23.50
0
Oleh : Anang Esbe
DAMAI adalah keindahan yang paling eksotis dalam hidup ini. Tak ada manusia yang tak ingin hidup dalam kedamaian dan ketenteraman. Tapi sayang, kedamaian yang abadi hanya ada di surga. Perang jelas melahirkan situasi sengsara yang sejatinya tidak disukai oleh selera manusia. Tapi sayang, ada banyak hal di dunia ini yang hanya bisa dicapai atau diselesaikan dengan kilatan pedang, desingan peluru, lalu darah yang tumpah ruah.

“Ketahuilah, perang dan berbagai macam pertempuran tak pernah bisa hilang dari umat manusia semenjak mereka diciptakan Allah. Asal mulanya, karena ada orang yang ingin menyerang orang lain. Lalu, masing-masing dari mereka mendapat pembelaan dari kelompok pendukungnya. Bila pembelaan itu telah memuncak, kesepakatan tercapai, satu kubu ingin menyerang dan yang lain melakukan pembelaan, maka meletuslah perang. Ini sudah menjadi bagian dari pembawaan alamiah manusia. Ada yang berperang karena membela orang lain, ada yang karena menunjukkan gengsi, ada yang karena ingin melakukan penganiayaan, ada yang karena membela Allah dan agama-Nya, ada pula yang membela kekuasaan dan berupaya untuk mengokohkannya.” (Ibnu Khaldun).
Damai adalah pondasi awal sekaligus cita-cita akhir. Tapi sayang, damai saja tidak cukup untuk bisa mempertahankan keberadaan sesuatu atau memperjuangkan terwujudnya sesuatu. Sebab, pikiran dan keinginan manusia tidak pernah sama; berbagai kepentingan dan cita-cita mereka saling bertabrakan. Untuk bertahan pun kadang harus siap bertabrakan. Maka, oleh 
karena itu, Allah Subhânahu wata‘âlâ berfirman :

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ (39) الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَنْ يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ 
لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40)

(Perang) telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi. Karena, sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa menolong mereka. (Yaitu), orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, “Tuhan kami hanyalah Allah”. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat dan masjid- masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah… (QS al-Hajj [22]: 39-40)

Firman ini menegaskan bahwa izin perang yang pertama kali diberikan kepada umat Islam adalah untuk mempertahankan diri. Tanpa pembelaan dan perang, maka tempat-tempat ibadah akan hancur, sebab kebenaran pun butuh kekuatan untuk bisa bertahan, apalagi untuk bisa menyebar.
Nabi Isa ‘Alaihissalâm senantiasa menyerukan perdamaian, tapi yang beliau dapatkan justru upaya pembunuhan. Pengikutnya tak pernah lepas dari kekejaman dan penindasan para penguasa. Nasib pahit itu baru berakhir ketika mereka mulai mau berperang, 300 tahun kemudian, di bawah bendera Kaisar Romawi, Konstantin II. 
Begitu pula Rasulullah Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam. Dalam menyikapi orang-orang kafir Makkah yang menentang dakwahnya Allah memerintah beliau:


فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Artinya: Maka berpalinglah engkau dari mereka dan katakanlah, “Salam.” Kelak mereka akan mengetahui. (QS az-Zukhruf [89]: 43).

Allah memerintahkan beliau untuk menghadapi segala penolakan mereka dengan “salam”. Kata “salam” makna aslinya adalah damai. Dan, yang dimaksud salam dalam ayat tersebut adalah membiarkan mereka.
Selama 13 tahun di Makkah dan beberapa saat di Madinah, Islam menerapkan perdamaian yang mutlak. Hingga, dalam keadaan kritis pun — semisal kesepakatan boikot yang dilakukan oleh Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutthallib — Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak menyerukan perang. Beliau menghadapinya dengan asas dan komitmen damai. Hal itu menunjukkan bahwa Islam dibangun dengan pondasi awal yang berupa kedamaian. Dan, hal itu terus dipegang teguh sebagai latar belakang utama kecuali bila terdapat kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan perang. Perang sama sekali bukan tujuan, perang hanyalah sarana untuk bertahan atau memperjuangkan kebenaran.
Perdamaian sangat dijunjung tinggi oleh Islam, baik dalam konteks internal umat Islam ataupun dalam konteks hubungan umat Islam dengan umat-umat lain. Para ulama merumuskan hubungan sosial tersebut menjadi empat bagian. Pada masing-masing bagian itu, Islam menunjukkan komitmen yang nyaris mutlak terhadap perdamaian, kecuali dalam konteks hubungan umat Islam dengan orang-orang kafir yang menjadi musuh politik/militer mereka.
Pertama, konteks internal sesama Muslimin. Perdamaian sesama Muslimin merupakan tujuan yang nyaris mutlak harus diwujudkan (ukhuwah islamiyah). Namun, perang terhadap sesama Muslim boleh saja terjadi apabila terdapat sekelompok Muslimin yang memiliki kekuatan terorganisir melakukan aksi-aksi pengacau atau melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah (bughat). Perdamaian sesama Muslimin diperintahkan dengan sangat tegas 
dan jelas dalam QS al-Hujurat [49]: 9-10.
Kedua, konteks non Muslim yang berada dalam perlindungan pemerintahan Islam (ahlud-dzimmah). Mereka adalah rakyat yang mendapat jaminan perlindungan yang sama dengan orang-orang Islam. Musuh mereka secara politik juga menjadi musuh umat Islam karena mereka sudah menjadi bagian dari negara Islam itu. Dalam urusan duniawi semisal perdagangan dan lain sebagainya mereka bercampur baur dan berada dalam posisi yang sama dengan orang-orang Islam. Dalam masalah ritual keagamaan tidak boleh terjadi campur baur, namun mereka tetap bebas melakukan ritual keagamaan mereka tanpa gangguan sedikitpun dari kaum Muslimin. 
Ketiga, non Muslim (di luar negara Islam) yang mengikat perjanjian damai dengan kaum Muslimin (ahlush-shulhi atau ahlul-‘ahdi). Maka, prinsip yang senantiasa dipegang dengan kokoh oleh Islam adalah mematuhi segala apa yang telah menjadi kesepakatan dengan mereka. Orang Islam dilarang keras melakukan pelanggaran terhadap perjanjian tersebut. 
Keempat, non Muslim yang menjadi musuh politik/militer umat Islam (kâfir harbi). Maka, jihad dan perang dianjurkan untuk diterapkan kepada mereka sesuai dengan kebijakan dari pemimpin Muslimin saat itu. Perang itu dilakukan dengan tujuan agar mereka tidak menjadi ancaman bagi Islam, atau dengan tujuan untuk membuka jalan dakwah yang baru di tengah-tengah mereka. Dakwah tidak mungkin dilakukan di sebuah negara yang sedang menjadi musuh politik umat Islam. Maka, oleh karena itu perlu dilakukan perebutan terhadap otoritas politik mereka. Jika otoritas politik itu sudah didapat maka jalan dakwah menuju kebenaran menjadi terbuka serta mendapat jaminan dan perlindungan yang memadai.
Namun demikian, meskipun jihad melawan kafir harbi diperintahkan, tapi hal itu tidak berarti setiap kafir harbi harus diperangi. Perang dilakukan dengan pertimbangan matang serta didasarkan pada situasi dan hubungan politik yang terjadi. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk berdamai jika musuh cenderung kepada perdamaian (QS al-Anfal [8]:61). Allah juga memerintahkan untuk memberikan perlindungan keamanan terhadap orang kafir harbi yang datang meminta perlindungan (QS at-Taubah [9]:6).
Dengan demikian, jelas sekali bahwa Islam membangun pondasinya dengan kedamaian dan memahat cita-citanya juga dengan kedamaian. Hanya saja, kedamaian mutlak memang tak mungkin terjadi di dunia, apalagi ketika kita ingin mengubah sesuatu dalam skala yang besar. 
Untuk bisa memiliki sawah yang baru, kita kadang harus membabat rimba dan mengenyahkan penghuni-penghuninya yang membahayakan