18.19
0
Apa kami akan kalah malam ini?
Sedang langit benderang dengan panji-panji kemenangan

Obor menyala-nyala mengagumkan hati
Kami tak berdaya melihat bayangan cahaya
Mestikah kami dikalahkan malam ini
Pada keyakinan kami akan kemenangan jiwa

Jika kami terlambat
adakah kami harus menebus dengan ribuan waktu?
Sedang bagimu betapa tak berguanya menghitung waktu:
Waktu berlalu
Waktu bergerak maju
Mengitari kekinian mencari kemarin
Untuk ditempakan di sini
Hendak digambar sesuka jiwa ini

Apakah engkau sudi berjanji memberitahu?
sebab ia tertidur dan tak sempat mendengar;
Betapa kami membutuhkan sejumput waktu
yang tak menyebabkan jarak rentang
Secuil nyata yang tak tersunggingkan kenangan
Seutas tali yang tak menali hanya untuk patah
Keyakinan ini menjadi bunyi
Tanpa kata-kata yang di susun menjadi puisi

Keyakinan ini waktu,
Keyakinan ini cahaya,
Jarak dan cinta
Tanpa tali jeda mengada
Hanya keyakinan bahwa kami membutuhkan engkau

Maka pada malam gemilang
Kami mengenakan pakaian
Menziarahi waktu dimana engkau menyatu;
tanpa jarak antara malam dan siang;
sunyi dan ramai digemintang gelap nun bunyi.


(Di kamar, 28 Juni 2011)

# Kepada segelas kopiku

Dijumput dari kedalaman gelap
Ia menyemaikan kehidupan
Memabukkan jiwa gelimpungan
di tengah nyeri hidup sehari-hari

Engkau saksi bagi tumpahnya air mata
Mereka yang meracu tentang cinta
Kehidupan dan iman sepekat misteri kelammu

Engkau hidupkan kegilaan dalam pekatmu
Dan kau pelihara orang-orang gila bersama kepekatan yang manis

Dikandung hidup antara rindu
Engkau berganti menjadi candu
Bagi hidup yang ngilu

Ada tari-tarian yang digelar dalam pesta pora malam
Ada puisi yang kehilangan kehendak
Lalu menarik-narik nyawaku
kebatas nyata dan gua di dasar gelisah

Seorang gila yang menggerutu
Kehilangan kekasihnya
Ditelah kegelapanmu

Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu

Ia menatap padaku:
Seorang gila dalam segelas kopiku

Ia, serupa aku.

(di kamar, 27 Juni 2011)
KUDA-KUDA ITU
Kemana kuda-kuda itu berlari menjauh? Luka yang menggores dadanya hanya perasaan lain dari kegelisahan akan pencarian yang maha mendalam!
Bukan keramaian, atau kesunyian paling hampa yang dicarinya. Ruang dan jarak sudah ia susuri; tapi kesunyian itu ada dalam hatinya, kemana ia mau menjauh?
Ia rindu pada yang melegakkan hatinya. Mata lembut kekasih yang membuatnya tak lagi takut pada hidup; gadis yang memperhatikan tiap langkahnya. Seorang jelita yang padanya hendak ia percayakan setiap langkahnya: agar dikenang dan dihargai.
Kuda-kuda itu, kemana ia berlari menjauh? Kesunyian itu ada dalam hatinya!
[Sabiq Carebest, 2011]
#Dalam Kamarku
Sebuah kunci membuka pintu kamarku Pada jendelanya menengadah menanti Senja yang biasa; angin menyeret kakiku Memabwaku menjauh ke masa itu:
Kulihat segerombolan bocah kecil Dalam bermain menabur kembang pada Tanah liat: mereka bicara pada cacing Dan burung yang lewat; bicara pada tanah liat Pada sungai dan setiap air yang mengalir Cantik sekali gadis kecil itu Sekarang sudah beranak pinak tentu; yang lain pun begitu.
Aku sendiri dalam kamarku Sendiri dalam merasai hati Hanya ada kopi atau sebotol wiski Dalam merasai cinta yang pergi Menulis sajak yang tak jadi-jadi Bersama waktu yang enggan menanti
(Jakarta, 2010/Sabiq Carebesth)
#Segelas kopi dan sajak yang tak jadi
Pada sebuah malam dan ruang menyempit Ditempat yang mengecil menghimpit
Suatu hari kita akan berpisah Entah sebab apa
Seuatu kali kita akan menangis Dan aku tidak punya apa-apa; untuk menolongmu.
II
Dalam bimbangku kuraih ranting pinus Angin dan gerimis Bila senja tiba nanti aku hendak Berlayar meraih tanganmu Menyusur telaga, kelam dan rindu
Senja tiba entah dari mana Jatuh ditelaga menggambar: Tangismu yang jadi pilu Makin tak kutahu apa nasib waktu
Dan perahuku hanya sajak pilu Yang disusun dari ranting pinus Angin Dan gerimis: Kan tenggelam di masa yang berlalu
Kau sendiri hanya bayang-bayang dalam segelas kopiku ketika rambutmu terurai mengantarkan angin dan dingin dan kumunulis sajak untukmu tapi tak jadi-jadi
aku pun lelap diantara segelas kopi dan sajak yang tak jadi.
(Di kamar, Januari 2010)

_____Sabiq carebesth, Alumni Al-Iman, pecinta buku dan kesenian. Tinggal dan bekerja di Jakarta sebagai Pimpinan Redaksi Jurnal dan Bulletin INDHRRA (Indonesian Secretariat for the Development of Human Resources in Rural Areas), Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.