16.32
2
Oleh : Fuad Ngajiyo
Berbicara konflik Ahmadiyah yang beberapa waktu lalu telah menelan banyak korban jiwa, ada dua isu besar yang harus segera diselesaikan agar tidak memunculkan tindak kekerasan yang berkelanjutan. Pertama, pemerintah harus menindak tegas pelaku kekerasan. Kedua, harus dicari solusi jangka panjang berkenaan dengan keberadaan Jama’ah Ahmadiyah di Indonesia.
Sebagai negara hukum, tindakan tegas kepada para tindak kekerasan harus selalu dikedepankan untuk menjaga stabilitas negara. Memang hukum kita menjamin orang bertindak dengan bebas, namun jika kebebasan itu merusak hak orang lain, maka kebebasan itu pun pada kenyataannya tetap terbatasi. Di sinilah peran penegak hukum, mengawal demokrasi bangsa Indonesia. Namun itu saja rasanya belum cukup, harus ada tindak lanjut guna menyelesaikan sumber masalah yang menjadi penyulut tindak kekerasan tersebut.
Sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi bahwa kekerasan yang dialami jamaah Ahmadiyah bersumber dari umat Islam yang merasa agamanya ternodai. Buktinya beberapa kali gelombang demonstrasi terjadi di beberapa kota di Indonesia. Terakhir, Jum’at (18/02) massa dari beberapa organisasi massa Islam seperti Forum Umat Islam (FUI), Jama’ah Anshorut Tauhid, Front Pembela Islam (FPI), Syarikat Islam, serta Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia. Dikatakan bahwa jika tidak ada tindakan tegas pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah, maka mereka akan kembali berunjuk rasa di depan Istana Negara 1 maret nanti.
Sebelum membahas lebih jauh tentang apakah perlu membubarkan Ahmadiyah, kita harus terlebih dahulu tahu tentang siapa sebenarnya Ahmadiyah? Mengapa kemunculannya menimbulkan konflik? Bukankah dari dulu banyak sekali organisasi massa Islam yang berkembang di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya namun tidak menimbulkan konflik berkepanjangan yang melahirkan kekerasan seperti yang terjadi dengan Ahmadiyah? Perbedaan yang ada di antara mereka justru memunculkan dialog yang cukup produktif.
Lahirnya Ahmadiyah
Ada perbedaan pendapat tentang kelahiran Ahmadiyah dan latar belakangnya. Ada yang menyatakan bahwa itu adalah bentukan Inggris, adapula yang mengatakan bahwa munculnya Ahmadiyah sebagai protes terhadap keberhasilan kaum misionaris Kristen yang cukup berhasil, munculnya paham rasionalis dan westernisasi yang dibawa oleh Ahmad Khan, juga sebagai protes mundurnya umat Islam saat itu.
Pada hal keyakinan, organisasi massa Islam yang sejak lama tumbuh di Indonesia tidak keluar dari mainstream Islam yang mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, dan al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. Selama sekelompok orang mangatasnamakan bahwa mereka adalah satu aliran dari Islam, maka ajaran-ajarannya harus tidak keluar dari mainstream Islam. Jika keluar, maka secara otomatis mereka seharusnya juga keluar dari agama Islam.
Permasalahannya, Ahmadiyah yang masih membawa bendera Islam telah keluar dari mainstream Islam. Hal inilah yang menyebabkan beberapa kelompok umat Islam geram dengan sikap Ahmadiyah. Sebagai wacana, dalam kajian yang ada di perguruan tinggi Timur Tengah, Ahmadiyah masuk dalam aliran di luar Islam, bukan aliran dalam Islam seperti Mu’tazilah, Sunni, Syiah, ataupun Wahabi. Hal ini berbeda dengan di Indonesia yang posisinya masih abu-abu.
Ada beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Salah satu solusi yaitu adanya pengakuan dari pihak Ahmadiyah bahwa mereka bukanlah termasuk salah satu dalam sekte Islam. Konsekuensinya, Ahmadiyah harus legawa jika dirinya tidak mengatasnamakan Islam sebagai agamanya. Jika demikian, maka umat Islam pun tidak diperkenankan untuk menggugat kepercayaan dan peribadatan Ahmadiyah sebagai bentuk berekspresi dalam beragama. Tidak dibenarkan bagi mereka jika menilai Ahmadiyah telah menodai Islam karena telah keluar dari Islam. Kedengarannya mudah, tapi tentu sangat sulit diimplementasikan.

2 komentar:

  1. Bubarke wae tpi dijamin keyaqinannya/disadarkan !!

    BalasHapus
  2. kasihan, sama2 manusia yang mencari kebenaran.......

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.