16.20
7

Edi Rohani
Oleh: Rohani *)
“Sebuah bangsa tidak akan berkembang apabila tingkat pluralitasnya kecil. Begitu pula dengan sebuah bangsa yang besar jumlah perbedaan kebudayaannya, akan menjadi kerdil apabila ditekan secara institusional. Bahkan, tindakan semacam itu akan merusak nilai-nilai yang ada dalam budaya itu sendiri. Akibatnya, perpecahan dan tindakan-tindakan yang mengarah kepada anarki menjadi sebuah sikap alternatif masyarakat ketika pengakuan identitas dirinya terhambat”. (Abdurrahman Wahid: 2001: 7)
A.        Pendidikan Multikultural; bagaimanakah ia?
Minggu (25/9/2011), publik Indonesia kembali dikagetkan dengan peristiwa bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Keputon, Solo, Jawa Tengah.  bom bunuh diri yang menewaskan satu orang yang diduga sebagai pelakunya dan melukai puluhan jamaat Gereja GBIS Solo tersebut mencabik-cabik perasaan jutaan umat Islam di Indonesia yang terkenal dengan keramahnya karena pelakunya kuat diduga sebagai seorang Muslim yang salah dalam memaknai "jihad". kita kaget karena ternyata sebagian umat Islam di Indonesia belum mau menerima pluralitas dan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama sebagai sebuah keniscayaan yang memang di-setting oleh Allah SWT sebagai sebuah sunnat Allah. berangkat dari sinilah maka menurut Penulis sudah saatnya kita mengembangkan pendidikan agama yang berwawasan multikultural agar tercipta harmonisasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Wacana pendidikan multikultural di Indonesia agaknya masih asing di kalangan sebagaian pendidik, ataupun jika tidak, wacana tersebut sebatas wacana yang “melangit” dikalangan para praktisi pendidikan dan belum diimplementasikan pada lembaga pendidikan dengan segenap perangkat (kurikulum)nya. Tulisan ini dimaksudkan memberikan sebuah tawaran gagasan penerapan pendidikan multikultural dalam konteks pendidikan agama Islam (PAI) di Indonesia.
Secara garis besar multikulturalisme dapat dipahami sebagai sebuah paham yang menekankan pada kesederajatan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya lain. Sebagai sebuah ide, pendidikan multikultural dibahas dan diwacanakan pertama kali di Amerika dan negara-negara Eropa Barat pada tahun 1960-an oleh gerakan yang menuntut diperhatikannya hak-hak sipil (civil right movement). Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk mengurangi praktik diskriminasi di tempat-tempat publik, di rumah, di tempat-tempat kerja, dan di lembaga-lembaga pendidikan yang dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas (Ali Maksum, dkk: 2007: 281).
Gerakan hak-hak sipil ini, menurut James A. Bank (dalam Abdullah Aly: 2005), berimplikasi pada dunia pendidikan, dengan munculnya beberapa tuntutan untuk melakukan reformasi kurikulum pendidikan yang sarat dengan diskriminasi. Sehingga pada awal tahun 1970-an bermunculan sejumlah kursus dan program pendidikan yang menekankan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan etnik dan keragaman budaya (cultural diversity). Begitu juga keberadaan masyarakat dengan individu-individu yang beragam latar belakang bahasa dan kebangsaan (nationality), suku (race or etnicity), agama (religion), gender, dan kelas sosial (social class) dalam suatu masyarakat juga berimplikasi pada keragaman latar belakang peserta didik dalam suatu lembaga pendidikan sehingga turut melatarbelakangi berkembangnya pendidikan multikultural.
Pendidikan multikultural menurut Prudence Crandall (1803-1890) adalah pendidikan yang memperhatikan secara sungguh-sungguh latar belakang peserta didik baik dari aspek keragaman suku, etnis, ras, agama, aliran kepercayaan dan budaya (kultur).   Salah satu yang hendak dituju dari pendidikan multikultural adalah terpenuhinya kebebasan masing-masing peserta didik untuk mendapatkan haknya tanpa ada yang menghalangi. Melaksanakan hak tidak berarti sama dengan berbuat bebas (liberal) sebebas-bebasnya karena di sana terdapat orang lain yang juga berhak melakukan sesuatu (Abdurrahman Assegaf: 2011: 18).
Pendidikan multikultural membantu siswa mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, nilai, dan agama berbeda sehingga tumbuh sikap saling menghargai perbedaan (agree in disagreement), dan dapat hidup saling berdampingan satu dengan yang lain (to live together). Dengan kata yang lain, siswa diajak untuk menghargai – bahkan menjunjung tinggi – pluralitas dan heterogenitas. Menurut Syafiq A. Mughni (2003: ix), paradigma pendidikan multikultural mengisyaratkan bahwa individu siswa belajar bersama dengan individu lain dalam suasana saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami, untuk mengembangkan: i) transformasi diri; ii) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar, dan; iii) transformasi masyarakat.
Dalam pandangan Abdullah Aly, tujuan pendidikan multikultural mencakup: (i). Tujuan attitudinal (sikap), yaitu membudayakan sikap sadar, sensitif, toleran, respek terhadap identitas budaya, responsif terhadap berbagai permasalahan yang timbul di masyarakat. (ii). Tujuan kognitif, yaitu terkait dengan pencapaian akademik, pembelajaran berbagai bahasa, memperluas pengetahuan terhadap kebudayaan yang spesifik, mampu menganalisa dan menginterpretasi tingkah laku budaya dan menyadari adanya perspektif budaya tertentu. (iii). Tujuan instruksional, yaitu menyampaikan berbagai informasi mengenai berbagai kelompok etnis secara benar di berbagai buku teks maupun dalam pengajaran, membuat strategi tertentu dalam menghadapi masyarakat yang plural, menyiapkan alat yang konseptual untuk komunikasi antarbudaya dan untuk pengembangan ketrampilan, mempersiapkan teknik evaluasi dan membuka diri untuk mengklarifikasi dan penerangan mengenai nilai-nilai dan dinamika budaya
Secara konseptual, menurut Gorsky (dikutip dari Hamid Hasan: 2000: 102), pendidikan multikultural mempunyai tujuan sebagai berikut: (a). setiap siswa mempunyai kesempatan untuk mengembangkan prestasi mereka; (b). Siswa belajar bagaimana belajar dan berpikir secara kritis; (c). mendorong siswa untuk mengambil peran aktif dalam pendidikan, dengan menghadirkan pengalaman-pengalaman mereka dalam konteks belajar; (d).  mengakomodasi semua gaya belajar siswa; (e). mengapresiasi kontribusi dari kelompok-kelompok yang berbeda; (f). mengembangkan sikap positif terhadap kelompok-kelompok yang mempunyai latar belakang berbeda; (g). untuk menjadi warga negara yang baik di sekolah maupun di masyarakat; (h). belajar bagaimana menilai pengetahuan dari perspektif yang berbeda; (i). untuk mengembangkan identitas etnis, nasional dan global, dan; (j). mengembangkan keterampilan-keterampilan mengambil keputusan dan analisis secara kritis sehingga siswa dapat membuat pilihan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

B.            Potret Pendidikan Agama Islam di Tengah Multikulturalisme
Dalam konteks Indonesia, peserta didik di berbagai lembaga pendidikan diasumsikan juga terdiri dari peserta didik yang memiliki beragam latar belakang agama, etnik, bahasa, dan budaya. Asumsi ini dibangun berdasarkan pada data bahwa di Indonesia terdapat 250 kelompok suku, 250 lebih bahasa lokal (lingua francka), 13.000 pulau, dan 5 agama resmi. Paling tidak keragaman latar belakang siswa di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia terdapat pada paham keagamaan, afiliasi politik, tingkat sosial ekonomi, adat istiadat, jenis kelamin, dan asal daerahnya (perkotaan atau pedesaan).
Apabila dikaji secara mendalam, Islam sangat ramah dan menghargai keanekaragaman sebagai realitas (hukum alam- sunnat Allah).  Dalam hal ini, konsep rahmatan lil ‘alamin merupakan landasan kultural ajaran Islam. Untuk menjalankan misi kemanusiaanya tersebut, Islam memiliki instrumen yaitu meletakkan pendidikan pada barisan terdepan, karena pendidikanlah yang secara langsung berhadapan dengan umat manusia (Abudin Nata: 2001: 100).
 Memperbincangkan pendidikan (agama) Islam pada hari ini biasanya memunculkan gambaran pilu dalam pikiran kita tentang ketertinggalan, kemunduran, dan kondisi yang serba tidak jelas sehingga memberikan kontribusi ekslusivisme dalam Islam. Kautsar Azhari Noer (dalam Conni Semiawan, tt) menyebutkan empat faktor penyebab kegagalan pendidikan Agama Islam tersebut, yaitu: pertama, penekanannya lebih pada proses transfer ilmu agama ketimbang pada proses transformasi nilai-nilai keagamaan dan moral kepada anak didik; Kedua, sikap bahwa pendidikan agama tidak lebih dari sekedar sebagai “hiasan kurikulum” belaka atau sebagai “pelengkap” yang dipandang sebelah mata; Ketiga, kurangnya penekanan pada nilai-nilai moral yang mendukung kerukunan antaragama, seperti cinta, kasih sayang, persahabatan, suka menolong, suka damai dan toleransi, dan; Keempat, kurangnya perhatian untuk mempelajari agama-agama lain.
Sedangkan Muhaimin (2003: 71) mengidentifikasi bahwa kegagalan pendidikan agama Islam setidaknya disebabkan karena : 1) pendidikan agama masih berpusat pada hal-hal yang bersifat simbolik, ritualistik, serta bersifat legal formalistik (halal-haram) dan kehilangan ruh moralnya; 2) kegiatan pendidikan agama cenderung bertumpu pada penggarapan ranah kognitif dan paling banter hingga ranah emosional. Selain itu, ada juga beberapa kelemahan lainnya, yaitu: 1) dalam bidang teologi, ada kecenderungan mengarah pada paham fatalistik; 2) bidang akhlak yang hanya berorientasi pada urusan sopan santun dan belum dipahami sebagai keseluruhan pribadi manusia beragama; 3) bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan sebagai proses pembentukan kepribadian; 4) dalam bidang hukum (fiqih) cenderung dipelajari sebagai tata aturan yang tidak akan berubah sepanjang masa, dan kurang memahami dinamika dan jiwa hukum Islam; 5) agama Islam cenderung diajarkan sebagai dogma dan kurang mengembangkan rasionalitas serta kecintaan pada kemajuan ilmu pengetahuan; 6) orientasi mempelajari al-Qur’an masih cenderung pada kemampuan membaca teks, belum mengarah pada pemahaman arti dan penggalian makna.
Dalam konteks yang tidak jauh berbeda, M. Amin Abdullah (1998: 65) melihat beberapa kelemahan pelaksanaan pendidikan agama di sekolah, yaitu: 1) pendidikan agama lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan-persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata serta amalan-amalan ibadah praktis; 2) pendidikan agama kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri anak didik lewat berbagai cara, media dan forum; 3) isu kenakalan remaja, perkelahian di antara pelajar, tindak kekerasan, premanisme, white color crime, konsumsi miras, dan sebagainya, walaupun tidak secara langsung, memiliki kaitan dengan metodologi pendidikan agama yang selama ini berjalan secara konvensional-tradisional; 4) metodologi pendidikan agama tidak kunjung berubah antara pra dan post era modernitas; 5) pendidikan agama lebih menitikberatkan pada aspek korespondensi-tekstual, yang lebih menekankan hafalan teks-teks keagamaan yang sudah ada; 6) dalam sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas utama pada kognitif dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna” spiritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, untuk membentuk pendidikan yang mampu menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran multikulturalisme, diperlukan rekonstruksi pendidikan agama. Maksudnya, kalau selama ini pendidikan agama masih menekankan sisi keselamatan yang dimiliki dan didambakan oleh orang lain di luar diri dan kelompoknya sendiri, maka pendidikan agama perlu direkonstruksi kembali, agar lebih menekankan proses edukasi sosial yang tidak semata-mata individual dan memperkenalkan social contract. Dengan demikian, pada diri peserta didik tertanam suatu keyakinan bahwa kita semua sejak semula memang berbeda-beda dalam banyak hal, lebih-lebih dalam bidang akidah, iman dan kredo. Namun, demi menjaga keharmonisan, keselamatan dan kepentingan kehidupan bersama, mau tidak mau harus rela menjalin kerja sama dalam bentuk sosial antarsesama kelompok warga masyarakat. Dengan reorientasi ini, diharapkan akan terjadi perubahan proses dan mekanisme pembelajaran menuju ke arah terciptanya pemahaman dan kesadaran multikultural kepada anak didik. Dalam hubungannya dengan hal ini, setidaknya peran aktif yang harus segera dikerjakan oleh praktisi pendidikan (Islam) adalah menyusun dan mengembangkan disain kurikulum dan metode pendidikan agama yang mampu menumbuhkan sikap saling menghargai antarpemeluk agama dan kepercayaan.

C.           Kurikulum Pendidikan Agama Islam berwawasan Multikultural
Sebagaiman Penulis uraikan diatas, pendidikan multikultural dipahami sebagai suatu pengetahuan yang menanamkan kesadaran diri seseorang akan arti perbedaan antarsesama manusia, berbagai budaya dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya. Dalam pandangan Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi (2004; 191-192), ciri-ciri dari pendidikan multikultural adalah: (a) tujuannya membentuk “manusia budaya” dan menciptakan “masyarakat berperadaban” (berbudaya); (b) materinya mengajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural); (c) metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keragaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalis), dan; (d) Evaluasinya ditentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.
Kurikulum dan materi pendidikan Agama Islam bagaimana pun tidak dapat terlepas dari dimensi perkembangan dan nilai-nilai pendidikan multikultural. Adapun komponen yang termasuk dalam kurikulum pendidikan multikultural antara lain tentang studi etnis, kelompok minoritas, gender, kesadaran kultur, hubungan antarsesama manusia, dan pengklarifikasian nilai-nilai dalam suatu kebudayaan. Hal-hal tersebut termasuk pula mengenai konsep rasisme, perbedaan jenis kelamin, keadilan, diskriminasi, opresi, perbedaan dan semacamnya.
Pendidikan Agama Islam yang terintegrasi dengan spirit pendidikan multikultural perlu segera menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran dengan menitikberatkan pada pemahaman dan upaya untuk bisa hidup dalam konteks perbedaan agama dan budaya, baik secara individual maupun secara kelompok. Oleh karenanya, dalam upaya pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam harus diperhatikan dimensi-dimensi berikut ini: Pertama, pembelajaran fiqih dan tafsir al-Qur’an tidak harus bersifat linier, namun menggunakan pendekatan muqāran (perbandingan). Ini menjadi sangat penting, karena siswa tidak hanya dibekali pengetahuan atau pemahaman tentang ketentuan hukum dalam fiqih atau makna ayat yang tunggal, namun juga diberikan pandangan yang berbeda. Tentunya, bukan sekedar mengetahui yang berbeda, namun juga diberikan pengetahuan (argumen-dalil) tentang mengapa bisa berbeda; Kedua, untuk mengembangkan kecerdasan sosial, siswa juga harus diberikan pendidikan lintas agama. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan dialog antar agama;
Ketiga, untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam menyelenggarakan program road show lintas agama dengan tujuan untuk menanamkan kepedulian dan solidaritas terhadap komunitas agama lain; Keempat, untuk menanamkan kesadaran spiritual, pendidikan Islam perlu menyelenggarakan program seperti spiritual work camp, yaitu dengan cara mengirimkan siswa untuk tinggal dalam sebuah keluarga selama beberapa hari, termasuk kemungkinan tinggal pada keluarga yang berbeda agama. Dalam program ini, siswa harus melebur serta melakukan aktifitas sebagaimana aktifitas keseharian dalam keluarga tersebut. Tujuannya adalah, agar siswa akan mempunyai kesadaran dan kepekaan untuk menghargai dan menghormati orang lain.
Tidak kalah pentingnya, Pendidikan Islam harus memandang iman yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama adalah bersifat dialogis, artinya iman itu bisa didialogkan antara Tuhan dan manusia dan antara sesama manusia. Melalui suasana pendidikan seperti itu, akan terbangun suasana pergaulan dalam kehidupan beragama secara dewasa, tidak ada perbedaan yang berarti, tidak dikenal superior ataupun inferior, serta memungkinkan terbentuknya suasana dialog yang memiliki peluang untuk membuka wawasan spritualitas baru tentang keagamaan dan keimanan masing-masing. Hal ini bisa diajarkan lewat pendidikan akidah yang inklusif. Pengajaran agama seperti itu, menuntut untuk bersikap objektif sekaligus subjektif. Objektif, maksudnya sadar bahwa membicarakan banyak iman secara fair itu tanpa harus meminta pertanyaan mengenai benar atau validnya suatu agama. Subjektif berarti sadar bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanyalah untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauh mana keimanan tentang suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.

D.           Faktor Pendukung dan Penghambat Wawasan Multikultural dalam PAI
Sebagai sebuah wacana baru, pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural tentunya memiliki faktor pendukung dan penghambatnya. Diantara faktor pendukung dikembangkannya pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural adalah: (1) adanya landasan kultural dan theologis dari al-Qur’an maupun al-Hadits terhadap nilai-nilai multikultural, yaitu: nilai kejujuran dan tanggungjawab (al-amanah), keadilan (al-adalah), persamaan (al-musâwah), permusyawaratan dan demokrasi (al-syurâ atau al-musyawarah), nilai solidaritas dan kebersamaan (al-ukhuwwah),  kasih sayang (al-tarâkhim atau al-talathuf), memaafkan (al-’afw), perdamaian (al-shulh atau al-silm),  toleransi (al-tasamûh) dan kontrol sosial (amr al-ma’rûf nahy ‘an al-munkar); (2) nilai-nilai multikultural tersebut telah lama dikenal dan diajarkan di lembaga pendidikan Islam, terutama penjelasannya dalam teks-teks klasik (al-kutub al-mu’tabarâh) yang lazim digunakan di pondok pesantren; (3) rakyat Indonesia telah memiliki sejarah yang panjang mengenai pluralisme dan multikulturalisme karena bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius dan multikultur, dan; (4) terbentuknya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai tempat untuk memecahkan kebekuan komunikasi dan kerjasama antar umat beragama di beberapa daerah menjadi angin segar terhadap pemahaman agama yang inklusif, toleran dan sejalan dengan semangat pendidikan multikultural.
Sementara yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan pendidikan Agama Islam berbasis multikultural adalah: (1) masih terbangunnya mindset (kerangka berpikir) yang keliru dalam memahami paham/aliran-aliran kontemporer terkait dengan ajaran agama. Munculnya fatwa MUI (Majelis Ulama’ Indonesia) tentang larangan / haramnya paham pluralisme sedikit banyak menghambat upaya pencapaian pendidikan multikultural tersebut; (2) masih merebaknya konflik, baik antarumat agama maupun interumat agama itu sendiri serta fundamantalisme pemikiran yang masih bertahan pada pemikiran lama yang ekslusif fundamentalis dan berpandangan bahwa kelompok (agama) lain adalah sesat sehingga harus disatukan; (3) lebih menonjolnya semangat ke-ika-an dari pada ke-bhineka-an dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta kurangnya pengakuan terhadap keberadaan dan hak agama, suku dan golongan lain; (4) belum tertanamnya kesadaran bahwa menganggap agama, kelompok/suku yang satu “lebih baik”  dari yang lain adalah pandangan sempit yang offensive, dan karenanya harus ditinggalkan; (5) pengajaran PAI berwawasan multikultural belum terkonsep dengan jelas terkait dengan kurikulum dan metodenya; (6) guru-guru agama Islam di sekolah yang  berperan sebagai ujung tombak pendidikan agama nyaris kurang tersentuh oleh gelombang pergumulan pemikiran dan diskursus pemikiran keagamaan di seputar isu pluralisme, multikulturalisme dan dialog antarumat beragama, dan; (7) kurangnya pemahaman terhadap multikulturalisme dan pluralisme sebagai desain Tuhan (design of God) yang harus diamalkan berupa sikap dan tindakan yang menjunjung tinggi multikulturalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lepas dari faktor pendukung ataupun penghambatnya, pendidikan Agama Islam berwawasan multikultural merupakan sebuah keniscayaan yang mendesak untuk segera diimplementasikan untuk mewujudkan –istilah Gus Dur- “republik surga di bumi”, yaitu tatanan kehidupan yang penuh dengan harmonisasi, keramahan, kesantunan, kerukunan dan kedamaian. Sebuah idealisme dalam kehidupan, bukan?
*) ROHANI, Alumnus Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo (2000); Ketua GP Ansor Kecamatan Kepil Wonosobo (2011-2014), Mahasiswa Pascasarjana UNSIQ Jateng.

7 komentar:

  1. mantap gan
    trimakasih atas info nya

    BalasHapus
  2. informsi yang menarik dan bermanfaat sekali nih gan...
    di tunggu info selanjutnya, thanks

    BalasHapus
  3. informsi yang menarik dan bermanfaat sekali nih gan...
    di tunggu info selanjutnya, thanks

    BalasHapus
  4. ijin nyimak gan informasinya
    menarik dan bermanfaat nih infonya
    thanks ya, sukses terus

    BalasHapus
  5. keren artikelnya ane tunggu updatean terbarunya

    BalasHapus
  6. nice post gan
    mantep nih informasinya
    terimakasih banyak, sukses terus

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.