17.28
0
Oleh: Rohani *)
Keberhasilan pendidikan, khususnya di Sekolah tidak hanya ditentukan oleh kemahiran guru dalam mengajar. Namun lebih kepada bagaimana ia mendidik para siswanya. Guru yang baik adalah seseorang yang bisa mengajar sekaligus bisa mendidik para siswanya. Dengan kemampuannya untuk mengajar dan mendidik secara baik, akan dihasilkan siswa -siswa  yang tidak hanya pandai secara intelektual, namun juga secara akhlak dan keimanan. Pada akhirnya akan menghasilkan generasi penerus yang arif dan bijaksana.
Mengajar hanya terbatas pada pemberian materi atau bahan ajar, sedangkan mendidik lebih kepada bagaimana sikap dan perilaku guru dalam keseharian. Ia akan menjadi model atau figur teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, mengajar itu penting, namun lebih penting lagi adalah kegiatan mendidik. Mengajar lebih mengarah kepada bagaimana membangun kecerdasan pikiran manusia; membangun manusia-manusia yang pandai secara intelektual. Kegiatan mendidik lebih condong kepada proses bagaimana menyadarkan peserta didik dapat mengubah dirinya menjadi manusia seutuhnya, baik secara intelektual, spiritual, moral dan sosial. Penyadaran itu tidak bisa dilakukan melalui pengajaran saja, tetapi terutama lewat pendidikan di mana prinsip keteladanan dari sang guru diberlakukan. Tanpa sebuah keteladanan (melalui kata maupun tindakan) yang baik, seorang siswa yang nakal akan tetap menjadi nakal, bahkan mungkin akan semakin nakal.
Siswa  bukanlah seonggok daging, tulang dan kulit seperti barang  atau seperti robot yang tidak memiliki perasaan. Namum siswa  adalah sosok makhluk mulia ciptaan Allah SWT yang memiliki nurani  dan ruh.  Guru di sekolah atau orangtua di rumah  sebagai pendidik bukanlah seperti buruh di  pabrik gelas.    Di pabrik gelas, bahan bakunya berasal dari barang yang seragam.  Hasil olahannya dapat dilihat dalam beberapa saat.  Tidak peduli isi nurani  pekerjanya dipenuhi cinta atau benci, sentuhan tanganya kasar atau lembut, akan tetap terbentuk gelas yang dipasarkan dengan harga yang pantas.  Sungguh berbeda dengan  pendidikan.
Di pendidikan, bahan bakunya merupakan sosok mulia yang tidak seragam bahkan dari siswa  kembar sekalipun. Setiap siswa  memiliki daya tangkap, daya nalar dan kondisi emosional yang berbeda. Mereka memang berbeda dan tidak ada yang sama untuk setiap pribadi.  Hasil pendidikan baru dapat dilihat setelah berhari-hari bahkan bertahun-tahun.  Prosesnya membutuhkan waktu untuk membentuk pandangan hidup, sikap dan perilaku siswa  karena pendidikan tidak hanya memintarkan otak, tetapi juga mencerdaskan watak.  Isi nurani  pendidiknya harus dengan penuh kecintaan dan sentuhan tangan yang lembut agar terbentuk sosok yang berkarakter positif dan unggul.
Materi pelajaran  yang diajarkan dengan cara yang tidak mendidik mengakibatkan dampak buruk bagi sikap dan perilaku siswa . Sadar atau tidak Jika siswa  diajar dengan ejekan, berarti ia belajar menjadi rendah diri. Jika siswa  diajar dengan dipermalukan maka  ia belajar merasa bersalah …. dan seterusnya.  Selain itu Jika mendidik bukan dengan nurani  sedangkan  guru telah merasa cukup memberi materi pelajaran di sekolah , orangtua pun telah membelikan buku pelajaran untuk dibaca di rumah, maka wajarlah jika muncul perilaku buruk seperti perkelahian antar pelajar, pergaulan bebas, bocornya soal UN yang merupakan fenomena buram yang meyelimuti dunia pendidikan di Indonesia.
Mendidik dengan nurani  merupakan jawaban dari  masalah di atas. Mendidik dengan nurani  artinya seorang pendidik dalam menyampaikan keilmuan harus memiliki keilkhlasan dan kecintaan serta mengedepankan sikap bersahabat, menyenangkan, empati, konsistensi terhadap komitmen, antusias, membangun team work, ramah, santun dan sabar. Mendidik dengan nurani  bukan hanya siap mengajarkan kepada siswa , namun juga siap mendengar secara reflektif apa pun yang diucapkan siswa . Memahami dan menghargai perasaannya serta menampakan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakan, ulangi apa yang dia ucapkan, dan ekspresikan bahwa kita sedang memikirkan perasaannya, berikan respon positif, berikan umpan balik dengan nasihat atau usulan yang membangun jiwanya.
Kegiatan dan hasil pembelajaran di sekolah akan jauh berbeda antara pengajaran kognitif dan mendidik dengan nurani .  Pengajaran kognitif member dampak kepada sulitnya pelajaran diserap oleh murid. Seringkali kita melihat bahwa murid yang membenci guru matematika akan membenci pelajaran matematika. Murid yang membenci guru kimia akan membenci pelajaran kimia. Mendidik dengan nurani  memberikan suatu keyakinan kepada setiap murid, bahwa mereka mampu berprestasi, bisa berkreasi, dan melakukan yang terbaik. Kekuatan pancaran nurani  dari pendidik kepada murid berpengaruh terhadap utuhnya kesuksesan pendidikan. Dengan demikian pembelajaran yang bermakna, bukan melulu guru mengajari ilmu dan fakta (transfer ilmu semata) melainkan kerja nurani   yang merupakan kekayaan yang Allah berikan.  Bahasa nurani  melebihi bahasa tubuh.  
Kesuksesan mendidik bukan semata-mata dari betapa kerasnya otot dan betapa tajamnya otak, namun juga betapa lembut nurani  pendidik dalam berhubungan dengan muridnya, bukan?

*) Rohani adalah seorang GUS DURian, pegiat pada Lembaga Kajian dan Layanan Informasi Masyarakat (eLKLIM) Wonosobo; Ketua KKG PAI Kec. Kepil Wonosobo (2010-2014)

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.