22.59
0
by Manshur Alkaf
Di Negeri antah berantah, seorang muslim “Jawa”, yang akan shalat dan tidak tahu arah bertanya kepada temannya, dimana arah barat? Sebaliknya hal yang sama yang dialami seorang muslim non Jawa akan bertanya dimana arah Kiblat.
Sebuah pemahaman budaya yang sedikit berbeda. Orang Jawa memang sangat akrab dengan mata angin dan selalu punya feeling, tentang arah mata angin walau kadang kadang feelingnya salah, dan bila kemudian matahari terbit tidak sesuai dengan feelingnya, ia bisa berkata, matahari kok terbitnya di selatan misalnya. Pertanyaan dimana arah barat hanya muncul bila seseorang ragu ragu atau blank tak punya feeling sama sekali
Keakraban orang Jawa terhadap mata angin, misalnya bisa dilihat di primbon primbon. Disana ada pantangan mengambil menantu perempuan yang arah rumahnya di arah tenggara , Kalau ada yang mencuri pada malam x, maka mengejarnya sebaiknya kearah y, arah sial bagi sipencuri, dst.
Arah barat sering diidentikkan dengan arah kiblat, sehingga dimasa muda saya tidak heran kalau ada teman yang bertanya “Kamu sudah madep ngulon ( menghadap ke barat ) apa belum?” , maksudnya sudah shalat apa belum. Ada juga ungkapan “Keinginan seseorang hanya akan habis kalau sudah mujur ngalor ( terbujur arah ke utara) artinya sudah mati dan dikubur. Karena kubur selalu searah dengan shaf shalat, kalau shalatnya menghadap ke barat, berarti janazah di kuburkan membujur ke utara.
Memang ada kesan umum bahwa Makkah ada di arah barat, padahal yang benar adalah barat barat laut, dan ada pemahaman fiqih yang sangat moderat, bahwa untuk daerah yang jauh dari Ka’bah, sholat cukup kearah Ka’bah (tidak perlu tepat ke fisiknya kabah secara tepat), dan Syekh Nawawi bahkan mentolerirnya bila ada penyimpangan maksimal 30 derajat. Sehingga Arah kiblat untuk daerah Jawa yang berkisar sekitar 26 derajat dari barat arah ke utara, masih bisa mentolerir orang salat yg menghadap ke barat persis.
Bangunan Masjid di Jawa pada umumnya berupa kotak segi empat panjang , dan letaknya disesuaikan dengan jalan di dekatnya agar tampak harmoninya..Bila jalan berada di samping masjid, bangunan diusahakan sejajar dengan jalan, dan bila jalan ada ditimur masjid, bangunan dibuat persis menghadap ke timur. Jarang ada masjid terletak ditimur jalan. Bagi yang ber hati hati, setelah menghadap ke barat, badan digeser sedikit ke kanan, sekedar bahu kirinya berada didepan bahu kanan temannya yang disebelah kiri. Ketika kemudian banyak timbul kesadaran pengurus masjid untuk meluruskan shaf tanpa harus mengubah bangunan Masjid, maka muncullah garis garis shaf di dalam masjid, dan di pojok kanan depan biasanya menjadi kosong tanpa ada garis shafnya. Setelah ada garis shaf tadi , maka shalat di masjid tidak perlu lagi menggeser hadapan tubuh kita ke kanan,cukup menyesuaikan diri dengan garis shaf tersebut. Akan tetapi masih ada saja orang yang terbiasa memiringkan tubuhnya ke kanan ketika m! au shalat, bahkan ada teman saya yang pernah jadi ketua Pengadilan Agama, (sekarang sudah meninggal), ketika shalat di masjidil haram sesudah berdiri tegak dalam satu shaf lurus menghadap kabah, hampir saja beliau memiringkan tubuhnya ke kanan. Untung segera ingat, bahwa lurus di hadapannya dan sangat dekat ada kabah, kiblat seluruh ummat Islam waktu shalat , buat apa lagi memiringkan tubuhnya ke kanan.
Akan halnya dengan kuburan atau maqbarah, Di Kalimantan Timur, tempat penulis dulu pernah bertugas, beberapa kali penulis melihat, bahwa di tengah tengah komplek kuburan yang luas ada panah penunjuk arah kiblat. Yah sangat penting memang, karena masyarakat tidak akrab dengan mata angin, dan menentukan arah hanya dengan istilah darat, laut, hulu, hilir dsb. Di Jawa pada umumnya tidak ada panah penunjuk tersebut, dan biasanya kuburan dibuat membujur arah utara selatan. Tetapi penulis sempat melihat satu makam, yang arahnya persis seperti arah shaf shalat, dan tidak sejajar dengan sebelah menyebelahnya, setelah penulis tanyakan, ternyata itu adalah kuburan Mantan Ketua Pengadilan Agama Purwokerto pertama (setelah kemerdekaan ), Almaghfurlah KH Muhammad Bunyamin, yang selagi hayatnya beliau berpesan agar kuburnya betul betul menghadap ka'bah.Itu terdapat di pemakaman umum Kebon Dalem Purwokerto .
Yogyakarta 4 April 2011

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.