23.45
11


Oleh : Rohani *)

Tulisan ini saya tulis sebagai wujud “kenakalan” pikiran saya untuk berbicara  atas pilihan isteri saya yang dalam aktifitas kesehariannya merasa lebih sreg dan nyaman memakai celana jeans dan berkaos (terkadang ketat) walaupun sejak kecil jika keluar rumah, ia selalu berjilbab (tepatnya: berkerudung sebagai penutup kepala).  Dalam hal ini, saya tidak sedang melakukan pembenaran ataupun sedang ber-apologi ria untuk membela isteri saya yang - karena pilihannya untuk berpakaian seperti itu- pernah diprotes dan didakwahi oleh seorang teman aktivis rohis di kampusnya, sebuah Universitas Negeri di kota Semarang. Kata teman isteri saya yang bermadzhab jilbabers (sebutan untuk orang-orang yang berjilbab besar) tersebut bahwa “muslimah itu, kalau berpakain  yang islami, pakai rok, berkaus kaki dan jilbab besar yang bisa menutup semua aurat wanita dan yang lebih utama menutup semua wajah kecuali mata”.  
Atas “petuah” dari temannya tersebut kemudian isteri saya minta semacam “petunjuk” kepada saya. Waktu itu jawaban saya “jika kamu merasa nyaman dengan berpakaian seperti itu, tetaplah kamu pada pilihanmu”. Dari situlah isteriku mantep untuk tetap pada “jati dirinya” dalam berpakain, sebuah gaya busana yang trend, modis dan - bahasa anak muda - gaul. Tentang jilbab ini Allah memang berfirman dalam salah satu ayat-Nya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Menurut para mufassir, sebagai mana dikutip oleh Bintu Syatt’i (1998) ayat ini diturunkan ketika ada seorang muslimah yang keluar malam untuk ”buang hajat”, namun diintai oleh para laki-laki “nakal”,  begitu perempuan itu menyadari ada yang ngintip kemudian dia lapor pada Nabi Muhammad saw, setelah itu turunlah ayat ini.
Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan –setidaknya menurut saya- bahwa perintah berjilbab itu hanya –sebagimana tersurat dalam ayat diatas-  supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu, tidak lebih dan tidak kurang, artinya jilbab hanya sebagai “identitas pembeda” antara mereka yang muslimah dengan yang bukan. Dan karena hanya sebagai “identitas” maka berjilbab atau tidak adalah sebuah pilihan.
Di mata saya, pilihan isteri saya untuk berjilbab dengan jeans ketat dan kaos itu, disamping karena alasan “teknis” karena kuliahnya mengambil jurusan seni budaya yang dituntut untuk selalu berpenampilan trendi dan modis, dia mewakili suatu gelombang budaya baru anak-anak muda Islam yang meskipun modis tetapi tetap berkerudung. Persis sebagimana mbah-mbah dan simbok saya dulu yang hanya memakai kemben dan tutup kepala biasa (katakanlah: kerudung, tapi hanya menutupi rambutnya saja dengan telinga dan leher tetap kelihatan) dalam beraktifitas seharian. Kecuali ke sawah yang tutup kepalanya menggunakan caping (Wonosobo: tudung) sebagai penghalang dari sengatan panasnya sengatan matahari di siang bolong. Bisa dibayangkan bagaimana susah dan repotnya jika untuk pergi ke sawah para ibu-ibu atau gadis remaja muslimah kita diwajibkan memakai pakaian “islami” yang besar-besar dengan jilbab yang menutupi semua wajahnya itu, bagaimana ribetnya menanam padi dengan pakaian yang seperti itu?.
Memang ada sebuah hadits yang diriwatkan oleh Sahabat Abu Hurairah r.a tentang “wanita yang berpakaian tapi telanjang.”  (baca: Shahih Muslim, Hadits Nomor: 2128). Namun hadits tersebut tidak lantas dapat dipahami sebagai keharaman memakai celana  jeans bagi wanita, karena para ulama’ pun bersilang pendapat dalam hal ini, sebagian besar tidak menghukumi haram, namun sebatas makruh.
Apa yang dilakukan oleh isteri saya itu adalah bentuk penghayatan terhadap kultur (budaya) populer yang ada di tengah-tengah pergaulan sehari – hari. Isteri saya yang dituntut oleh dunianya (dunia seni dan budaya) untuk berpenampilan modis, tentu akan merasa kerepotan jika harus berbusana sebagaimana arahan teman rohis-nya tadi. Tetapi, seraya dengan itu, dia tetap menjaga salah satu “identitas” keislaman, yaitu jilbab. Dalam hal ini saya sependapat dengan Mas Ulil Abshar Abdalla (2008) “Meskipun di mata saya jilbab bukan satu-satunya pakaian yang “Islami”, tetapi di mata banyak masyarakat Islam, termasuk di Amerika, jilbab jelas mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pelbagai jenis pakaian yang lain. Di mata mereka, jilbab tetap dipandang sebagai cerminan dari identitas keislaman yang membedakan mereka dari masyarakat yang lain”.
Menjadi seorang wanita Muslimah tentu tak berarti mengisolir diri dari masyarakat sekitar dengan menutup seluruh tubuh dengan pakaian tradisional ala masyarakat Afghanistan seperti Burqa. Menjadi Muslimah yang baik bisa terlaksana dengan jilbab, plus jeans, dan kaos yang melambangkan kebudayaan populer masyarakat setempat. Dengan kata lain, jilbab bukanlah halangan bagi wanita Muslimah untuk melakukan asimilasi dalam kebudayaan lokal. Jilbab bisa bersandingan secara damai dengan ekspresi kultural masyarakat setempat.
Saya sungguh senang melihat pemandangan gadis berjilbab, dengan celana jeans dan kaos di tengah-tengah masyarakat kita. Itulah lambang “koeksistensi” antara Islam dan budaya lokal, antara keislaman dan keindonesiaan. Keislaman dan keindonesiaan bisa saling berdialog, membaur, saling memperkaya, sebagai mana yang dicontohkan para Wali Songo dalam melakukan akulturasi dan “mengawinkan” antara budaya Jawa dengan ajaran Islam, inilah makna penting dari kaidah al-‘adah muhakkamah (adat istiadat dan budaya bisa dijadikan sebagai hukum) selagi kaum muslim menilainya baik, maka kebudayaan tersebut, baik pula adanya.
Perbedaan kebudayaan dan pandangan “ hukum baik” oleh kaum muslim ini selalu berubah tergantung kondisi sosial dan geografis (‘illat) yang melingkupinya, dalam bahasa ushul fiqh dikenal kaidah al-hukmu yaduru ma’a illatih wujudan au ‘adaman  (al-Sayuthi: tt). inilah semangat dari visi Islam yang lentur dan selalu dapat sesuai untuk segala zaman dan letak geografis (shalih likulli zaman wa makan) sebagimana sering kita jumpai dalam tulisan-tulisan Gus Dur.
Kaum Islam fundamentalis (sebutan untuk pemeluk Islam yang tekstualis dan kaku) di mana-mana mengira bahwa menjadi Muslim sama saja dengan menyingkirkan budaya lokal yang dianggap sebagai mengotori kemurnian Islam. Mereka menganjurkan umat Islam untuk menegakkan “dinding isolasi” yang tebal antara Islam dan non-Islam melalui konsep “al-wala’ wa al-bara’“, loyalitas dan dis-loyalitas, konsep yang dipopulerkan oleh Ibn Taymiyah itu (Ulil Abshar Abdalla: 2008).
Yang menggelikan adalah bahwa kaum Islam fundamentalis itu menganjurkan kembali kepada Islam yang “murni” dengan cara mengadopsi simbol-simbol kearaban. Mereka mengira bahwa memelihara jenggot, memakai jubah putih dan sorban, menutup seluruh tubuh perempuan rapat-rapat adalah identik dengan Islam yang murni. Mereka tak sadar, bahwa itu semua adalah budaya Arab yang tak harus identik dengan Islam itu sendiri. Kaum Islam fundamentalis tak sadar bahwa menjadi Muslimah yang baik bisa diterjemahkan melalui penutup kepala (tudung), celana jeans, dan T-Shirt yang melambangkan sebuah kebudayaan populer di masyarakat modern.
Apa yang dilakukan oleh isteri saya dan remaja putri dengan jilbab dan celana jeans-nya itu menandakan bahwa jilbab dengan celana jeans bisa menjadi sarana untuk asimilasi, bukanlah isolasi dalam pergaulan dan beraktifitas sehari-hari, bukan?.

*) Penulis adalah Alumnus Pesantren Al-Asy’ariyyah Wonosobo (1996) dan Pesantren Al-Iman Purworejo (2000), Ketua PC. IPNU Kab. Wonosobo (2005-2007)

11 komentar:

  1. sebagaian dari mereka menganggap bahwa pendapat anda itu hanya bentuk pembelaan semata dengan pencarian alasan2 yang kuat yang gak bakalan diterima.. piye jal

    BalasHapus
  2. Mufti Suriah, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun menyatakan bahwa niqab(cadar) hanyalah sebuah adat internal yang ada dalam masyarakat moderat Suriah. Ia berkeinginan berkunjung ke beberapa negara, guna memberitahukan bahwa niqab bukanlah bagian dari agama Islam.

    BalasHapus
  3. رحم الله المتسرولات من النساء ) أي الذين يلازمون لبس السراويلات بقصد الستر فلبس السراويل سنة وهو في حق النساء آكد

    BalasHapus
  4. @Agus: apapun prasangka atau pendapat mereka, minimal aku telah ber"ijtihad" dengan meyakini bahwa apa yang aku tulis dan apa yang aku sampaikan ke isteriku adalah sesuatu yg baik2 saja menurut pemahaman yang saya ketahui, suatu yang tidak bermasalah bagi perempuan2 Indonesia, sesuatu yang simple dan mudah dari pada menutup semua anggota tubuh wanita, yang justeru menurut saya, akan semakin "mengebiri" peranan wanita di ruang publik....bercelana bagi wanita itu menurut saya justeru lebih aman dari pelecehan seksual, lebih aman dan nyaman jika naik sepeda/motor/kuda....
    @Mas Anang: itulah mas, sayangnya mereka tidak pernah mengkonsumsi kitab2 kaum sunni, sejauh yg saya ketahui, cadar itu memang budaya yg sudah ada jauh hari sebelum Kanjeng Nabi Muhammad diutus untuk menyampaikan ajaran Islam...

    BalasHapus
  5. @Mas Anang: mohon informasi tentang "Allah merahmati wanita-wanita yang mengenakan celana...dst..." itu perkataan siapa di kitab apa?, biar bisa dijadikan bahan diskusi di forum ini... thanks

    BalasHapus
  6. @Edy: itu di kitab faidlul qadir, syarah jami'us shaghir, huruf ra', tadi lupa blm ta' cantumke

    BalasHapus
  7. bahjah numilang5 Mei 2011 02.40

    jadilah wanita sholihah batin lahir solih dikampus dimasyarakat dirumah menjadi contoh yang baik bagi anaknya bagi temanya bagi suaminya (hususon) bagi agama dan bangsa insaallah mendapat ridho ilahi Amiin

    BalasHapus
  8. @mas anang: nembah nuwun tambahan informasinya mas... jazakumullah....
    @Bilal:Wanita shalihah adalah idaman semua orang, shalihah adalah "baik", ukuran baik-pun relatif, apa yang baik di tempat saya, belum tentu dianggap baik ditempat lain, dulu wanita memakai kemben, sekarang memakai celana dll, shalihah merupakan wanita yang menyenangkan jika dipandang (suaminya), yang santun dan halus dalam bersikap, yang dapat menjaga diri (muru'ah) dan harta bendanya, itu jauh dari cukup bagi saya...

    BalasHapus
  9. Bahjah numilang5 Mei 2011 17.40

    Salihah Sebuah proses dn harus jdi fisi misi hidup untk setiap wanitaku hee . .

    BalasHapus
  10. Tergantung niatan sebenarnya....

    BalasHapus
  11. Jika kita berniat untuk mencari hal yang sebenarnya benar, bisa diterima dengan benar. Namun jika hanya melindungi kekurangan, itu belum tentu benar....

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.