17.39
0

Oleh : Wildan
A.A.Pendahuluan
Sebuah lembaga pendidikan yang maju, tidak akan terlepas dengan peranan kinerja seorang guru. Oleh karena itu diperlukan sebuah strategi guna meningkatakan kinerja tersebut, dan cara membinanya.
Sebenarnya kepuasan kerja guru sangat erat kaitannya dengan moral kerja guru. Jika dalam kepuasan kerja berhubungan dengan seberapa tinggi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan guru, maka moral kerja diindikasikan dengan antuisme, kegairahan, kegembiraan, inisiatif, ketenangan, ketelitian, kesabaran, dan keuletan. Artinya, moral kerja guru lebih pada segi perkembangan cara kerjanya, sehingga mampu menumbuhkan produktifitas kerja seorang guru. Sedangkan kepuasan guru, dilihat dari segi terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan sebagai seorang guru.
Penelitian demi penelitian untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja guru, dan moral kerja. Yang semuanya menegaskan terdapat hubungan positif antara keduanya (hubungan yang tidak bisa dipisahkan)
Dalam makalah singkat ini akan diuraikan beberapa hal berkenaan dengan cara meningkatkan kepuasan guru dan strategi pembinaannya.

B.Pembahasan
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor penting untuk mendapatkan hasil kerja yang optimal. Menurut Siagiaan (2003: 297) kepuasan kerja dapat memacu prestasi kerja (kinerja) yang lebih baik1. Oleh karena itu ketika seseorang merasakan kepuasan dalam bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya



C.Kebutuhan Guru
Seperti disinggung diatas, kepuasan guru sangat dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan yang ia capai. Dalam hal ini para pakar banyak membahas tentang teori kebutuhan, guna menganalisa kebutuhan guru. Oleh karena itu seyogyanya kepala sekolah berusaha untuk memahami para guru dan mengupayakan agar guru memperoleh kepuasan dalam menjalankan tugasnya
Kimball Wiles menegaskan ada delapan hal yang diinginkan oleh guru melaluli kerjanya, yaitu adanya rasa aman dan hidup layak, kondisi kerja yang menyenangkan, rasa diikutsertakan, perlakuan yang wajar dan jujur, rasa mampu, pengakuan dan penghargaan atas sumbangan, ikut ambil bagian dalam pembentukan kebijakan sekolah, dan kesempatan mempertahankan self respect.2

1.Rasa Aman dan Hidup Layak
Hidup layak bukan berarti mewah, tetapi adanya jaminan kecukupan akan makanan, pakaian, dan perumahan bagi diri guru maupun keluarganya, sehingga mereka bisa hidup sebagaimana orang lain hidup layak.
Sedangkan rasa aman, berkenaan dengan kebebasan dari tekanan-tekanan batin, rasa takut akan masa depannya, serta adanya jaminan kesehatan.

2.Kondisi kerja yang menyenangkan
Suasana kerja disini meliputi tempat kerja, perlengkapan kerja, dan kepemimpinan kerja (terdapat bimbingan).

3.Rasa diikutsertakan
Sebagai manusia, apapun jabatannya, baik sebagai guru, pegawai tata usaha atau lainnya, semuanya merasa ingin termasuk dalam anggota kelompoknya dimana ia bekerja dan berhasrat untuk bergabung mencapai prestasi yang lebih baik. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk memperbaiki serta menjalin hubungan sosial dengan rekan-rekan kerjanya.

4.Perlakuan yang wajar
Seorang pemimpin memiliki tugas membina persatuan antara anggotanya. Dan hendaknya diushakan agar dalam sebuah kelompok tidak ada pilih kasih. Perlakuan setiap anggota dengan wajar dan adil, tanpa ada perhatian tertentu pada salah satu anggota kelompok saja, namun harus merata. Karena jika sebuah kelompok merasa bahwa hanya anggota tertentu saja yang mendapatkan perhatian, lenyaplah semangat kerja kelompok tersebut.

5.Rasa mampu
Setiap kelompok menginginkan agar setiap prestasinya diakui oleh pemimpin. Dalam hal ini, pemimpin harus mengakui dan meyakini bahwa setiap anggota kelompok dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik, dan mengakui setiap anggotanya memberikan sumbangan yang sangat berarrti dalam pencapaian tujuan kelompok.

6.Pengakuan dan penghargaan atas sumbangan.
Setiap orang yang bekerja ingin diakui oleh orang lain. Begitupula seorang guru menginginkan agar segala jerih payah yang telah ia lakukan demi kesuksesan sekolah diakui oleh kepala sekolah, maupun guru-guru yang lainbya. Apabila keinginan untuk diakui tersebut dapat dipenuhi maka guru tersebut akan gembira dalam bekerja.

7.Ikut ambil bagian dalam pembuatan kebijakan sekolah
Semua guru ingin ikut ambil bagian dalam membuat kebijakan sekolah. Hasrat ini merupkan hasrat manusia. Jika semua guru diikut sertakan dalam pembuatan policy sekolah, maka mereka akan merasa dipentingkan dalam sekolah.

8.Kesempatan mengembangakan self respect
Rasa harga diri pada guru perlu dikembangkan agar dapat melakukan apa yang harus dilakukan tanpa harus dididik oleh pimpinan. Kepala sekolah seyogyanya memberikan kesempatan kepada guru untuk merencanakan, dan memberikan ransangan serta menunjukkan harapan yang positif.

D.Sumber Kepuasan guru
Terdapat dua kelompok tentang sumber kepuasan dan ketidak puasan guru, yaitu pertama, kepuasan kerja dan ketidak puasan kerja merupakan garis kontinum. Kedua, kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja bukan satu garis kontinum melainkan dua garis yang berbeda.
Artinya, menurut kelompok pertama, semakin terpenuhinya sumber kepuasan kerja guru, maka semakin puaslah. Dan sebalikanya, ketika sumber kepuasan tidak terpenuhi maka semakin tidak puas. Sedangkan menurut kelompok yang kedua, terpenuhi kepuasan dan tidak terpenuhinya kepuasan, tidak pasti berakibat pada sebaliknya.3
Para pakar berbeda pendapat mengenai sumber kepuasan guru, diantaranya Locke mengemukakan sumber-sumber kepuasan guru meliputi kerja itu sendiri, gaji, promosi, penghargaan, keuntungan yang didapat, kondisi kerja, supervisi, kerjasama antar pekerja, serikat kerja dan manajemen. Pendapat ini hampir sama dengan lawyer III, sumber-sumber kepuasan kerja meliputi gaji, kerja itu sendiri, supervisi, promosi, kerjasama antar pekerja, dan kondisi kerja. Namun yang pasti, ketika tingka fakor-faktor tersebut dapat diketahui, maka akan diketahui tingkat kepuasan guru.4
E.Alternatif Pembinaan Kerja Guru
Setelah memahami kebutuhan dasar manusia secara umum dan keinginan-keinginan guru, selanjutnya dibutuhkan pembinaan kerja guru agar mereka selalu produktif.
Sebagian ahli seperti jones, salisbury, dan spencer (1969) menegaskan bahwa, terdapat beberapa alternatif dalam hal manajerial pembinaan kerja guru. Yaitu:
1.Menciptakan lingkungan yang dapat merangsang dan menyenangkan.
2.Deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas.
3.Kebebasan akademik dan jiwa. Maksudnya, kepala sekolah memberikan kebebasan yang sama kepada guru-guru untuk berbuat sesuatu demi kemajuan sekolah.
4.Menciptakan hubungan yang harmonis diantara sesama personalia sekolah5.
Namun seorang kepala sekolah sebelum melakukan pembinaan, seharusnya dia mampu mengukur tingkat kepuasan guru terlebih dahulu. Dengan memperhatikan kedelapan kebutuhan guru.
Seorang kepala sekolah bisa saja membuat sendiri format pengukuran kepuasan guru, dengan menyertakan beberapa item pertanyaan-pertanyaan seperti berikut :
1.Bagaimana kepuasan saudara terhadap gaji yang saudara peroleh?
2.Apakah gaji yang saudara peroleh telah dapat memenuhi kebutuhan pokok saudara?
3.Bagaimanakah kepuasan saudara terhadap keadaan kondisi sekolah?
4.Dll.
F.Kesimpulan
Guru sebagai salah satu komponen pendidikan yang tidak bisa dilepasakan peranannya dalam sebuah pendidikan, membutuhkan perhatian yang serius dan lebih mendalam.
Memperhatikan kesejahteraan tenagan pengajar, merupakan salah satu perhatian yang besar terhadap proses pendidikan itu sendiri. Karena seorang guru dengan sifat dasar menusianya, juga memiliki kebutuhan-kebutuhan yang seyogyanya diusahakan dapat dipenuhi oleh lembaga itu sendiri.
Selain itu, kepekaan seorang kepala sekolah, juga amat banyak dibutuhkan. Dukungan dan rasa empati dari seorang kepala sekolah sangatlah berarti bagi seorang guru, dan dapat meningkatkan kualitas kerjanya.
Sehingga, dibutuhkan sebuah analisa kebutuhan terlebuh dahulu, sebelum menentukan strategi pembinaan kepuasan kerja guru.

G.Daftar Pustaka
Ibrahim Bafadhal .”Peningkatan profesionalisme guru Sekolah dasar”, cet. III, 2006. PT. Bumi Aksara ; jakarta.
Drs. Dirawat. dkk. “Pengantar Kepemimpinan Kependidikan” 1983, Usaha Nasional; Surabaya.
Sondang Siagiaan, P 2003. “Manajemen Sumber Daya Manusia”. Jakarta: Bumi Aksara.
Burhanuddin, H. Dkk. 2002 “Manajemen pendidikan, wacana, proses dan aplikasinya di sekolah”. Cet. I. UM; Malang.

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.