10.24
0
Oleh Ulil Abshar-Abdalla*

Dimuat di Jurnal Nasional, 3 Mei 2011

.... dibutuhkan “jihad intelektual” yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman keagamaan yang toleran, pluralistik, dan berwawasan terbuka. Sikap keagamaan yang tertutup dan membenci perbedaan potensial berkembang lebih jauh menjadi sikap mengeras melawan mereka yang dianggap “di luar” kelompok sendiri.
Jihad ini membutuhkan topangan dari dua pihak sekaligus. Pertama, dari pihak pemerintah dalam bentuk dukungan terhadap golongan-golongan keagamaan yang moderat, serta tindakan tegas bagi mereka yang hendak mengembangkan “wacana kebencian” terhadap kelompok yang berbeda. Kedua, pihak tokoh-tokoh agama dan kelompok-kelompok sipil dalam masyarakat. Mereka juga mempunyai peran penting untuk menyediakan lahan subur bagi berkembangnya paham yang toleran.

ADA beberapa rangkaian peristiwa yang mengejutkan kita akhir-akhi ini. Yang pertama, sejumlah bom buku yang dikirim kepada sejumlah orang, termasuk saya sendiri, 15 Maret. Kemudian, sebulan kemudian, bom meledak di kantor Mapolresta Cirebon, 15 April.

Beberapa saat setelah itu, sebuah bom diletakkan di dekat sebuah gereja di Serpong dan berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian, 21 April. Keberhasilan polisi untuk menggagalkan bom Serpong itu dimungkinkan karena ada 19 terduga pelaku bom buku yang berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. Dari merekalah rencana pemboman gereja di Serpong itu terungkap, persis sehari sebelum upacara Paskah.

Apa yang bisa kita pelajari dari rangkaian peristiwa ini? Sekurang-kurangnya ada dua pelajaran penting. Pertama, seberhasil apa pun usaha pemerintah untuk memerangi terorisme dan jaringannya selama ini, sumber terorisme belum bisa “dikeringkan” secara menyeluruh. Munculnya generasi baru dalam kelompok ini, seperti diperlihatkan oleh 19 orang (beberapa di antaranya adalah lulusan dari Universitas Islam Negeri [UIN] Jakarta), menunjukkan bahwa regenerasi di kalangan para teroris terus berjalan. Kedua, meski tidak secepat yang kita harapkan, pihak kepolisian akhirnya berhasil menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam tiga pemboman terakhir.

Keberhasilan kepolisian ini menepis sejumlah skeptisisme masyarakat tentang kemampuan pihak kepolisian untuk mengungkap “otak” tiga aksi pemboman terakhir.

Kita tentu patut memberikan apresiasi yang tinggi pada pihak kepolisian karena pada akhirnya berhasil menangkap para tersangka tersebut. Ini memperlihatkan bahwa negara hadir untuk memastikan terciptanya keamanan bagi masyarakat luas. Kita tentu berharap, pemerintah akan melakukan tindakan yang cepat dan tegas dalam kasus-kasus lain, secepat dalam menangani masalah pemboman tersebut.

Perayaan Paskah tahun ini, akhirnya, bisa diselenggarakan dengan aman—keadaan yang tentu sangat diharapkan oleh umat Kristiani yang selama ini mengalami banyak kesulitan di beberapa tempat untuk membangun rumah ibadat. Kita tidak bisa membayangkan apa keadaan yang terjadi jika “bom Paskah” di Serpong itu gagal diungkap dan akhirnya meledak saat upacara Paskah pada esok harinya. Sudah pasti hal ini akan menimbulkan kepanikan di kalangan umat Kristiani, dan juga hilangnya rasa percaya masyarakat pada kemampuan pemerintah untuk menyediakam rasa aman bagi masyarakat.

Kritik beberapa pihak terhadap penerapan Siaga I setelah terjadinya beberapa rentetan bom beberapa waktu lalu sebetulnya kurang beralasan. Ancaman bom jelas sangat nyata akhir-akhir ini. Jika tidak ditangani secara serius, hal ini akan menimbulkan implikasi dan ramifikasi masalah yang rumit, baik dari sudut keamanan yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan ekonomi kita, atau dari segi jaminan bagi kehidupan keagamaan yang plural dan damai.

Penerapan Siaga I menunjukkan bahwa pemerintah bersungguh-sungguh dalam menangani masalah terorisme, lebih khusus lagi masalah pemboman. Fakta bahwa pada akhirnya perayaan Paskah bisa berlangsung dengan aman tidak bisa dilepaskan dari kesungguhan pemerintah dalam menangani masalah ini. Kesungguhan dengan kualitas Siaga I inilah yang sebetulnya kita harapkan dari pemerintah untuk menangani kasus-kasus kekerasan lain yang menimpa sejumlah kaum minoritas di negeri ini. Jika kesungguhan semacam ini ditunjukkan oleh pemerintah dalam menangani kasus tersebut, maka jelas “reputasi politik” pemerintahan Presiden SBY akan meroket kembali, baik secara domestik maupun internasional.

Deradikalisasi

Sumber terorisme jelas kompleks dan bermacam-macam. Tetapi, jika kita mau memerasnya dalam satu kata kunci, masalah pokoknya ada pada satu hal: yaitu indoktrinasi melalui ideologi radikal-teroristik. Indoktrinasi ini dipermudah, antara lain, karena ideologi tersebut memakai bahasa agama yang dengan mudah bisa memukau kalangan anak muda yang sedang dalam fase pecarian jati-diri dan pancaroba. Kita melihat gejala radikalisasi di kalangan sejumlah anak muda.

Data terakhir yang dilakukan LaKIP (Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian) baru-baru ini sangat mengejutkan: 48,9 persen pelajar di tingkat SMP dan SMA di DKI Jakarta menyatakan bersedia melakukan kekerasan terkait dengan isu agama dan moral. Meski survei ini bisa dipersoalkan dari segi metodenya, tetapi kita harus menjadikan data ini sebagai wake-up call, sebagai peringatan dini mengenai tren yang harus diwaspadai yang tengah menggejala di kalangan pelajar kita: yakni tren radikalisme yang diilhami oleh pandangan keagamaan.

Gejala radikalisasi ini bisa menjadi ladang subur untuk rekrutmen bagi kader-kader yang siap melakukan tindakan pemboman di kemudian hari. Saya tidak menyatakan bahwa seseorang yang terpapar ideologi keagamaan yang radikal dengan sendirinya akan menjadi seorang “pengantin” yang siap meledakkan diri. Tidak. Saya hanya mengatakan bahwa radikalisme ini potensial menjadi bumi subur untuk perekrutan kader-kader kekerasan di masa depan.

Menurut saya, tren radikalisme merupakan salah satu ancaman keamanan yang utama yang dihadapi pemerintah kita. Apalagi jika kita ingat magnet agama begitu besar dalam masyarakat kita. Ideologi kekerasan yang dilandasi argumen keagamaan bisa dengan mudah menyediakan daya tarik bagi anak-anak muda. Pemerintah tidak bisa main-main menghadapi gejala ini. Baik masa depan falsafah kebhinnekaan kita, bentuk negara Pancasila, juga keamanan yang sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi kita, sangat tergantung pada kesungguhan pemerintah untuk mengatasi masalah radikalisasi di kalangan sejumlah anak muda kita ini.

Pendekatan keamanan tok tidak cukup. Dibutuhkan pendekatan budaya terhadap masalah radikalisasi ini, yaitu melalui apa yang selama ini sering disebut deradikalisasi. Inti deradikalisasi adalah gagasan yang dengan efektif bisa mengimbangi gagasan-gagasan yang menyuburkan kekerasan.

Di sini, dibutuhkan “jihad intelektual” yang sungguh-sungguh untuk mengembangkan pemahaman keagamaan yang toleran, pluralistik, dan berwawasan terbuka. Sikap keagamaan yang tertutup dan membenci perbedaan potensial berkembang lebih jauh menjadi sikap mengeras melawan mereka yang dianggap “di luar” kelompok sendiri.

Jihad ini membutuhkan topangan dari dua pihak sekaligus. Pertama, dari pihak pemerintah dalam bentuk dukungan terhadap golongan-golongan keagamaan yang moderat, serta tindakan tegas bagi mereka yang hendak mengembangkan “wacana kebencian” terhadap kelompok yang berbeda. Kedua, pihak tokoh-tokoh agama dan kelompok-kelompok sipil dalam masyarakat. Mereka juga mempunyai peran penting untuk menyediakan lahan subur bagi berkembangnya paham yang toleran.

Kita tahu, wacana kebencian selama ini kerap dimulai dan bersumber dari elit keagamaan, bukan dari masyarakat. Elit yang berwawasan toleran dan terbuka sangat penting untuk menangkal penyebaran ideologi radikal, terutama elit keagamaan yang selama ini menjadi kiblat umat.

Kita mempunyai kepentingan besar agar Indonesia benar-benar menjadi contoh yang kemilau untuk “Islam yang moderat” di gelanggang dunia saat ini.

* Ketua Pusat Pengembangan Strategi Kebijakan dan Strategi (PPSK) DPP Partai Demokrat
Dikirim Oleh : Hayyin Muhdlor

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.