pelaksanaan haji, bagi Masdar tidak terbatas pada 5 hari efektif (dari tanggal 9-13 Dzulhijjah) saja, sebagaimana yang berlangsung selama ini. Haji sah dilakukan sepanjang jangka waktu tiga bulan (Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah) sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an surat al-Baqarah 2: 197:

197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
[122]  ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.
[123]  Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[124]  maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

al-hajj asyhurun ma’lumat” (waktu haji adalah beberapa bulan yang sudah maklum). Untuk itu, diperlukan penelaahan ulang atas konsep waktu haji yang dipahami dari hadis ”al-hajj ’arafah”.[3]

Latar Belakang Pemikiran Masdar
Dalam tulisannya Masdar menyebutkan beberapa alasan yang melatarbelakangi solusi yang ia tawarkan, yaitu:
Pertama, karena masyaqat atau kesulitan yang sudah luar biasa tingkatannya, yang saat ini dialami oleh para hujjaj (jamaah haji). Kesulitan itu dapat dilihat indikasinya hampir setiap kali melakukan berbagai prosesi haji di tanah haji. Pada saat melempar jumrah, ada saja yang meninggal karena terinjak-injak, kadang sampai puluhan. Dan itu terus terjadi dari tahun ke tahun. Tentu saja, hal ini menggugahnya untuk bertanya, ”apakah ibadah haji itu sudah menjadi semacam arena –pembantaian-? Karena, haji telah menimbulkan kesulitan yang luar biasa, bahkan korban jiwa yang tidak sedikit.
Kedua, telah terjadi pereduksian makna tentang prosesi waktu haji, dari ”al-hajj ashurun ma’lumat” (haji waktunya adalah beberapa bulan yang diketahui) menyempit menjadi 5 hari yakni pada 9,10,11,12, 13 Dzulhijjah. Menurut Masdar, jelas sekali di dalam ayat itu diterangkan bahwa waktu haji itu beberapa bulan, bukan beberapa hari. Beberapa bulan yang ia maksud adalah: Sawal, Dzulko’dah, Dzulhijjah.[4]

 Penafsiran Masdar tentang ’al-hajj ’arafah[5]
Menurut Masdar hadis ini berarti bahwa haji itu intinya wuquf di padang ’arafah. Sementara soal waktu, tidak masuk dalam hadis itu. Soal waktu haji sebenarnya sudah diterangkan dalam ayat al-Qur’an. Jadi antara ayat al-Qur’an dan Hadis itu tidak saling menafikan. Selama ini, hadis ’al-hajj ’arafah’ dipahami sebagai menafikan ayat ’al-hajj asyhurun ma’lumat’.
Padahal, menurut Madar hadis itu tidak men-takhsis atau mengkhususkan ayat al-Qur’an tadi, walaupun hadis bisa memberi penjelasan kepada ayat al-Qur’an. Kalau kata ashurun (beberapa bulan) diberi penjelasan sebagai ayyamun (beberapa hari) sebagaimana yang berlaku saat ini tentu tidak masuk akal.[6]

Kelemahan Pemikiran Masdar
Sebagaimana kata pepatah, ’tiada gading yang tak retak’ demikian pula pemikiran Masdar ini. Tapi setidaknya ada beberapa kelebihan dari pemikran Masadar ini, yaitu memberi nuansa baru dalam khazanah penafsiran ’al-hajj ’arafah’ yang biasanya diartikan oleh ulama tradisional dengan waktu dan prosesi ibadah haji adalah di tanah ’Arafah pada tanggal (waktunya) 9, 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah menjadi prosesinya tetap di ’Arafah tapi waktunya bebas di sepanjang beberapa bulan yang disebutkan dalam al-Qur’an. (Sawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah).
Melihat corak penafsirannya yang begitu radikal, tak diragukan lagi bahwa ia menggunakan hermeneutika.[7] Hal ini bisa dilihat ketika ia mencoba menafsirkan ’al-hajj ’arafah’. Padahal, Rasulullah yang selama hidupnya dianggap sebagai penafsir al-Qur’an yang paling hebat tidak pernah sekalipun berhaji di luar 5 hari yang disebutkan di atas. Di samping itu, sebenarnya metode hermeneutika ini sudah banyak menuai kritik. Diantaranya:
1.      Metode ini telah diterapkan dalam kajian Bibel, yang artinya sama saja meniru pola pikir Yahudi-Nasrani dalam hal tata cara beragama. Sebagai seorang muslim sejati yang memiliki jati diri sendiri, kita diperintahkan untuk berinteraksi (muamalah) dengan mereka dengan baik dan dilarang mencela agama mereka. Berinteraksi yang baik dengan ahlul kitab dalam urusan agama adalah dengan saling menghormati, tidak mencela, tidak mengintervensi dan tidak meniru tradisi maupun ritual keagamaannya. Ringkasnya dalam masalah ini kita harus berpegang pada ayat: ’lakum dinukum waliadin’.
2.      Alasan keberatan yang fundamental adalah ruh hermeneutika yang selalu cenderung merelatifkan hal-hal yang sudah jelas (qath’y), tetap (thawabit) dan disepakati oleh ulama (ijma’). Jadi tidak sekedar alasan karena hermeneutika berasa dari Barat dan telah diterapkan di Bibel saja, tetapi lebih karena hermeneutika mempunyai ruh yang mereduksi dan tidak sejalan dengan nilai Islam. Sebagai contoh dalam ’mazdhab’ Schleiermacher terdapat pemikiran bahwa seorang penafsir bisa mengerti lebih baik dari pengarangnya; wilhem Dilthe dengan pemahaman historisnya, berpendapat bahwa sejarahlah yang mempunyai otoritas atas makna teks, bukan pengarang teks; Heidegger dan Gadamer dengan dengan pemahaman ontologisnya berpendapat bahwa penafsir dan teks terikat dengan tradisi yang melatarbelakangi teks; Habermas dengan pemahaman interest praktis, dimana hasil penafsiran seseorang selalu dicurigai membawa kepentingan politis, dan sebagainya. Dampak lainnya dari hermeneutika bila diterapkan dalam menafsirkan al-Qur’an, di samping mengaburkan (merelatifkan) batasan antara ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat; usul dan furu’ juga akan mereduksi sisi kerasulan Sang Penyampai Wahyu (Muhammad SAW) hingga pada tingkatan sebatas manusia biasa yang sarat dengan kekeliruan dan hawa nafsu.
Terlepas dari semua itu, apakah solusi yang ditawarkan oleh Masdar bisa terlaksana atau tidak, yang jelas penafsiran ini merupakan langkah yang berani dalam upaya membumikan konsep waktu pelaksanaan haji. Wallahu a’lam bi shawab.

Muhammad Jafar Shodiq : Alumni al-Iman Bulus 2001


[1] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Bandung: Sinar Baru  Algesindo, cet ke 39, 2006, hlm 248.
[2] Ketua Tanfidziyah PBNU dan Direktur P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat), Jakarta. Menamatkan S1 di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan Pascasarjana UI, Jakarta.
[3] Masdar F. Mas’udi Ijtihad Islam Liberal, dalam Waktu Pelaksanaan Haji Perlu Ditinjau Ulang, Penyunting Abd. Moqsith Ghazali. Jakarta : Jaringan Islam Liberal, 2005. Hlm. 151.
[4] Sebagai implikasi dari pemikirannya, Masdar menawarkan bahwa dalam Haji ada waktu afdlaliyyah dan ada waktu jawaz. Waktu afdlaliyyah adalah 5 hari seperti yang sudah disebutkan di atas. (9 – 13 Dzulhijjah)  Sedangkan waktu jawaz adalah mulai dari tanggal 1 Sawal dampai dengan 31 Dzulhijjah (keculai 5 hari utama) Lihat Masdar F. Mas’udi dalam Ijtihad Islam ... Hlm.152-153.
[5] Hadis ini banyak disebutkan dalam kitab-kitab fiqh sebagai dasar pelaksanaan prosesi haji dari mulai tawaf qudum sampai tawaf ifadhah. Lihat Mustafa Diib al Bigha, at- Tazhib matan al-Ghayah wa al-Taqrib, Suarabaya : Al-Hidayah, tth. Hlm. 109., lihat juga Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, hlm. 253.
[6] Masdar F. Mas’udi, Op.Cit., hlm 152-153.
[7] Hermeneutik adalah sebuah cara penafsiran teks atau simbol. Metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudian dibawa ke masa sekarang, yang aktivitas penafsirannya itu sendiri merupakan proses triadik; mempunyai tiga segi yang saling berhubungan, yakni teks, penafsir, atau perantara dan penyampaian kepada audiens. Lihat Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yokyakarta : Kanisius, 1993. hlm. 31.

7 komentar:

  1. kalau tawaran masdar bisa diterima ulama' maka akan memperkecil resiko terjadinya"pembantaian".
    Tapi, mungkinkah?

    BalasHapus
  2. sampai sekarang pak masdar disuruh haji diluar bulan haji belum mau he.he.
    kasus indonesia jumlah haji yang begitu besar karena mereka haji lebih dari 1 kali.

    BalasHapus
  3. Qoola Ba'dlun: jika di sesuaikan dengan “al-maqoshid al-syari’ah” (yang salah satunya adalah “hifdz al-nafs “ atau menjaga jiwa), maka menurut mereka pelaksanaan haji di bulan-bulan yang sudah ditulis dalam alqur’an “secari harfiahnya” (asyhurun ma’luumaat”) seperti itu boleh-boleh saja, dengan alasan: di dalam pelaksaaan haji yang dilakukan pada satu waktu yakni hanya di bulan dzul hijjah saja akan menarik madorot seperti melonjaknya kuota sehingga menyebabkan musibah kematian dan sebagainya, oleh karena itu al-dloruratu tubiihu al-mahdzuraat kata mereka. Tapi menurut saya sendiri sebagai orang awam sich..: kalo tadi dikatakan sebuah “pembantaian” saya kira terlalu suu'udzon dan berlebihan booooss...jangan dikira.... banyak lhoo orang merasa seneng meninggal di tanah suci, kata mereka keberkahan yang luar biasa, mereka menambahi: daripada pulang haji nanti keperosok melakukan maksiat meneh... tapi memang mati itu sudah ketentuan gusti Alloh too too too... banyak to simbah-simbah kita yang sudah tua berangkat haji kemudian pulang dengan keadaan sehat walafiat... yang menurut prediksi kita "sebagai manusia terbatas kemampuannya" bahwa simbah sangat dikhawatirkan sedoo tapi pada kenyataanya setelah pulang haji malah segar bugar melebihi sebelumnya...malah semangat cerita ngalor ngidul waktu di mekkah karo neng medinah... coba kalo kita tanya ke simbah kita: mbaah njenengan kok mboten ajrih (takut plus kawatir) nanti kalo pas lempar jumroh kecepit-kecepit (terjepit) utowo keidak-idak (terinjak) orang-orang negro yang besar-besar? jawabe simbah : lhoo nduuk.. nduk.. mati khan wes urusane Gusti Alloh nduuk.. opo kowe lali to nduk “ idzaa jaa-a ajaluhum laa yasta’khiruuna sa’atan walaa yastaqdimuuna” owalaaahh kuwi lho ayat qur’ane wes jelah too..
    Lek pendapate pak masdar bagus juga... tapi yo kuwi jejel pak masdar kon haji (iki nek beliau blas durung pernah haji lhooo), belia disuruh haji bulan syawal saja, ketok’e tetep beliau pasti ejeh ragu alias durung mantep.. mengko to pasti ra gelem..ya oraaa....

    BalasHapus
  4. Pemikiran (semacam) liberal ini sudah lama dilakukan oleh Masdar Mas'udi, sebagaimana dulu dengan fikih Zakat-pajaknya.. Masdar Farid tdak mau haji diluar bulan dzul hijjah karena beliau sudah haji (bukankah kewajiban haji hanya sekali, selebihnya sunat..?). dari pada untuk haji yang "sunnah", masdar menggunakan uang (yg bisa digunakan unt haji lagi) untuk kepentingan pemberdayaan pesantren dan masyarakatnya. kita apresiasi dan kita harus berani>>>
    Hermeneutika bukanlah hal yang haram untuk dikonsumsi, terlepas metode ini biasa dipakai unt menafsir Bible atau tidak, karena __dalam keyakinan saya__ apapun ilmu yang dipergunakan unt kemaslahatan, adalah juga berpahala adanya, sejarah hermeneutika sendiri ada yang mengatakan berasal dari tradisi nabi Dawud (?) yang menerima dan mafsir wahyu Tuhan unt kepentingan umatnya... Wallahu Musta'an

    BalasHapus
  5. Sekilas ttg Hermeneneutika:
    Hermeneutika menjelaskan proses interpretasi guna membuat pesan Kitab Suci relevan dengan kebutuhan zaman, sehingga usaha interpretasi tersebut bertolak dari setiap realitas baru yang menuntut kita untuk menginterpretasikan Sabda Allah secara baru guna mengubah realitas seperti yang dituntutkan. Secara teologis, peran Hermes ini bisa dinisbatkan sebagaimana peran Nabi utusan Tuhan. Sayyed Hossein Nasr memiliki hipotesis bahwa Hermes tersebut tidak lain adalah Nabi Idris a.s., yang disebut dalam al-Qur’an, dan dikenal sebagai manusia pertama yang mengetahui tulisan, teknologi tenun, kedokteran, astrologi dan lain-lain. Bagi Nabi Idris atau Hermas, persoalan krusial yang harus diselesaikan adalah bagaimana menafsirkan pesan Tuhan yang berbicara dengan bahasa “langit” agar dapat dipahami oleh manusia yang berbahasa “bumi”. Dengan demikian, hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu atau seni menginterpretasikan (the art of interpretation) sebuah teks yang harus menggunakan cara-cara ilmiah dalam mencari makna, rasional dan dapat diuji. Selengkapnya: baca dalam Ahmala, “Hermeneutika: Mengurai Kebuntuan Metode Ilmu-Ilmu Sosial”, dalam Nafishul Atho’ dan Arif Fahrudin (Edt.), Hermeneutika Transendental dari Konfigurasi Filosofis Praksis menuju Islamic Studies, Cet.I (Yogyakarta: IRCiSoD: 2003), hlm. 14-15.

    BalasHapus
  6. @ Pak Anang: Usulan Masdar untuk meninjau ulang waktu pelaksanaan haji telah dimasukkan ke DEPAG RI (sekarang KEMENAG RI). Setau saya selama ini belum ada tanggapan.
    @ Mas Ali: Please tell masdar to made the pilgrimage to Mecca at the other pilgrim months... 
    @ Mas Edi Rokani: “Geger hermeneutika” tampaknya merupakan kekagetan akademik sebagian mahasiswa pasca sarjana/magister/doktor dalam bidang kajian Islam. Kata hermeneutika, seperti halnya kata metodologi, juga menjadi buah bibir dosen-dosen IAIN/UIN. “Komat-kamit” itu terdengar “hermeneutika…hermeneutika”.
    “What is your motto?” “Hakuma matata!” –begitu dalam The Lion King- kalau di UIN/IAIN, jawabnya “hermeneutika”.
    Nasib yang sama juga terjadi pada profesor-profesor hermeneutika. Bahkan belum ada karya yang laik disebut penalaran hermeneutik, jika misalnya diminta untuk membaca ayat-ayat jihad. Bagaimana menyelesaikan the problem of psychologism ayat-ayat jihad melalui Horizontverschemezung, wirkungsgeschichte dan moment of self-recognition, misalnya. Sayang sekali mereka belum memberikan contoh aplikasi hermeneutika mereka! Paling banter, hanya slogan “kutukis”. Paling banter, mereka mengutuk kaum literalis! Walaupun penyelesaian hermeneutik ayat-ayat jihad sangat dinanti di zaman “geger terorisme” ini, tetapi profesor hermeneutika cuma diam. Lebih parah lagi, ketika berhermeneutika-ria, mereka tidak pernah berfikir sejenak konsekuensi apa yang harus diterima jika kata hermeneutika begitu saja diterapkan pada Al-Qur’an.
    Untuk memecahkan problem penggunaan hermeneutika ini, Hasan Hanafi (yang trilogi ushul fikih-hermeneutiknya dalam bahasa Perancis tidak terakses sebagian besar profesor hermeneutik) membedakan antara teori kenabian dan hermeneutika. Teori kenabian membahas proses penerimaan wahyu secara vertical dari Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Dalam proses vertical ini, Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad bertindak sebagai passive transmitters. Sepenuhnya bertindak sebagai recorders, sehingga wahyu Allah bersifat verbatim. Itulah fungsi al-Amin Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad. Setelah wahyu verbatim dicatat, barulah proses hermeneutika dapat berfungsi. Hermeneutika bersifat horizontal, yaitu menafsirkan Al-Qur’an setelah wahyu Ilahi dicatat secara verbatim. Di sini, Nabi Muhammad bertikdak sebagai active interpreter, yaitu menafsirkan al-Qur’an sesuai konteks. Jadi jika kita menerima begitu saja hermeneutika yang dipasarkan dan menerimanya tanpa bersyarat maka sama saja kita mengatakan Al-Qur’an tidak otentik!

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.