13.37
1


Kyai Mbah Ahmad Alim dan Legenda Asal Muasal desa Bulus*)
Rohani**)


1.   Di seputar Sosok Misterius Kyai Ahmad Alim
 
Bulus adalah sebuah desa kecil di wilayah kecamatan Gebang.[1] Posisi Desa Bulus adalah bagian tenggara kecamatan Gebang, sebelah timur berbatasan dengan desa Kalinongko kecamatan Loano, sebelah selatan berbatasan dengan kelurahan Mranti dan Mudal kecamatan Purworejo. Dari ibu kota Kabupaten Purworejo, untuk menuju ke desa Bulus tidak begitu jauh, karena hanya menempuh perjalanan + 5 KM ke arah barat. Desa Bulus terbagi menjadi beberapa dukuh yaitu: Krajan, Guyangan, Cikalan, Blengkunan, Beran, Pendem, Sanggrahan dan Sijo.
Bulus merupakan daerah terpencil, dalam peta geografis Indonesia, nama Bulus tidak begitu dikenal, meskipun di desa Bulus terdapat Makam Cokronegoro I yang merupakan Bupati Purworejo pertama Bagelen (Purworejo) dan karena letaknya yang di pegunungan, membuat hampir semua penduduknya berprofesi sebagai petani, meskipun ada juga yang berprofesi lainnya, namun jumlahnya tidak lebih dari 15 %.
Dengan kenyataan semacam ini, tidak lantas Bulus luput dari catatan sejarah. Karena setiap daerah pasti memiliki sejarah sendiri mengenai berdirinya. Tentang sejarah berdirinya desa Bulus, masyarakat pribumi senantiasa mengaitkannya dengan seorang tokoh legendaris bernama Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim (Mbah Ahmad Alim) sebagai pendiri awal desa tersebut.[2] Beliau merupakan keturunan ke- 32 dari nabi Muhammad SAW dan dilahirkan di Afdeling Ledok (sekarang Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo) pada tahun 1562 M.[3] Ledok adalah kabupaten dengan ibu kota Selomerto. Wilayah ini merupakan bagian dari wilayah Mataram. Hal ini di dasarkan pada sebuah tulisan yang berjudul “Dari Selomerta Ke Wonosobo” yang mendasarkan pada sumber  atau  diambil “Risalah Singkat Tentang Keadaan Daerah Ketjamatan Selomerto”  menyatakan sebagai berikut:
“Nama Selomerto....di dalam dongengan-dongengan, nama ini terkenal, karena Selomerto dahulu mendjadi ibu-kota dan tempat tachta pusat pemerintahan Kabupaten Ledok. Kapupaten Ledok jang berwilajah Kabupaten Wonosobo dan ber-ibu-kota Kabupaten Wonosobo sekarang....Sesungguhnja nama Wonosobo itu didapatkan dari sebuah nama dukuh, termasuk di desa Plobangan wilajah ketjamatan Selomerto sekarang, jang dukuh itupun hingga kini masih djuga bernama Wonosobo. Demikianlah untuk keselarasan dari pada situasi dan nama dari pada Kabupaten Ledok semasa itu, maka sedjak perpindahan ibu-kota Kabupaten dari Selomerto ke  tempat (Wonosobo) digunakanlah nama Wonosobo bagi daerah Kabupaten dengan nama dari pada ibu-kota-nja disesuaikan pula dengan nama daerah itu. Wonosobo jang bermakna; tempat kunjungan insane!, Ja, what is a name?. Tetapi, demikianlah konon kissahnja...., Mengetengahkan nama Selomerto dalam kepentingan sekedar menelaah sedjarah..., maka pada waktu kira-kira di dalam zaman Sultan Sepuh di Mataram di (Ledok) Selomerto bertachta Kjai Tumenggung Djogonegoro, jang hingga sekarang nama beliau itu terkenal di kalangan masjarakat Wonosobo umumnja.   selatan mesdjid Selomerto. Dan tempat pemandian beliau jang chusus pada waktu itu terletak di Mudal, sebelah Timur Selomerto sekarang”[4]
Dari Kabupaten Ledok tersebut, Mbah Ahmad Alim lahir dan memulai aktifitas dakwahnya ke pedalaman Wonosobo, Temanggung, Magelang dan berakhir di Purworejo. Terdapat cerita bahwa Mbah Ahmad Alim  berpindah tempat tinggal hingga 28 (dua puluh delapan) kali, dan berpindah-pindahnya tempat tinggal tersebut sekaligus untuk membuka hutan untuk kawasan baru (Jawa: babad alas), mendirikan perkampungan serta membangun masjid dan pesantren.[5]
Pada waktu muda, Mbah Ahmad Alim lama belajar kepada para Ulama besar di Pekalongan, setelah dirasa cukup, beliau kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya sekaligus untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah, beliau lama mukim di tanah suci Makah dan mendapatkan ijazah tarekat syathariah.
Sepulang dari menunaikan haji dan menimba ilmu di tanah suci, beliau mukim di kampung Krapyak, Pekalongan utara, di kampung tersebut beliau menikah dan memiliki keturunan, antara lain: Sayyid Abu Tolib Basaiban dan Sayyid Toha Basaiban. Dari Pekalongan, atas permintaan para muridnya, Mbah Ahmad Alim  kemudian kembali ke Wonosobo dan mukim di Dusun Cekelan Kecamatan Kepil.[6] Di desa tersebut beliau mendirikan sebuah masjid dan pesantren dibantu oleh besan-nya yang bernama Raden Tumenggung Bawad (pensiunan) Wirandhaha, seorang bangsawan dari Ngayogjakarta (makamnya terletak di Jambean, Blimbingan, Bruno).[7]
Tumenggung Wiradhaha bersama dengan Tumenggung Wiraduta dan Tumenggung Wirabumi merupakan prajurit dari pasukan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda. Dalam perang gerilya tersebut, Pacekelan dipilih menjadi tempat persembunyian karena merupakan hutan belantara lebat yang penuh dengan dedemit dan sulit terjangkau oleh Belanda. Bersama pasukannya, Pangeran Diponegoro sempat melewati desa Pecekelan. Sedangkan Wiraduta bersama Wirabumi dan Wiradhaha ditugaskan untuk membuka hutan belantara tersebut menjadi perkampungan. Wilayah tersebut lantas menjadi pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Tumennggung Wiraduta, kelak pusat kekuasaan dipindah ke Ledok.[8]
Dari Desa (Pa)Cekelan, Mbah Ahmad Alim pindah ke Desa Gunung Tawang Kecamatan Selomerto Wonosobo serta mendirikan Masjid dan Pesantren. Dari  Gunung Tawang, beliau  pindah ke arah utara di sekitar desa Kendal Mangkang, yang merupakan petilasan Kyai Ageng Gribig dari Klaten Surakarta ketika membuat benteng pertahanan untuk memerangi Belanda sewaktu melancarkan serangan ke Batavia (sekarang Jakarta). Dari Kendal Mangkang, kemudian beliau menuju arah timur sampai di desa Candiroto (Temanggung), namun tidak ada riwayat yang menunjukkan beliau membangun Masjid dan pondok di wilayah tersebut.
Perjalanan membuka pemukiman dan syi’ar Islam dari Candiroto kemudian dilanjutkan ke desa Traji, sebelah utara Parakan Temanggung, dekat desa Mandensari. Di desa Traji, beliau juga mendirikn masjid dan pesantren yang hingga saat ini masih ada. Setelah mukim di desa Traji, Mbah Ahmad Alim kemudian mukim sebentar di desa Bulu Salaman, Magelang dan dibantu Kyai Muhyi Bulu mendirikan sebuah pesantren dan masjid yang hingga saat ini masih ada. Kepindahan tersebut didorong atas permintaan para santrinya yang mengetahui bahwa desa Bulu waktu itu kurang aman. Setelah Kyai Ahmad Alim mukim di desa tersebut, berangsur-angsur kemudian desa Bulu menjadi aman dan tentram. Selanjutnya beliau babad alas untuk membuka desa Pacalan, mendirikan masjid dan sebuah pesantren yang masih ada hingga saat ini.
Dari desa Pacalan, Mbah Ahmad Alim  kemudian pindah ke desa Nglegok Baledono Purworejo dan tinggal di kediaman Kyai Asnawi/Raden Tumenggung Djojomenduro (putra Kyai Syamsiah, Pengulu Landrat/ Pengadilan Negeri jaman Jawa yang dimakamkan di Pangenjurutengah). Didapat cerita, disana beliau mendirikan pesantren yang kemudiaan diasuh oleh Kyai Asmawi dan memiliki ribuan santri. Karena perkembangan pesantren yang begitu pesat, dan meningkatnya animo masyarakat untuk menjadi santri yang belajar di sana, atas perintah dari Bupati Purworejo pertama di zaman Belanda RM. Tumenggung Tjokrodjojo,[9] beliau diminta untuk pindah ke desa Kalikepuh Beji (sebelah barat alun-alun Purworejo). Kepindahan beliau tersebut, diikuti oleh ribuan santrinya dengan membawa bangunan masjid tanpa dibongkar terlebih dahulu.
Dari desa Kalikepuh, beliau kemudian diperintahkan untuk pindah ke desa Bulus,[10] Mbah Ahmad Alim tiba di Bulus sekitar tahun 1830-an. Asumsi ini didasarkan atas; pertama, kedatangan Tumenggung Wiradhaha, salah seorang besan Mbah Ahmad Alim, bersama Pangeran Diponegoro ke desa Pacekelan dan diangkatnya Tumenggung Wiraduta sebagai penguasa Cekelen Wonosobo; Kedua, Kepindahan Mbah Ahmad Alim ke Bulus adalah atas perintah dari penguasa (Bupati) Bagelen, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Cokronegoro I serta Raden Cokrojoyo sebagai Patih (pembantu Bupati Bagelen); Ketiga, berdasarkan tulisan yang terdapat prasasti yang ditempel di atas pintu utama Masjid Agung, masjid ini selesai dibangun bersamaan dengan selesainya pembuatan Bedug Kyai Bagelen (Bedug Pendhawa) pada tahun Jawa 1762,  atau tahun 1834 M., yang berarti penguasa Bagelen adalah KRT. Cokronegoro I; Keempat, Menurut catatan sejarah, kebijakan mengangkat penguasa suatu daerah dari kalangan pribumi tersebut, diambil oleh Pemerintah Hindia Belanda seuasai Perang Diponegoro (1825-1830),[11] dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kedatangan Mbah Ahmad Alim ke Bulus terjadi setelah diangkatnya KRT. Cokronegoro sebagai penguasa Bagelen yang pertama.
Diatas asumsi-asumsi tersebut, senyatanya sosok Mbah Ahmad Alim memang sosok yang misterius. Tidak diketemukannya kepastian data tahun tentang aktifitas beliau, menjadikan Mbah Ahmad Alim sebagai tokoh legendaris yang misterius, sebagaimana ungkapan KH Sayyid Hasan Agil Ba’abud:[12]
“Mbah Ahmad Alim  itu masih misterius. Makamnya memang ada di sini, dan menurut beberapa saksi, ada yang bilang (kedatangan beliau-red) sekitar tahun 1700-an, 1750-an atau 1800-an...., Memang dia itu dikenal sebagai seorang sufi. Hanya asal-usulnya sampai saat ini masih misterius. Tidak ada yang tahu, beliau itu dari mana. Tetapi konon beliau itu dari Ledok Wonosobo dan masih keturunan Sunan Gresik-Jatim dan kampung Bulus ini dulunya adalah hutan belantara.”
Bulus, saat dimana Mbah Ahmad Alim datang, merupakan hutan belantara yang angker (wingit) dan masih perawan serta terdapat sebuah beji, yaitu sumber mata air yang alami.[13] Karena masih berupa hutan belantara, di sumber mata air beji tersebut, waktu itu masih dihuni oleh sepasang siluman bulus putih, lelembut dan binatang buas lainnya. Kitab Pustaka Bangun[14] menggambarkan kondisi hutan dan beji tersebut, sebagai mana berikut:
 “Wana punika kasiar wingit amargi wonten ing beji punika wau wonten ingkang hambaureksa inggih punika siluman Bulus Pethak sakjodho. Sanesipun Siluman Bulus, wonten ing wana wau ugi kathah Simanipun (macan), Warak (badak), Andhapan (celeng), Brekasakan, Lelembut lan sanes- sanesipun ingkang sakwekdal-wekdal purun mrusa utawi mangsa dhateng manungsa. Mila panggenan wau wekdal semanten kawentar kanti sebutan “Jalma Mara Jalma Mati”.
(hutan tersebut terkenal angkernya, karena di beji ada yang menguasai, yaitu sepasang siluman bulus putih, juga dihuni oleh macan, badak hutan, babi hutan, binatang buas, siluman (lelembut) dan binatang buas lainnya yang sewaktu-waktu dapat menerkam dan memangsa manusia. Sehingga waktu itu, daerah tersebut diistilahkan dengan “jalma mara jalma mati”  [berani datang berani mati]).
Perintah kepada Mbah Ahmad Alim untuk meninggalkan Kalikepuh dan pindah ke desa Bulus tidak lain juga agar beliau dimangsa binatang buas atau siluman, namun atas kekuasaan Allah Swt, ditempat baru tersebut, Mbah Ahmad Alim tetap dianugrahi keselamatan. Dibantu oleh ribuan santri dan muridnya yang berasal dari Pekalongan, Semarang, Salatiga, Magelang dan lain-lain, beliau kemudian babad alas  yang terkenal angker tersebut sehingga dapat dijadikan pemukiman (desa) baru, bahkan kegiatan babad alas tersebut sampai di daerah Tanggungmangu. Setelah hutan menjadi pemukiman penduduk, beliau kemudian mendirikan Masjid dan pesantren (yang hingga saat ini masih ada, yaitu pesantren al-Iman). Pesantren tersebut merupakan pesantren tertua di daerah Purworejo yang kemudian disusul dengan berdirinya pesantren-pesantren lain di kabupaten purworejo. Semenjak babad alas dan pendirian pesantren di hutan wingit tadi, kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama desa Bulus. 

2.   Keseharian dan Kepribadian Sayyid Ahmad Muhammad Alim
Di pesantren barunya, Mbah Ahmad Alim membacakan pengajian Thariqah Syatariyah. Seusai kegiatan mengaji, para santrinya diminta untuk bekerja, sebagain membuka hutan untuk kemudian ditempati dan sebagaian yang lain mengerjakan apapun yang dapat dikerjakan.  
Mbah Ahmad Alim sering melakukan tirakat puasa mutih, jarang makan, dan kalaupun makan hanya sekali dalam sehari, pakaian kegemarannya berwarna putih atau warna gadung (hijau muda) dengan sabuk yang terbuat dari kulit pohon pisang, yang dijadikan untuk mencuci pakaiannya adalah buah mengkudu matang, tidak pernah merokok, bertubuh tinggi besar melebihi tinggi dan besarnya seseorang pada umumnya, bersuara besar (keras), berjiwa besar.
Dalam sehari semalam, beliau melakukan shalat sunat sebanyak 32 rakaat, jika shalat awwabin, beliau melakukannya sebanyak 20 rakaat. Jika hendak tidur, selepas melakukan wirid, beliau bersyahadat 3 (tiga) kali dengan maksud agar nanti mendapatkan keselamatan dan rahmat Allah ta’ala ketika menghadapi sakaratulmaut, selamat di alam kubur dan di padang makhsyar 

3.   Melakukan Tirakat untuk Keturunan dan Santrinya.
 
Mbah Ahmad Alim juga selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar kelak keturun dan murid-murid beliau menjadi generasi yang shalih, untuk maksud tersebut beliau rela melakukan tirakat tapa pendhem selama 40 hari, 40 malam. Tapa pendem merupakan kegiatan memohon kepada Allah dengan cara dibenamkan di tanah sebagaimana orang yang meninggal dunia yang dikubur.
Dalam tirakat yang dilakukan tersebut, diatas kepala beliau diberi sebatang bambu (Jawa: bumbung) yang berfungi untuk bernafas dan seuntai benang untuk mengetahui apakah beliau masih hidup atau sudah wafat. Setiap sore hari, para murid beliau menarik benang tersebut dan dari dalam beliau membalas dengan menarik pula, sebagai tanda bahwa beliau masih hidup. Dalam tapa pendem tersebut beliau mendapatkan alamat (Jawa: sasmitha, wangsit), untuk memilih 3 bendera yang berwarna putih, hijau dan merah. Beliau diseru oleh hatif (suara tanpa rupa): “milih yang mana kyai?”, kemudian beliau memilih warna putih. Setelah beliau memilih, hatif kembali terdengar sembari menjelaskan “Pethak wau pralambangipun amal soleh, menawi Ijem punika pralambangipun kasugihan, lan menawi Abrit punika pralambangipun Kapriyantunan “ (putih pertanda keshalihan, hijau perlambang kekayaan dan merah menandakan keprihatinan), sehingga beliau kemudian berkata “Turunanku ora usah tirakat, sak uga gelem mantep anggone nglakoni ngaji, bakal diparingi dadi wong mulya dunya tumekane akherat”  (anak turunku tidak usah prihatin [tirakat], asalkan mau mengaji kelak akan menjadi orang yang mulia dunia akhirat).
Mbah Ahmad Alim merupakan seorang ulama ahli Nahwu, Fiqih, Tafsir dan ilmu Tasawwuf. Ketika malam hari tiba, beliau sering dijaga oleh 5 ekor macan dan badak. Penjagaan tersebut menjadikan rumah dan tanaman beliau aman, tidak ada yang menganggu. Semua tempat yang wingit untuk masyarakat umum, bila disinggahi oleh beliau akan menjadi aman, pun demikian, setiap orang jahat yang bertemu dan mengenal beliau kemudian menjadi orang shalih, sehingga para pengikutnya tidak bisa berpisah dengannya serta selalu mengikuti kemanapun beliau berpindah tempat.
Mbah Ahmad Alim sering menghilang (terutama di malam jum’at), bersamaan dengan itu, di dalam masjid terdengar gemuruh suara orang membaca dzikir thariqah Syatariyah, sehingga di luar masjid banyak hewan buas yang menjaganya. Sebagian hikayat menceritakan bahwa bacaan dzikir tersebut masih dapat didengar di makam (Jawa: pesarean) beliau dengan syarat menjalankan shalat sunnah dilanjutkan membaca surah Yasin.
Beliau juga mengajarkan Tarekat Syatariyah yang kemudian dilanjutkan oleh Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i (putran Kyai Nur Iman Mlangi dengan Putri Cina) dan Kyai Muhammad Alim Maron (putra Sayyid Muhammad Alim), dan karena mengamalkan dan menyebarkan tarekat Syatariyah tersebut, Kyai Muhammad Alim Maron ditangkap oleh Belanda sebagai mana bapaknya dahulu.




4.   Perjuangan melawan Belanda dan kewafatan Sayyid Ahmad Alim
 
Mbah Ahmad Alim memiliki jiwa pejuang yang besar. Sewaktu prajurit Sultan Agung Hanyakrakusuma yang dipimpin oleh Kyai Ageng Gribig Klaten Surakarta menyerang Belanda di Batavia (Jakarta), beliau menyiapkan para pemuda untuk membantu dan bergabung dengan prajurit Kyai Ageng Gribig, begitu juga pada   tanggal 19 November 1826, saat terjadi perang besar di Bagelen antara Belanda melawan Pangeran Diponegoro (RM. Antawirya),[15] beliau menyiapkan para pejuang untuk ditempatkan di benteng pertahanan Magelang, Bagelen, (dipimpin oleh Raden Tumenggung Djojomustopo [dimakamkan di Sindurejan] dan R. Syamsiyah [Pengulu Landrat Pangenjurutengah]). Dalam peperangan tersebut, dibantu pula oleh prajurit dari Wonosobo dan Banyumas.
Ulama lain yang berjuang di Bagelen pada waktu berlangsungnya perang Diponegoro adalah Kyai Imam Puro (1800-1900 M.), Beliau adalah keturunan ke-9 dari Sultan Agung yang menjadi abdi dalem Kyai Guru Luning (Mansyur Muhyiddin ar-Rofi’i). Selesai nyantri, Kyai Imam Puro mendirikan pondok pesantren Sidomulyo, Ngemplak, Kecamatan Purworejo yang kini bernama Pesantren Al-Islah dan menyebarkan ajaran Thariqah Syattariyah,[16] yang didapat dari gurunya, Kyai Guru Luning. Perang gerilya yang dilakukan para ulama’ dan santri tersebut, mendapatkan kemenangan di daerah Kemiri, Loano, Sucen dan tempat lainnya.[17] Pasukan dari Bagelen inilah yang memberikan andil besar dalam penyerangan ke Batavia dan termasuk pasukan inti Mataram.[18]

Selepas perang Diponegoro, perjuangan Mbah Ahmad Alim dilanjutkan dengan melakukan lobi kepada pihak belanda untuk memprotes cara eksekusi (penjatuhan hukuman) terhadap orang-orang pribumi yang tertangkap [hukuman yang diberikan terhadap tawanan perang waktu itu adalah dibunuh dengan cara disalib, dihadapkan ke arah matahari, kemudian ditumpahi timah mendidih. Pengadilan dan pemutusan hukuman tersebut terjadi di Kedung Lo, sebelah barat Tanggung Purworejo]. Proses lobying beliau kemudian diterima oleh belanda dengan merubah cara hukuman yaitu dengan menyayat tubuh sampai mati (tempat eksekusi diseputar daerah Bong Cina). Karena dirasa masih kurang manusiawi, beliau dalam usia yang sudah sangat renta dan harus ditandu oleh para muridnya,[19] menuju ke Pengadilan untuk melakukan tuntutan agar proses eksekusi diganti dengan cara yang lebih manusiawi. Pihak Belanda kemudian merubah cara eksekusi dengan hukuman gantung.
Mbah Ahmad Alim meninggal pada hari Jum’at Pahing tanggal 1 Jumadilakhir taun B 1262 Hijriyah / 1842 M dalam usia 280 tahun dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Bulus.[20]



5.   Murid-Murid Setia Kyai Ahmad Alim
 
Sebagai seorang ulama’ agung, Mbah Ahmad Alim memiliki ribuan santri, beberapa murid yang belajar kepada beliau di pesantren Bulus adalah dan kelak mendirikan pesantren di beberapa daerah adalah Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i (putran Kyai Nur Iman Mlangi dengan Putri Cina) dan Kyai Muhammad Alim (putra Sayyid Muhammad Alim, perintis pesantren Maron Purworejo), Kyai Syarif Ali (kelak diangkat sebagai salah satu menantunya dan meneruskan kepemimpinan pesantren Bulus), Mbah Zain al Alim (Muhammad Zein), perintis pesantren  Solotiyang, Loano, Purworejo,[21] serta Muhammad Shalih bin Umar (1820 M), yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shaleh Darat.[22].
Kyai Shaleh Darat memiliki ketinggian ilmu yang sangat luar biasa Ketinggian ilmunya tidak hanya bisa dilihat dari karya-karya monumental dan keberhasilan murid-muridnya menjadi ulama-ulama besar di Jawa, tetapi juga bisa dilihat dari pengakuan penguasa Mekkah saat ia bermukim di sana. Ia dinobatkan menjadi salah seorang pengajar di Tanah Suci tersebut. Ketinggian ilmu Kyai Shalih Darat terekam dalam beberapa karyanya, diantaranya adalah: a) Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam [Kitab ini khusus membahas persoalan fiqih yang ditulis dengan bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon, b) Munjiyat Metik Sangking Ihya’ Ulum al-Din al-Ghazali [Sebuah kitab yang merupakan petikan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din juz 3 dan 4], c) Tarjamah al-Hikam karya Ahmad bin Athailah [Merupakan terjemahan dalam bahasa Jawa], d) Lathaif al-Thaharah [Berisi tentang hakikat dan rahasia shalat, puasa dan keutamaan bulan muharram, Rajab dan Sya’ban. Kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa], e) Manasik al-Haj [Berisi tuntunan atau tatacara ibadah haji], f) Pasolatan [Berisi hal-hal yang berhubungan dengan shalat (tuntunan shalat) ima waktu, kitab ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan Huruf Arab pegon], g) Sabillu ‘Abid [terjemahan bahasa Jawa dari Jauhar al-Tauhid, karya Ibrahim Laqqani], h) Minhaj al-Atkiya’ [Berisi tuntunan bagi orang orang yang bertaqwa atau cara-cara mendekatkan diri kepada Allah SWT], i) Al-Mursyid al-Wajiz [Berisi tentang ilmu-ilmu al-Quran dan ilmu Tajwid], j) Hadits al-Mi’raj, k) Syarh Maulid al-Burdah, l) Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an [kitab Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Jilid pertama terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim. Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang, Ditulis pada 5 Rajab 1309 H/1891M. kitab ini diterbitkan di Singapura], m) Asnar al-Shalah, dan lain-lain.[23]
Diantara murid Kyai Soleh Darat adalah KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dan lain-lainnya.[24]

  1. Al-Islamiyah; Pesantren tertua di Kabupaten Purworejo
Dengan dibukanya perkampungan Bulus, dan didirikannya masjid dan pesantren oleh Sayyid Ahmad Alim, maka pesantren tersebut merupakan pesantren tertua di Kabupaten Purworejo, karena sebelum keberadaan pesantren di desa Bulus, belum ada pesantren di Kabupaten Purworejo.
Selama mukim di desa Bulus, Mbah Ahmad Alim senantiasa melakukan syi’ar agama Islam sehingga dengan pesat Islam berkembang di seluruh daerah Purworejo serta memicu berdirinya beberapa pesantren di wilayah Luning, Pacalan, Tirip, Maron, dan tempat lainnya. Setelah beliau wafat, murid beliau banyak pula yang kembali ke desa masing-masing sehingga menyebabkan desa Bulus kosong (fatrah) penduduk selama kurang lebih 3 tahun. Karena desa tersebut kosong, RM. Tjokrodjojo (Tjokronegoro), Bupati I Purworejo memerintahkan R. Syarif Syarif Ali, seorang ulama asal desa Madijokusuman Purworejo untuk meneruskan tapuk kepemimpinan pesantren dan mukim di desa Bulus agar tidak berubah menjadi hutan lagi.[25]
Namun sumber cerita dari KH. Hasan Agil Ba`bud memberikan informasi bahwa Raden Sayyid Ali, yang juga sang menantu dari Sayyid Muhammad Alim merupakan penunjukan dari Sayyid Ahmad Alim dan Kiai Ahmad Alim juga memberikan tanah-tanah di Bulus kepada menantunya, dan tidak menghendaki anak-anak keturanannya sendiri untuk tinggal dan memegang pimpinan pesantren. Alasan di balik itu, menurut KH. Hasan Agil Ba`bud karena dilandasi keikhlasan (lillahi ta`ala).[26]
 “... Karena sangat cinta kepada seorang sayyid yang juga alim. Itu terjadi sekitar tahun 1800-an (pada zaman Pangeran Diponegoro). Ya, karena cinta pada orang alim, juga sayyid, maka Mbah Ahmad Alim  mengorbankan anak-anaknya untuk keluar dari Bulus. Di antara anak-anaknya itu ada yang mendirikan pesantren Maron, Solotiang, Al-Anwar”.
Dari Sayyid Ali, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan putranya, yakni Sayyid Muhammad, lalu diteruskan oleh putra pertamanya Sayyid Dahlan. KH. Sayyid Hasan Agil bercerita:
“Dulu itu di pesantren ini hanya mengaji saja, terus oleh Sayyid Muhammad dibangun-lah madrasah. Madrasah itu dibangun dalam bentuk formal, tetapi formal diniyah bukan formal ala madrasah. Dengan kata lain, bukanlah campur-campur umum. Tetapi madrasah diniyah (klasika–red) pada waktu itu benar-benar luar biasa, karena ponpes yang ada di Jawa secara umum yang namanya salafi, hanya berpaku pada kitab saja tidak dengan model madrasah. Juga, belum tertib, belum termenej betul. Yang namanya belajar di papan tulis saja belum ada, bahkan min ba’dil ulama’ saat itu malahan mengatakan bahwa memindahkan ayat-ayat Qur`an di papan tulis, itu haram. Itu hak beliau, orang-orang dulu dan mbah-mbah (pendiri—red) sini dulu sudah berani menciptakan metode madrasah dan itu pertama di Purworejo. Belum ada sistem madrasah sehingga waktu itu ada banyak orang kota yang belajar di sini.“

Pada sekitar tahun 1935-an, atas permintaan Bupati Cokronegera, Kyai Sayyid Dahlan pindah ke Kauman, dekat masjid Jami` Purworejo untuk menjadi imam dan kiai di masjid Agung Kauman. Dengan kepindahan Kyai Sayyid Dahlan tersebut, maka kepemimpinan beliau di Pesantren al-Islamiyah berakhir, setelah itu pondok menjadi vakum (fatrah). Apalagi waktu itu keadaan sedang dalam masa revolusi fisik menghadapi penjajahan (agresi militer) Belanda sehingga kondisi ketidakpastian tersebut berimbas pula terhadap keberlangsungan pesantren karena ditiggalkan oleh kyai maupun santrinya untuk berjuang di medan tempur, dimana-mana terjadi kekosongan kepemimpinan pesantren, tidak terkecuali pesantren al-Islamiyah Bulus.[27]
Setelah lama vakum dan tidak ada aktivitas lagi, pada dekade 1950-an,[28] pesantren di Bulus itu dibangun atau dihidupkan kembali oleh Kyai Sayyid Agil Ba’abud.

Bersambung……

*) Tulisan ini dipersiapkan sebagai bagian dari draf Buku “al-Ustadz Agiel Ba’abud: Ulama Multi Talenta”
**) Penulis, Alumnus Pesantren al-Iman Purworejo, Ketua GP. Ansor Kepil Wonosobo



[1]  Menurut  data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, Kecamatan Gebang memiliki luas wilayah 64 km² dengan jumlah penduduk 43.342 dan kepadatan 675 jiwa/km². Secara administratif pemerintahan, Kecamatan ini memiliki 25 desa/kelurahan, yaitu: 1) Bendosari, 2) Bulus, 3) Gebang, 4) Gintungan, 5) Kalitengkek, 6) Kemiri, 7) Kragilan, 8) Kroyo, 9) Lugosobo, 10) Mlaran, 11) Ngaglik, 12) Ngemplak, 13) Pakem, 14) Pelutan, 15) Penungkulan, 16)  Prumben, 17) Redin, 18) Rendeng, 19) Salam, 20) Seren, 21) Sidoleren, 22) Tlogosono, 23) Winong Kidul, 24) Winong Lor, 25) Wonotopo. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Bulus,_Gebang,_Purworejo, diunduh 01 Oktober 2011
[2]  Riwayat lain memberikan informasi bahwa Kiai Rofingi adalah penemu dan perintis awal terjadinya desa Bulus. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Bulus,_Gebang,_Purworejo, diunduh 01 Oktober 2011
[3] Selengkapnya periksa: Sayyid R. Muhammad Ravie Ananda, “Pustaka Bangun”. Buku ini merupakan buku silsilah Kyai Ahmad Alim dan keturunannya yang ditulis pada  hari Rabu Legi, 25 Robingulakhir 1387 H bertepatan dengan 02 Agustus 1967 M.  Buku ini ditulis untuk menyambut peringatan khaul Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim (Mbah Ahmad Alim Bulus) yang ke-125. Tim penulisnya terdiri atas Kyai Sayyid R. Damanhuri (Pangen Jurutengah Purworejo), Kyai Sayyid Dahlan Baabud (Kauman Purworejo), Kyai Sayyid Agil Baabud (Bulus), Haji Syamhudi, R. Armowarsito , R. Ali MS, dan R. Muh. Siroj melalui pengumpulan riwayat dari keturunan mBah Ahmad Alim. Buku ini kemudian pada hari Kamis Paing jam 11.30 WIB, tanggal 2 Jumadilakhir 1387 H (07 September 1967) oleh Kyai Sayyid R. Damanhuri Pangenjurutengah Purworejo dibacakan didepan + 300-an pengunjung yang memadati acara khaul Kyai Sayyid Ahmad Muhammad Alim ke 125 tahun di serambi Masjid Bulus Purworejo. Selengkapnya: Hayyin Muhdlor, Lc, “Nyariosaken Riwayat saha Silsilah turunipun Sayyid Ahmad Muhammad Alim (Mbah Kyai Ahmad Alim) Bulus Purworejo”, dalam  http://al-iman_community, diunduh 01 Oktober 2011.

[4] Kenang-Kenangan DPRDS Kab Wonosobo 1950-1959., t p., tt., hal. 123-124, dikutip dari Abdul Kholiq Arif, Mata Air Peradaban, (JOGjakarta: LkiS: 2010), hal. 10. Menurut versi rakyat, lingkungan pendopo dan sekitarnya diatur dan di tata oleh para pendiri Wonosobo yaitu Kyai Walik, Kyai Karim, dan Kyai Kolodente. Kyai walik dianggap paling dominan dalam menata tata kota dan pemerintahan. Kyai Kolodente menurut versi ini berjasa besar mengalirkan aliran air Sungai Serayu memasuki Kota Wonosobo guna mengairi sawah pertanian di sekitarnya. Kyai Kolodente berpangkat Ulu-ulu. Baca: Kota Terlarang: Pusat Kosmos Kekuasaan Wonosobo”, dalam: http://www.jatiningjati.com/2009/06/, diunduh 11 Oktober 2011

[5] Cerita mengenai Kyai Sayyid Ahmad Alim ini merupakan adopsi dan  terjemah bebas dari buku Pustaka Bangun, hal.........
[6]  Cekelan (Pacekelan)  sekarang menjadi nama sebuah desa di Kecamatan Sapuran. Adapun letak Cekelan, dimana Sayyid Ahmad Muhammad Alim mendirikan pesantren, sekarang bernama dusun Kalilusi. Catatan sejarah memberikan informasi bahwa pada mulanya penguasa daerah ini bernama Tumenggung Wiroduta dan kelak kekuasaannya dipindah ke Ledok atau desa Plobangan saat ini, tempat dimana Sayyid Ahmad Alim dilahirkan. Samsul Munir Amin, Biografi KH Muntaha al-Hafidz; Ulama Multidimensi (Jogjakarta: Pustaka Pesantren: 2010), hal. 2; Pada awal abad ke-XVII Agama Islam sudah mulai berkembang luas di daerah Wonosobo. Seorang tokoh penyebar Agama Islam yang sangat dikenal pada masa itu adalah Kyai Asmarasufi seorang menantu dari Kyai Wiroduto. Kyai Asmarasufi yang mendirikan Masjid di Dukuh Bendosari (Sapuran) dipercaya sebagai cikal bakal atau tokoh yang kemudian menurunkan Ulama Islam dan pemilik Pondok Pesantren yang ada di Wonosobo pada masa berikutnya seperti Kyai Ali Bendosari, Kyai Syukur Soleh, Kyai Mansur Krakal (Kertek), Kyai Abdul Fatah Tegalgot (Kepil), Kyai Soleh Pencil, Kyai As’ari (Kalibeber), Kyai Abdul Fakih, Kyai Muntaha dan Kyai Hasbullah. Baca: “Sejarah Wonosobo” dalam http://wisatasejarah.wordpress.com/2010/01/04/kab-wonosobo/, diunduh 11 Oktober 2011
[7] Raden Tumenggung Wirandhaha, adalah ayah dari Kyai Tolabudin Paguan Kaliboto, Purworejo. Sayyid Ahmad Muhammad Alim juga besanan dengan Kyai Karang Malang (makamnya terletak di Bruno, Purworejo), bapak dari Kyai Imam Puro (Kyai Ngemplak). Diceritakan pula bahwa Kyai Karang Malang dan Tumenggung Wirandhaha jika saling berkunjung sama-sama membawakan tanaman yang menjadi kegemaran masing-masing, yaitu Kyai Karang Malang membawakan pohon Jambe untuk Tumenggung Wirandhaha, sedangkan Tumenggung Wirandhaha membawa pohon nira (Jawa: aren) yang merupakan kegemaran Kyai Karang Malang dan tanaman tersebut dipanggul masing-masing, tidak menyuruh orang lain.
[8] Tumenggung Wiraduta merupakan keturuan Prabu Brawijaya V. Beliau masih berhubungan darah dengan Tumenggung Setjonegoro dan Syaikh Abdullah Selomanik. Tumenggung Wiraduta dimakamkan di dusun Kalilusi, desa Pacekelan, disamping pesantren yang didirikan oleh Mbah Ahmad Alim. Beliau dimakamkan di dalam cungkup bersama dengan istri dan ibunya. Makam beliau terlihat masih alami, ditandai dengan batu nisan yang terbuat dari tanah yang dikeraskan. Sedangkan di luar cungkup merupakan makam Kyai Blendang, Kyai Dalem, dan Kyai Diebeng serta Den Bagus Gendor yang merupakan para santri dan pengikut setianya. Lihat: “Sesepuh Wonosobo”, dalam http://nyaingilir.blogspot.com/2010/02/sesepuh-wono-sobo.html, diunduh 11 Oktober 2011
[9] Kemudian dikenal dengan nama RM. Tumenggung Tjokronegoro, dimakamkan di desa Bulus, tepatnya di atas komplek pesantren al-Iman. Perintah kepindahan Sayyid Ahmad Muhammad Alim tersebut dilakukan oleh Bupati Purworejo atas permintaan pihak Belanda yang tidak bisa tidur dan selalu dihinggapi rasa takut dan was-was terhadap pengaruh dan kewibawaan Sayyid Ahmad Alim dan sewaktu-waktu dapat menyerang Belanda. Cerita ini kemudian memperkuat kepindahan beliau ke desa Bulus. Sehingga perintah tersebut bisa dianggap sebagai “pengusiran” atau “pembuangan” sebagai mana biasa dialami oleh para Ulama’.

[10] Sementara versi cerita sebagaimana diceritakan oleh KH Sayyid Hasan Agil Ba`abud, konon kepindahan Sayyid Ahmad Muhammad Alim karena dibuang oleh Belanda dan semenjak kedatangan beliau ke kampung Bulus tersebut bersamaan pula dengan berdirinya desa Bulus. Baca: “Pesantren Al-Iman Bulus Gebang Purworejo”, dalam  Majalah Hidayah, edisi 59, Juni 2006, hal. 25-29

[11] Baca:” Sejarah Bedug Purworejo” http://penemuanxxx.blogspot.com/2010/09/sejarah-bedug-purworejo.html, diunduh 9 )kt0ber 2011
[12] Baca: “Pesantren Al-Iman Bulus Gebang Purworejo”, dalam  Majalah Hidayah, edisi 59, Juni 2006, hal. 25-29
[13] Beji adalah sebuah danau kecil alami seluas lebih kurang 400m2 yang terdapat di desa ini, dengan debit air yang melimpah bersumber dari mata air alam, maka Beji berfungsi sebagai pusat penyuplai air di Desa Bulus dan sekitarnya. http://id.wikipedia.org/wiki/Bulus,_Gebang,_Purworejo, diunduh 01 Oktober 2011
[14] Lihat : Pustaka Bangun, hal.
[15] Sayyid Ravie Ananda, “Sejarah Gelap Kabupaten Kebumen”, dalam: http://sayyidmuhammadraffie.blogspot.com/2010/08/pustaka-raja-purwa-rahasia-sejarah.html, diunduh 11 Oktober 2011.

[16] Kyai Imam Puro banyak memberikan bantuan bagi pasukan pangeran Diponegoro. Karenanya, Kyai Imam Puro sempat ditahan Belanda, namun kemudian dibebaskan. Kyai Imam Puro dimakamkan di bukit Geger Menjangan, dusun Candi, Baledono, Purworejo. Sri Widowati, ”Biografi Singkat Ulama Pejuang Purworejo, Kyai Imam Puro”, dalam: http://sriwidowatiretnopratiwi.blogspot.com /2011/08/biografi-singkat-ulama-pejuang.html, diunduh 11 Oktober 2011

[17] Sayyid R. Muh. Ravie Ananda,  Tarikh Nur Iman Muhyidin Arrofi’i; Nyariosaken Riwayat Saha Silsilahipun KGPH. Kartasura RM. Sandeyo / Kyai Ageng Nur Iman Mlangi lan RM. Mansyur Muhyidin Arrofi’i / Kyai Guru Luning, tt, tp, hal. 13
[18] “Sejarah Kota Purworejo”, dalam: : http://bom2000.com/sejarah-kota-purworejo.html, diunduh pada 10 Oktober 2011.
[19] Terutama Kyai Guru Luning Muhyidin Arrofi’i. Terdapat cerita sebelum melakukan lobying ke Belanda, Sayyid Ahmad Muhammad Alim selalu berganti pakaian dan memakai pakaian putih atau hijau muda
[20] Pustaka bangun
[21]  Pesantren Salatiyang sendiri lebih menfokuskan pada bidang penghafalan al-Qur’an, di samping mengajar kitab kuning. Di sinilah besar kemungkinannya, Kiai Shaleh Darat diperbantukan untuk mengajar kitab kuning, seperti fiqh, tafsir dan nahwu Sharaf, kepada para santri yang sedang menghafal al-Qur’an. Di antara santri yang belajar di Salatiyang adalah Kiai Baihaqi (Magelang). Kiai Ma’aif, Wonosobo, Kiai Muttaqin, Lampung Tengah, Kiai Hidayat (Ciamis) Kiai Haji Fathulah (Indramayu), dan lain sebagainya. Lihat: KH. Shaleh darat... antara...kh

[22] Nama lengkapnya Muhammad Shalih bin Umara al-Shamarani, atau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Shalih Darat. Ayahnya Kiai Umar merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara, Semarang, di samping Kiai Syada’ dan Kiai Mutadha Semarang. Kiai Shaih Darat dilahirkan di desa Kedung Jumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M (1235 H). Sedangkan informasi lainnya menyatakan bahwa, Kiai Shaih Darat dilahirkan di Bangsri, Jepara. Ia wafat di Semarang pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M. dalam usia 83 tahun. Kata ”Darat” di belakang nama Kiai Soleh adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat dia tinggal, yakni di Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.  Baca: “Kiai Sholeh Darat, Pelopor Penerjemahan AlQuran Nusantara“ dalam http://Emka.Web.Id/Ke-Nu-An/2011/Kiai-Sholeh-Darat-Pelopor-Penerjemahan-Alquran-Nusantara/



[23] Baca: “KH. Shalih Darat”, dalam al-iman Community, diunduh 4 Oktober 2011
[25] pUstaka bangun
[26]   Mungkin ada yang aneh dengan pilihan Mbah Ahmad Alim itu. Tapi lebih aneh ternyata anak-anak keturunan Mbah Alim malah disuruh keluar dari desa Bulus. “Anak-anakku kabeh sak anak putuku, yen kepengen dadi wong mulya dunia akherat, tak jaluk metu teko Bulus ini, sebab Bulus ini sudah aku wakahkan kepada Sayyid Ali sak anak turune. (Anak-anakku semua, dan juga cucu-cucuku, kalau ingin jadi orang mulia di dunia-akherat, aku minta kalian keluar dari Bulus. Sebab, Bulus ini sudah aku waqahkan pada Sayyid Ali bersama anak turunannya),” kata Mbah Ahmad Alim pada anak-anaknya sebagaimana ditirukan KH. Hasan Agil Ba`bud kepada Hidayah. Majalah hidayah
[27] Majalah hidayah
[28] wawancara dengan mBah Bunyamin (83 tahun), santri Al-Iman tahun 1950-1964 di kediamannya desa Lubangindangan Pituruh, Purworejo pada Selasa, 22/03/2011 jam. 20.00- 21.30 didapat informasi bahwa Pesantren Bulus pada tahun 1950 berjumlah sekitar 25 anak. Hal ini dimungkinkah terjadi karena pesantren tersebut baru dirintis ulang oleh Kyai Sayyid Agil Ba’abud.

1 komentar:

  1. Terima kasih, sangat berguna untuk tugas sekolah.

    BalasHapus

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.