13.14
2

Kang said” –begitu beliau biasa akrab dipanggil– bukanlah sosok yang asing bagi warga Magarsari, beliau adalah buyut Almaghfurlah KH. Muhammad Said, pendiri Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon. Nama Kang Said familiar di telinga warga, tausiyah-nya –paling tidak– setahun sekali selalu dinanti untuk disimak dan diresapi pada setiap pelaksanaan Haul KH. Muhammad Said, Gedongan.

Lebih dekat dengan Kang Said

Prof. DR. KH. Said Aqiel Siradj, MA. lahir di Kempek, Palimanan, Cirebon, pada tanggal 03 Juli 1953. Putra kedua dari 5 bersaudara : Ja’far Aqiel, Musthafa Aqiel, Ahsin Aqiel dan Niamillah Aqiel.Kedua orang tuanya, KH. Aqiel Siradj (Putra KH. Siradj, Bungsu KH. Muhammad Said, Gedongan) dan Ny. Hj. Afifah (putri KH. Harun, Pendiri Pesantren Kempek, Cirebon) adalah seorang pengasuh disegani yang mendirikan Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien di lingkungan Pondok Pesantren Kempek.
Berawal ketika nyantri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, Kang Said mengenal Nurhayati Abdul Qodir, gadis yang ternyata tetangga desanya di Cirebon. Perkenalannya ini hingga membawa keduanya ke pelaminan pada tanggal 13 Juli 1977. Setelah keduanya menikah, Kang Said meneruskan studinya ke Timur Tengah, mengajak serta sang istri hingga tahun 1994. Keempat putra-putrinya lahir di Makkah, mereka adalah : Muhammad Said Aqiel, Nisrin Said Aqiel, Rihab Said Aqiel, dan Aqiel Said Aqiel.
Pendidikannya diawali ‘ngaji’ di Majelis Tarbiyatul Mubtadi’ien milik ayahnya sambil Sekolah Rakyat (SD). Setelah itu Kang Said kecil mondok ke Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur belajar serius ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan KH. Mahrus Ali (cucu KH. Muhammad Said, Gedongan). Belajar di pesantren adalah pilihan tunggal, karena sang ayah tidak mengizinkan Kang Said meneruskan studi di sekolah umum.
Di Lirboyo, Kang Said berhasil menyelesaikan studinya hingga tingkat Madrasah Aliyah (SMU). Kang Said pernah kuliah di Universitas Tribakti Lirboyo, namun merasa tidak puas. Ia memutuskan keluar dari Tribakti dan pindah ke IAIN Sunan Kalijaga sambil mondok di Pesantren Krapyak Jogjakarta (didirikan oleh KHM. Moenawir atas saran dan nasehat KH. Muhammad Said, Gedongan). Bagi Kang Said, Kota Jogjakarta ternyata tidak ubahnya Lirboyo. Rasa tidak puas yang menggelayutinya memaksa beliau hengkang dari kota gudeg tersebut dan memutuskan untuk belajar ke Timur Tengah. Dan pada 1980 ia pun berangkat ke Makkah, Saudi Arabia dengan ditemani sang isteri. Memasuki tahun 1982 Kang Said berhasil menyelesaikan studi S1 Jurusan Ushuluddin dan Dakwah di King Abdul Aziz University; S2 Jurusan Perbandingan Agama pada 1987 dan S3 Jurusan Aqidah/Filsafat Islam pada 1994 di Universitas Ummul-Qurra’.
Santri ‘cerdas’
Pada tahun 1980-an, belajar di Saudi Arabia tergolong mengasyikkan, karena mahasiswa benar-benar mendapatkan perhatian pemerintah setempat. Jika dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, bea siswa yang dikucurkan Pemerintah Saudi Arabia tergolong besar. Hanya saja, tingkat intelektualitas masyarakatnya yang masih rendah sedikit banyak mempengaruhi suasana belajar, kondisi inilah tantangan besar Kang Said.
Namun hambatan itu dapat ia atasi dengan baik. Dengan kesabarannya, studi di Ummul-Qura berhasil ia lalui. Kang Said berhasil menyelesaikan S2-nya dengan tesis di bidang perbandingan agama. Memasuki tahun ke-14 tepatnya tahun 1994, Said Aqiel Siradj berhasil menyelesaikan studi S3 dengan disertasi berjudul, “Shilatullah bil-Kauni fi al-Tashawwuf al-Falsafi” (Relasi Allah dan Alam: Perspektif Tasawuf). Kang Said berhasil mempertahankan disertasinya dengan predikat Cum Laude.
Empat belas tahun belajar di Timur Tengah telah mengantarkan sosok Kang Said sebagai salah satu intelektual muslim Indonesia. Penguasaannya yang luas atas doktrin agama-agama dunia di samping keilmuannya di bidang tasawuf menjadikannya sebagai tokoh lintas agama yang cerdas.
Setelah gelar doktoralnya dipastikan berada di tangan, Kang Said memutuskan pulang ke Indonesia.Gus Dur yang telah lama mengenalnya mengajak Kang Said untuk beraktifitas di Nahdlatul Ulama (NU). Tahun pertama beraktifitas, forum Muktamar Cipasung memercayainya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU, sebuah jabatan yang terbilang cukup tinggi bagi aktivis pendatang baru. Saat itu Gus Dur ‘mempromosikan’ Kang Said dengan kata-kata kekaguman, “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi”.
Keliling Indonesia: Menebar gairah berpikir
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kualitas keilmuan Said Aqiel Siradj cukup teruji. Intensitas aktivitas keilmuannya juga tinggi. Dalam seminggu, hampir dipastikan 3-4 hari waktunya dihabiskan untuk keluar masuk kota-kota di seluruh Indonesia. Berbagai forum ilmiah didatangi; mulai dari forum pengajian di desa terpencil hingga seminar di hotel-hotel berbintang. Semangat ‘turun’ ke pelosok-pelosok negeri ini didasari oleh obsesi kuatnya untuk membawa masyarakat Islam ke altar ‘kesadaran intelektual’.
Di tengah kesibukannya yang tinggi, Kang Said masih meluangkan waktunya untuk berinteraksi dengan para mahasiswa. Kang Said tercatat sebagai Direktur Pascasarjana UNISMA Malang, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, dan dosen terbang di beberapa Perguruan Tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Visi dan Misi menjadi Ketua Umum PBNU
Said Aqiel Siradj tergolong salah seorang intelektual muda NU yang concern di bidang wacana keislaman. Kedatangannya dari Timur Tengah semakin menambah deretan anak muda NU yang selama ini berkutat di gerakan kultural.
Tentang visi dan misinya, dalam suatu kesempatan wawancaranya di situs bataviase.co.id, beliau menuturkan :
Saya ingin mengembalikan NU kepada orientasi yang bernapaskan pesantren”. Dimana dalam pesantren pasti ada ilmu, moderat, dekat dengan rakyat, akhlak, kemandirian, persaudaraan. Selama NU jauh dari pesantren, maka akan kehilangan tipologi atau keistimewaan NU dengan ormas yang lainnya.
Selain memperkuat NU dalam napas yang berorientasi pesantren, saya juga akan “membangun pendidikan atas nama NU”, disamping meneruskan yayasan-yayasan pesantren yang sudah ada. Misalnya saya akan membangun tsanawiyah NU.
Menyangkut masalah ekonomi kerakyatan, menurut saya seperti yang sudah dijalankan. Misalnya, Syariah Muammalat, BPR dan terus mengembangkannya dengan mencari investor dari negara-negara Timur Tengah yang pernah saya kunjungi seperti Aljazair, Libya dan lain-lain. Terkait dengan kehidupan sosial, NU akan selalu melakukan aktualisasi. Salah satunya yaitu NU akan mempertegas bahwa antara Islam dan nasionalisme tidak ada pertentangan. Jadi orang NU yang taat berislam, tetap kuat semangat nasionalismenya di waktu yang bersamaan. Menurut saya ini begitu penting, karena di negara Timur Tengah saja, masalah Islam dan nasionalisme ini masih belum selesai sampai sekarang, sehingga masih sering terjadi konflik.
Semoga cita-cita dan obsesi Kang Said dapat terejawantah dengan terpilihnya beliau sebagai Ketua Umum PBNU periode 2010-2015, Amien Yaa Rab ….
disarikan dari http://kabarwarga.com/

2 komentar:

  1. pertama mengenal Kang said lewat gebrakannya terhadap kemandekan Aswaja, begitu membaca tulisan2 beliau -(waktu itu ditulis di majalah Aula, sekarang dapat disimak di "Kontroversi Aswaja; Aula perdebatan da reinterpretasi", terbitan LKIS Jogja. sungguh luar biasa, banyak orang yang menjuluki beliau sebagai "Kamus berjalan" karena desertasi doktoral beliau menggunakan referensi ribuan buku/kitab. kita berharap banyak terhadap kepemimpinan beliau di PBNU,

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.