19.24
2
Sebuah layar tergelar dari jendela kamarku Kabut bergelut senda Hening pada batu bata tua Merah pada tanah;langit tergolek lemah
Pada jendela kamarku Ada sendu dalam membayang rindu Cerita lalu beku pada wajahmu
Aku berpegang pada tali rembulan Menjahit kalbu dengan jarum rindu Sehabis tertusuk senja petang tadi
Pada hati yang enggan membagi Tiada cawan anggur mengering Atau pada segelas kopi kubagi Ah, hanya kepulan asap bisu Terbakar api hangus sendiri
Helain rambutmu hening Pada matamu mengerling seperti pertama
Pada jendela kamarku Tubuhmu berbalut gaun cahaya Terjulur lenganmu bergelut senda Mau menarik menari aku Bermain cahya tengan malam membuta
Pada jendela kamarku Aku duduk menunggu Agar pilu menjadi rindu Agar malam ini habis berlalu
Ah, Sebatang rokokku enggan bersekutu Habis membakarku Kulempar bak dadu Aku kalah main gundu
"Anak laki-laki tak berhak menangis" kata ibunya ketika ia pulang...*
Sabiq carebesth 5 April 2011
”Memang ia takkan kembali”
Hati yang memerah Terluka dalam hampa Di suatu malam yang sepi
Harapan sudah jadi penantian Ia pergi perlahan-lahan Tertutup debu waktu Gelap dan dingin
Engakau tinggal sendiri Dengan harapan yang jadi menunggu: Ia takkan kembali Ia sudah pergi terjaring sunyi petang tadi
Kau hanya bisa menanti Tapi memang ia takkan kembali
(Sabiq Carebesth: 17 februari 2011)
”Hening”
Aku duduk di atas Melihat langit luas Aku di langit Diterpa angin begini Menghimpit-himpit, sepi....
Dalam hatiku menderu-deru sunyi Kidung-kidung hati Entah,
aku ingin merasai dan sendiri: kepada malam hening bibirmu entah
tiba-tiba waktu menjadi syair getir melam menggambarkan tiada
aku dilangit diterpa angin begini macam rinduku begini rasanya takdirku dan takdirmu dalam hening begini
lalu kedamaian terselip dalam kebisuanmu
(Sabiq Carebesth: 22 Maret 2011)
 ”Pada satu helai bulu matamu”
Aku tak pernah tahu sebening apa tetesan hujan yang jatuh diantara kelopak mata kita malam itu: seberapa hening saat kebeningan itu menimpa satu helai bulu matamu yang selalui kurindui; yang kutahu malam itu kita saling jatuh cinta, diam-diam dan tanpa berisik.
Geteran dari hatimu itu menderu secepat gelombang suara hatimu yang rindu. Menabrak dinding-dinding hatimu yang membatu sebelum akhirnya jatuh dan meneteskan kebeningan dari dalam kelopak mata lembutmu.
Lalu kemanakah kau ingin beranjak berlalu dan menajuh? Kerinduan itu ada dalam hatimu. Sunyi itu ada dalam hatimu.
Dapatkah kau menemukan kembali setetes airmata kita yang menitik diam-diam malam itu? Air mata yang diambilkan kepiluan dari telaga jiwa yang muram, berkabut dan begitu dingin.
“Penjaga Malam” Dia yang berjaga sepanjang waktu Menjaga malam sepanjang malam Mencari dirinya Dihadapan cermin dunia; Yang tak utuh.
Oh, dia terlempar kepada sunyi malam hampir habis Beberapa detik lagi Tapi ia tetap bersiaga Menjaga malam semalaman Masih menunggu kejadian Selagi air pada kelopak mata kekasih mengalir;
berjagalah pada malam
Yang kenyataan terlewat dari pikiran; Sebab kenyataan sudah tak masuk akal.

Oleh : Sabiq carebesth 26/06/09

* penggalan Sajak Sapardji Djoko Damono (2010)
Sabiq Carebesth, Alumni Ponpes Al-iman Bulus , lahir pada 10 Agustus 1985, pecinta buku dan kesenian. Sehari-hari aktif bergiat pada Lingkar Studi Kebudayaan Indonesia (LSKI) dan bekerja sebagai redaktur Jurnal Pertanian&Pedesaan Yayasan Bina Desa Jakarta.
Dimuat di  http://oase.kompas.com/

2 komentar:

  1. fuad ngajiyo9 April 2011 05.47

    mantabbbbb!!!!

    BalasHapus
  2. urusan ngerayu, aku ahlinya apalagi ma kamu....

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.