03.36
0

حدثنا أحمدبن بديل بن قريش اليامى الكوفى حدثنا عبدالله بن نمير، عن عمارة بن زاذان عن على بن الحكم عن عطاء عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سئل عن علم علمه ثم كتمه ألجم يوم القيامة بلجام من النار

“Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu yang dimilikinya akan tetapi ia menyembunyikan ilmunya tersebut, maka pada hari kiamat tangannya akan di borgol dalam neraka.”


PENDAHULUAN
Al-Qur’an dan Hadist berulangkali menyuruh umat manusia mencari ilmu walaupun kunci keselamatan manusia di dunia dan di akhirat pada akhirnya tidak ditentukan oleh ilmu itu sendiri, akan tetapi oleh moralitas dan akhlak. Dalam proses penyempurnaan akhlak tersebut ilmu menjadi prasaratnya. Bahkan  Allah secara nyata dalam al-Qur’an mengecam sebagian kaum ilmuwan yang menggunakan ilmunya untuk mendustakan Allah. Dengan demikian ini menunjukkan ilmu tidak menjamin menjadi petunjuk bagi pemiliknya.[1]
            Dalam al-Qur’an ataupun Hadits ilmu disebut sebagai pengetahuan bebas nilai, hal ini terbukti dengan ilmu yang multiguna; bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Ilmu juga bersifat communal dan universal, artinya ilmu adalah milik semua orang dan setiap orang berhak memanfaatkannya.
             Hubungan diametris antara orang yang memiliki ilmu dan sesama manusia dapat dihubungkan menjadi bagian yang terintegrasi, artinya orang yang mengusai ilmu pengetahuan baik laki-laki dan perempuan dalam semua stratifikasi sosial, lintas agama dan budaya harus dapat mengamalkan dan dapat mencerahkan semua orang. Mengutip apa yang dikatakan oleh Y.B Mangun Wijaya bahwa “ilmu merupakan sikap hidup untuk mencintai kebenaran dan membenci kebohongan ….” ini dimaksudkan sebagai orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan, baik ilmu agama atau ilmu umum harus dapat diamalkan, karena dengan transformasi ilmu dan pengetahuan kepada orang lain dimungkinkan untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, dan disinilah letak moralitas bagi kaum intelektual.
            Seorang yang memiliki ilmu pengetahuan seyogyanya bersikap ilmiah dan menjunjung tinggi tanggungjawab profesional dan sosial ditengah masyarakat.
Tanggung jawab  professional dan sosial tersebut adalah fenomena dimana ilmu pengetahuan  dapat berkembang sesuai dengan nilai-nilai moral, sehingga memberi manfaat dan kontribusi bagi kehidupan. Cendekiawan yang melakukan pengkhianatan ilmu, sebagaimana disebutkan oleh Julien Benda,[2] merupakan mental ilmuwan yang tidak bermoral, sehingga dalam hal ini nabi mengancam umatnya yang  menyembunyikan ilmu dan pengetahuannya nanti dalam neraka kedua tangannya akan di borgol. Karena itu Islam sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan bukan hanya dikuasai oleh segelintir orang, namun ilmu dan pengetahuan adalah milik semua orang. (Knowledge for all)

PEMBAHASAN
A.      KRITIK EIDITAS
            Tulisan ini tidak akan membahas pada kritik sanad, akan tetapi pada kritik matannya saja, yakni menyangkut isi dan pembicaraan atau materi berita yang terdapat dalam sanad hadist itu sendiri dengan memperhatikan berbagai aspek dan kriteria kritik matan.[3]
حدثنا أحمدبن بديل بن قريش اليامى الكوفى حدثنا عبدالله بن نمير، عن عمارة بن زاذان عن على بن الحكم عن عطاء عن أبى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من سئل عن علم علمه ثم كتمه ألجم يوم القيامة بلجام من النار

            Artinya “barang siapa yang ditanya tentang ilmu yang dimilikinya akan tetapi ia menyembunyikan ilmunya tersebut maka tangannya akan di borgol dalam neraka.”
Untuk memberikan kontribusi bagi sebuah tekstual hadits maka diperlukan upaya menafsirkan dan memahami suatu hadist secara kontekstual karena mengkontekstualkan hadis merupakan suatu kebutuhan ummat. Menurut Noeng Muhajir (2005) sebuah teks al-qur’an dan hadist merupakan makhluk mati, ia akan hidup jika teks-teks itu ditafsirkan, dimaknai atau di interpretasi.
Tidak mudah untuk mengkontekstualkan hadist, walaupun upaya-upaya pengkontekstualannya berlangsung lama dengan ciri dan kekhasan masing-masing dalam khazanah kepustakaan islam, yang berusaha untuk memahaminya secara kontekstual dalam arti menjawab persoalan-persoalan yang muncul dalam zaman ketika tafsir hadits tersebut tersusun secara operasional dan fungsional. Melihat bahwa hadits merupakan urutan mata rantai yang saling menyambung dari Nabi Muhammad sampai sanad berikutnya, dalam kurun waktu yang panjang disertai dengan perbedaan zaman dan iklim, sehingga sampailah ke generasi berikutnya.   
Menafsirkan sebuah teks berarti dalam rangka untuk menjelaskan dan berusaha mengungkapkan isi dan kandungan yang terdapat di dalamnya. Menurut Fakhruddin Faiz,[4] kontekstualisasi terhadap teks bukan saja merupakan suatu yang diperbolekan, namun lebih dari pada itu merupakan suatu keharusan.
Untuk mendapatkan makna sesungguhnya dari hadits yang diriwayatkan oleh sunan al-Tirmidi tersebut, saya mencoba untuk mendekonstruksi makna yang sekiranya ada korelasi dan makna dibalik konteks tersebut, dengan menggunakan 3 pendekatan yakni, pertama pendekatan Linguistic (kebahasaan), kedua  pendekatan Thematic Komphesrensif, dan ketiga dengan menggunakan Pendekatan Confirmative
1.      Pendekatan Linguistik      
Dalam al-Qur’an terdapat kata ‘Ilm dalam berbagai kata, bentuk dan arti sebanyak + 854 kali. Antara lain sebagai “proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan.”[5] Pembicaraan tentang ilmu mengantarkan kita kepada pembicaraan tentang sumber-sumber ilmu dan orang yang memiliki ilmu serta ragam dan klasifikasinya.
Sementara ahli keislaman berpendapat bahwa ilmu menurut al-Qur’an mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa yang akan datang, fisika maupun metafisika.
Pada seminar international pendidikan islam di Mekkah pada tahun 1997, mengklasifikasikan ilmu menjadi 2 kategori :
1.      Ilmu Abadi (Perennial Knowledge) yang berdasarkan wahyu ilahi yang tertera dalam al-Qur’an dan Hadits serta segala yang dapat diambil dari keduanya.
2.      Ilmu yang dicari (Acquired Knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas dan pengalihan antar budaya selama tidak bertentangan dengan syari’ah sebagai sumber nilai.[6]  
Hadits mengenai barang siapa  ditanya tentang ilmu yang dimilikinya akan tetapi ia menyembunyikan ilmunya tersebut, maka pada hari kiamat tangannya akan di borgol dalam neraka dari segi bahasa tidak menggunakan bentuk amr (perintah)  karena tidak ditemui satupun bentuk fiil amr ataupun fiil mudhari’ yang kemasukan lam al-amri tetapi hanya berbentuk kalimat berita (kabar) yang didalamnya terdapat ancaman bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan namun tidak mengajarkan nya atau menyembunyikan ilmu yang dimilikinya.
Hadist tersebut juga berfungsi untuk memberikan informasi (to inform) yang disampaikan Rasulullah kepada umatnya tentang bagaimana sesungguhnya format yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan, yaitu setidaknya dari pengetahuan yang dimilikinya tidak serta merta menjadikan kekayaan dirinya semata, karena pada prinsipnya ilmu adalah milik Allah. Karena sesungguhnya orang yang memiliki ilmu diberikan posisi yang lebih tinggi dihadapan Allah. Teori ini dibangun atas dasar bahwa sesungguhnya bukan hanya sebagian orang saja yang bisa merasakan derajat yang tinggi namun selayaknya derajat-derajat tersebut dibagi ratakan kepada ummat.[7]

2.      Pendekatan Tematis Komprehensif
Ilmu merupakan modal kehidupan manusia yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Tanpa ilmu, orang ibarat berjalan di kegelapan yang tanpa lampu. Karena pentingnya ilmu, maka nabi pernah mensabdakan tentang kewajiban untuk mencari ilmu. Baik kaitannya tentang agama atau tentang sisi kehidupan lainnya.
Menurut penulis sumber-sumber ilmu adalah: Allah, Alam, Hewan dan Manusia. Namun dalam pembahasan ini yang dijadikan rujukan adalah ilmu yang bersumber dari manusia itu sendiri karena pada hakekatnya proses interaksi dapat terjadi lebih banyak melalui dialektika antar manusia.
Untuk itu orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan ketrampilan hendaknya mengajarkan ilmu yang dimiliki kepada orang lain, dan tidak menyembunyikan apa-apa yang dimiliki, karena nabi melarang umatnya untuk berbuat demikian. Proses interaksi dan transfer ilmu dan pengetahuan idealnya adalah dengan niat ikhlas dan tanpa tendensi dan kepentingan.
Maka idealnya ilmu dan pengetahuan yang di transfer oleh manusia, lembaga pelatihan, lembaga pendidikan (formal dan non formal) dan lainnya haruslah dapat diakses dengan mudah  dan gratis, sebagaimana yang tertera dalam pasal 4 ayat 1, 2, 3, dan 6, antara lain: [8]
Ayat 1 berbunyi “…diselenggarakan secara demokratis ,berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia ….”
Ayat 2 berbunyi “pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan….”
Ayat 3 berbunyi: pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat”
Karena dalam ilmu terdapat pesan dan informasi yang sangat sarat dengan nilai-nilai maka ilmu harus di internalisasikan kepada semua orang dengan menyebarkannya, dan penyebarluasannya dianggap sebagai amal jariah ( sodaqoh) sebagai mana hadist yang berbunyi;
أفضل الصدقة أن يتعلم المرء المسلم علما ثم يعلّم أخاه المسلم
Artinya: “sebaik-baik sodaqoh /amal jariyah adalah orang yang menuntut ilmu, kemudian dia mengajarkan nya kepada muslim lainnya.”
Ilmu seperti informasi, maka seseorang yang terlebih dahulu memperolehnya harus menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain, sebagaimana sabda rasulullah:
بلغوا عنى ولو آية
Artinya: “Sampaikanlah apa-apa yang kamu miliki /dapati walau satu ayat”   
Sehingga apabila ilmu yang kita miliki kemudian diamalkan kepada orang lain baik berupa teori ataupun praktek, maka akan makin bertambah dan makin bermanfaat pula bagi orang banyak.

3. Pendekatan Konfirmatif
   Fungsi al-Qur’an dan Hadis adalah saling berhubungan dan keterkaitan (mutual symbiosis), dari keduanya dapat saling melengkapi, kedudukan al-Qur’an yang masih samar maksud dan maknanya dapat diperjelas dengan kedudukan al-Hadis. Sehingga antara al-Qur’an dan al-Hadis adalah sejoli yang saling mengisi
   Al-Qur’an menyatakan pentingnya penguasaan ilmu dan pengetahuan dan al-Qur’an meninggikan posisi orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Karena ilmu pulalah nabi Adam dan keturunannya memiliki posisi dan derajat yang tinggi di atas para malaikat. Dalam al-Qur’an disebutkan tentang posisi dan urgensinya ilmu Yang Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Dalam surat al-Zumar (39) : 9 Allah membandingkan antara orang yang memiliki ilmu dan yang tidak berilmu,

Katakanlah apakah orang-orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu itu sama? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Kedua dalam surat al-Mujadalah (58) : 11 Allah menegaskan :
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Sudah selayaknya ilmu untuk diamalkan, karena ilmu yang didapatkan oleh manusia adalah bagian dari kulit luar dan bagian kecil dari ilmu yang dimiliki Allah, sebagaimana Allah berfirman:
Artinya : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh katakanlah sesungguhnya ruh itu dari Tuhanku dan kamu tidak di berikan ilmu kecuali hanya sedikit. (Al-Isra: 85)

B. ANALISIS HISTORIS (ASBABUL WURUD)
Analisis kesejarahan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan turunnya sebuah teks, baik teks al-Qur’an maupun al-Hadist. Dalam analisis kesejarahan paling tidak akan ditemukan hubungan sebab akibat dari fakta-fakta tersebut. Begitu juga dalam turunnya al-Qur’an terdapat sebab musabab tendensi yang berupa prediksi-prediksi yang mungkin akan terjadi, maka hal ini lah yang mempengaruhi turunnya sebuah teks, dalam al-Qur’an dikenal dengan asbabunnuzul, sedangkan dalam studi al-hadist dikenal dengan asbabulwurud.
Begitu juga tentang hadist yang diriwayatkan ini, walau pun penulis belum menemukan akar kesejarahannya, paling tidak terdapat masalah yang terjadi ketika rasulullah masih hidup, yang diadukan oleh sahabatnya ataupun dengan memakai analisis hypothetic predictive, kemungkinan nabi sendiri memprediksikan bahwa akan terjadi pada umatnya permasalahan tersebut, yakni tentang pengamalan ilmu seseorang yang tidak memperdulikan orang lain, yakni pelit terhadap ilmu yang mereka miliki yang kemungkinan juga ingin menghegemoni ilmu itu sendiri.
Seperti yang terjadi saat sekarang ini seolah-olah ilmu pengetahuan dan ketrampilan hanya segelintir saja yang bisa menguasai dan dapat mengaksesnya. Dengan mahalnya biaya pendidikan, tingginya  pungutan-pungutan kepada peserta didik, sehingga sangat merugikan kaum du`afa, yang pada akhirnya ilmu bukanlah milik semua orang namun bagi mereka yang memiliki kelebihan dan kemampuan finansial saja.

C. Analisis Generalisasi
          Al-Hadist yang sampai kepada umat manusia mengandung makna-makna yang berupa nilai-nilai (values) dan hikmah (wisdom) di balik semua teksnya.(read the hadits behind the text)
          Ada beberapa makna dan nilai yang terkandung dalam hadis tersebut di atas, antara lain :
1.      Dalam hubungannya dengan relasi sosial, dengan sodaqoh ilmu, dapat meningkatkan hubungan personal dan interpersonal.
2.       Ilmu tidak di monopoli dan dikuasai oleh sebagian ummat manusia namun ilmu merupakan bagian universal untuk orang-orang yang berfikir.
3.      Metode menyampaikannya bisa secara langsung ataupun tidak langsung, dan ilmu tidak dijual belikan, namun sifatnya adalah komunal dan gratis. Maka dengan sistem kapitalis dan liberalis, baik pada pendidikan agama ataupun umum maka konsekuensinya adalah “mungkin mereka adalah bagian dari orang-orang/lembaga yang akan di borgol tangannya dalam neraka.”
4.      Manusia harus berusaha dan tetap  optimis untuk memperoleh dan mendapatkan ilmu tuhan, baik yang terdapat pada alam, manusia dan melalui sifat-sifat-Nya.

2. KRITIK PRAKSIS
Kritik praksis dipakai untuk mencoba merekonstruksi teks, sehingga memiliki makna dalam realitas empirik. (read the hadits on front of the text) Dalam hal ini manusia adalah media Allah untuk menyampaikan pesan, lewat interaksi antar manusia dengan manusia akan tercipta dan akan ditemukan ilmu-ilmu Allah. Karena dalam beberapa ayat al-Qur’an ditemukan pujian-pujian Allah terhadap manusia seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bermacam bentuk dan keadaan yang sebaik-baiknya (at-tin(95)5), penegasan tentang dimuliakannya makhluk ini disbanding dengan ciptaannya yang lain (Q.S. al-Isra’ (17): 70). Akan tetapi disamping itu sering pula manusia mendapat celaan karena amat aniaya dan mengingkari nikmat (Q.S Ibrahim (14):34, sangat banyak membantah (Q.S Al-kahfi (18):54 ), bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S al-Ma`arif (70):19). Sehingga mungkin ada korelasi antara hadist nabi yang menyatakan bagi siapa yang menyembunyikan ilmunya, akan diancam dengan siksa di neraka. Barangkali ini juga yang terjadi terhadap manusia. Ilmu- ilmu yang didapatkan baik ilmu dunia dan akhirat kadang-kadang tidak partisipatif dalam rangka peningkatan intelektual sesama ummat, inilah bagian dari realitas dimana ada sebagian ummat nabi berlaku kikir terhadap ilmu yang dimilikinya tidak mendistribusikannya kepada orang lain.
            Makna yang dapat kita ambil dalam hadist tersebut jika dihubungkan dengan realitas empirik yang serba kapitalis adalah, dalam laju rotasi alam postmodern dan kapitalis semuanya diukur dengan barang dan uang, sehingga kadang–kadang bersifat non materialistik juga riskan terhadap dunia sekitarnya, sehingga mungkin konsep-konsep yang ditemukan lembaga-lembaga pendidikan kita seperti menggunakan prinsip dan logika pasar.

Kesimpulan
Setelah melakukan beberapa kegiatan kritik matan tentang hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi tersebut dapat disimpulkan:
1.      Ilmu wajib dicari, baik kepada Allah, manusia dan alam semesta.
2.      Ilmu dan pengetahuan adalah milik bersama, dan idealnya didapat secara gratis
3.       Hadist tersebut juga mengisyaratkan perlunya ikatan emosional antar sesama muslim untuk penyebaran keilmuan.



Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya, Jakarta, Depag RI Jakarta.
Abu Syuhbah, Muhammad. Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Sihah al-Sittah, Majma’ al-Buhus al-Islamiyyah : Kairo, 1389 H = 1969 M.
Anonim (Dewan Redaksi Eksiklopedi Isalm), Ensiklopedi Islam. Vol. II. Ictiar van Hoeve : Jakarta, 1994.
CD ROM Mausu`ah al-Hadis al-Sarif, 1991-1997, VCR II, Global Islamic Software Company / Sirkah al Baramij al-Islamiyah ad-Dauliyah.
Al-Hasani, Muhammad bin Alawi al-Maliki. al-Manhaj al-Latif fi Usul al-Hadis al-Syarif, t.p. : t.k., t.th.
Al-Husaini, Abd al-Majid Hasyim. Usul al-Hadis al-Nabawi: `Ulumuh wa Maqasiyuh, Dar al-Suruq: Kairo, 1406 H=1986 M.
Ismail Sya’ban, Muhammad, al-Madkhal li Dirasah al-Qur’an wa Sunnah, Dar al-Ansari : Kairo, t.th.
Al-Khatib, M. `Ajjaj. Usul al-Hadis `Ullumuhu wa Mustalatuhu, Dar al-Fikr: Beirut, 1409 H=1989 M.
Endang Soetari, Ilmu Hadis. Bandung : Amal Bakti Press, 1997.
Hermeneutika Qur’ani, antara teks, dan kontekstualisasi, Yogyakarta : Qalam
Muslim bi al-Hajjaj, Abu al-Husain. Sahih Muslim, Juz 1 dan II, Dar al-Fikr : Beirut, 1412 H = 1992 M
Nurhaedi, Dedi. Studi Kitab Hadis, Penerbit TERAS berkerja sama dengan TH-Press : Yogyakarta, 2003.
Rahman, Fatchur. Ikhtisar Musthalahu al-Hadis, al-Ma’arif : Bandung, 1987.
Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1996.
UU Sisdikanas RI Nomor 20 tahun 2003, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006.



[1] Lihat surat al-Baqarah (2) : 204 dan surat al-Hajj (22) : 3.
[2] Lihat Julien Benda, Pengkhianatan kaum Cendekiawan.
[3] Endang Soetari, Ilmu Hadis. Bandung : Amal Bakti Press, 1997, hlm. 9.
[4] Lihat Hermeneutika Qur’ani, antara Teks, dan Kontekstualisasi, Yogyakarta : Qalam, hlm. 8.
[5] Lihat al-Qur’an Surat al-Baqarah 31-32.
[6] Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung : Mizan, hlm. 62.
[7] Maksudnya tempat dan kedudukan (derajat di sisi-Nya) tidak dimonopoli oleh orang yang berilmu lebih awal, namun bisa dimiliki oleh siapa saja asalkan berilmu.
[8] Lihat UU Sisdikanas RI Nomor 20 tahun 2003.

                                                    Dikirim oleh : Muhammad Jafar Shodiq

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.