14.31
2
Dari tahun ketahun, negeri ini terus menerus dikoyak oleh para gembong teroris dengan mengatasnamakan agama. Setiap saat, setiap waktu, kapan saja dan di mana saja, ulah para gembong teroris ini selalu mengancam keselamatan dan mengoyak ketentraman kita dalam menjalankan tugas berbangsa dan bernegara.
Dalam situasi seperti ini sulit rasanya bagi kita untuk bicara Islam sebagai "Rahmatan lil" Alamin" ketika pada faktanya para pembajak agama masih memiliki kesempatan untuk terus-menerus berkeliaran di bumi pertiwi ini.
Sebagai anak bangsa tentu kita tidak ingin melihat negeri ini gagal dalam membangun masa depan, apalagi negeri ini harus menjadi "ladang dan kandang" bagi para pelaku kekerasan dengan mengatas namakan agama.
Sebagian kalangan menilai dan mengaitkan masalah teroris dengan masalah ketidakadilan di Indonesia. Terorisme adalah bahasa yang di gunakan oleh orang-orang yang kecewa terhadap ketidakadilan dan kesenjangan sosial di Indonesia. Meski sesungguhnya masalah terorisme adalah masalah yang sederhana saja: Yaitu adanya kekeliruan dalam menafsirkan doktrin agama, "the perversion of religious interpretation".
Secara tegas, Islam hadir ke bumi ini adalah untuk membangun peradaban moral bukan untuk meluluhlantahkan penduduk bumi. Kehadiran Islam sebagai "Rahmatan lil" Alamin " seharusnya di jadikan pijakan dasar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara secara dinamis. Cita-cita besar ini tidak boleh luntur dari benak bangsa kita.
Ekses dari ulah para pelaku kekerasan ini secara tidak langsung menyeret opini masyarakat ke ranah teologis dengan cukup liar dan sulit untuk di jawab. Yang salah siapa? Tuhan berpihak kemana? kepada siapa?
Secara teologis, Agama datang dengan membawa pesan-pesan moral bagi terwujudnya paradigma peradaban global yang damai, toleran dan sejahtera. Dengan demikian tidak ada pembenaran dengan alasan apapun untuk kita melakukan kekerasan kepada sesama manusia, terlebih lagi jika perbuatan tersebut di lakukan untuk menciderai orang lain.
Dalam alquran dengan banyak ayat menegaskan, bahwa Tuhan tidak pernah netral dalam sejarah. Tuhan selalu berpihak kepada manusia baik dengan kekuatan iman yang tak pernah mati, dari perspektif ini , tentu tidak mungkin Tuhan berpihak kepada petualang penghancur peradaban.
Tak ada jalan bagi bangsa ini ke depan, kecuali harus bahu membahu dari seluruh eleman bangsa secara kolektif untuk melakukan pencegahan secara dini terhadap aksi-aksi terorisme yang mengancam keamanan, keselamatan dan ketentreman dalam berbangsa dan bernegara.
Berbicara masalah terorisme sesungguhnya kita sedang berbicara masalah yang cukup serius bagi masa depan bangsa dan negara ini. Oleh karena itu paling tidak ada beberapa langkah yang harus diupayakan secara serius, konkret dan intensif.
Pertama:
Perlunya upaya yang serius dari aparat keamanan dalam hal ini Polri untuk terus mengejar dan menangkap para dalang teroris serta memberangus akar dan jaringan-jaringan berselubung.
Kedua:
Perlunya upaya serius Polri untuk terus melakukan kontrol di wilayah-wilayah yang rawan dan rentan untuk dijadikan ladang bagi berkembangnya terorisme.
Ketiga:
Pentingnya penyadaran dan pemahaman kepada Masyarakat akan bahaya terorisme dan perlu ketegasan bahwa terorisme bukan hanya musuh bagi negara tapi terorisme adalah musuh bagi agama dan juga musuh bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Keempat:
Pentingnya diselenggarakan kampanye dan gerakan secara nasional "Anti Terorisme" sebagai bentuk tanggung jawab bersama sekaligus sebagai refleksi penolakan bagi bangsa Indonesia terhadap segala bentuk kekerasan dengan atas nama apapun.
Dikirim Oleh : Anang Esbe
Ditulis Oleh Sab'an Yousuf 
31-08-2009, Suara Merdeka

2 komentar:

  1. HY> keluhkesah tentang masa depan Indonesia disebabkan oleh ( terorisme ) tidak bisa hanya ditangani oleh aparat seperti isi pesan tulisan diatas.
    aparat bertindak pada hitam putih hukum berdasarkan bukti akibat peristiwa teror.
    hemat saya semua punya kewajiban untuk mencari solusi masalah tsb. terlebih para ulama yang memang tau masalah akar masalahnya. hanya saja semua elemen harus di bagi tugas. mana tugas aparat, aman tugas ulama untuk membina.

    BalasHapus
  2. HY : poin ke empat itu kan jelas TANGGUNG JAWAB BERSAMA. Bukankah ulama bagian dari "BERSAMA"?

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.