10.27
0
PENDIDIKAN QALBU PADA MASA KANAK-KANAK
Oleh: A. Qomarudin

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat urgen bagi kelangsungan kehidupan setiap manusia apabila ia menginginkan pribadi yang bermartabat tinggi di dunia dan juga di akhirat, dan pendidikan ini dapat dilakukan pada diri manusia sejak lahir sampai akhir hayatnya. Bahkan ada yang berpendapat pendidikan sebelum kelahiran bayi juga perlu dilakukan oleh kedua orang tua bagi seorang jabang bayinya.
Dalam teorinya, ada pendapat yang mengatakan bahwa ada beberapa fase pertumbuhan dan perkembangan pada diri manusia, yaitu: a) fase bayi dan anak-anak (dibagi menjadi 3: babyhood/bayi, early childhood/kanak-kanak, dan late childhood/anak-anak), b) fase baligh hingga dewasa, dan c) fase usia lanjut.[1] Lazimnya, pada seorang anak juga terdapat fase-fase yang dilalui dalam kehidupannya adalah:
1.      Fase dalam kandungan (janin)
2.      Fase balita (lahir sampai usia 5 tahun)
3.      Fase usia sekolah (5-12 tahun)
4.      Fase remaja: a) remaja awal (12-15 tahun), dan b) remaja akhir (15-21 tahun).[2]
Sedang pada awal mula berdirinya sistem pendidikan klasikal, tugas yang diemban dalam kependidikan hanya mencerdaskan daya pikir (intelek) manusia melalui 3 cara menulis, membaca,dan berhitung. Akan tetapi disesuikan dengan perkembangan tuntunan hidup manusia, maka tugas kependidikan dibedakan menjadi 3, yaitu: 1) mencerdaskan otak (head), 2) mendidik moralias (heart), dan 3) mendidik keterampilan (hand).[3]
Dari ke tiga tugas kependidikan tersebut di atas, penulis akan mengambil pendidikan kanak-kanak pada salah satu segi tugasnya dalam kependidikan yaitu pada segi heartnya. Dalam hal ini, Penulis mengambil kesimpulan bahwa pendidikan pada segi ini harus dilakukan pada masa-masa awal pertumbuhan anak, sebab nantinya akan bermanfaat sebagai fondasi bagi kehidupan anak tersebut pada tahap yang selanjutnya. Dapat diumpamakan, apabila sebuah bangunan ditopang oleh fondasi yang sangat kokoh, maka tidak akan ada rasa khawatir untuk menjulangkan bangunan tersebut ke atas.
Terkait dengan pihak yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan kanak-kanak (peserta didik) ini atau dengan kata lain “pendidik”nya adalah orang tua. Karena orang tua adalah yang paling dekat secara batin dengan anaknya, maka untuk permasalahan yang menyangkut pada aspek nonfisik ini orang tua yang memiliki peran lebih untuk mendidiknya. Sedangkan terkait dengan materi yang dapat diberikan adalah dapat berupa pembiasaan sejak dini perbuatan-perbuatan yang baik (terpuji) atau dapat juga dengan uswah (tauladan) dari orang tua agar tanpa disadari anaknya akan mengikuti/ meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Beberapa hal tersebut dapat dilakukan di dalam lingkungan keluarga dalam cakupan yang sempit atau dalam lingkungan masyarakat dalam cakupan yang lebih luas.
Dijelaskan dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang proses pembersihan qalbu Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh malaikat jibril atas perintah Allah SWT. Salah satu tujuan dilakukannya hal tersebut adalah membersihkan qalbu Nabi dari segala kotoran berupa sifat-sifat tercela yang dapat merusak pada kehidupan selanjutnya.
431 - حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِىُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَاهُ جِبْرِيلُ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَلْعَبُ مَعَ الْغِلْمَانِ فَأَخَذَهُ فَصَرَعَهُ فَشَقَّ عَنْ قَلْبِهِ فَاسْتَخْرَجَ الْقَلْبَ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ عَلَقَةً[4] فَقَالَ هَذَا حَظُّ الشَّيْطَانِ مِنْكَ. ثُمَّ غَسَلَهُ فِى طَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ بِمَاءِ زَمْزَمَ ثُمَّ لأَمَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِى مَكَانِهِ وَجَاءَ الْغِلْمَانُ يَسْعَوْنَ إِلَى أُمِّهِ - يَعْنِى ظِئْرَهُ - فَقَالُوا إِنَّ مُحَمَّدًا قَدْ قُتِلَ. فَاسْتَقْبَلُوهُ وَهُوَ مُنْتَقَعُ اللَّوْنِ. قَالَ أَنَسٌ وَقَدْ كُنْتُ أَرَى أَثَرَ ذَلِكَ الْمِخْيَطِ فِى صَدْرِهِ. صحيح مسلم[5]

Dengan demikian, begitu pentingnya peran qalbu dalam perjalanan kehidupan setiap manusia, maka perlu adanya kontrol pendidikan pada seseorang sejak anak usia dini. Dengan kata lain, qalbu adalah satu hal penting yang pada akhirnya akan menentukan keadaan baik dan buruk fisik seseorang. Karena qalbu adalah ibarat seorang raja bagi organ-organ tubuh yang lainnya. Artinya qalbu memiliki peran penting dalam mengontrol dan memimpin semua anggota tubuh yang dimiliki oleh setiap manusia. Dengan kata lain, mau ataupun tidak mau seluruh organ tubuh yang dimiliki manusia akan selalu mengikuti dan patuh dengan segala keputusan yang diberikan oleh qalbu.
Wallahu A’lam


[1] Perpustakaan Nasional RI. 2010. Spiritualitas dan Akhlaq. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Hlm 45-47.
[2] Perpustakaan Nasional RI. 2010. Pendidikan, Pengembangan Karakter, dan Pengembangan Smber DayaManusia. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran. Hlm 185.
[3] Muzayyin Arifin. 2009. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Cet. IV. Hal 53.
[4] العلقة : الدم الغليظ المنعقد
[5] Maktabah Syamilah.

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.