17.51
0

Oleh: Rohani *)

Jum’at sore (30/09/2011), atas undangan Ust. Anang esbe, Penulis mendapatkan kesempatan untuk ikut berbareng dengan para alumni Pesantren Al-Iman Puworejo dalam sebuah pertemuan yang diadakan untuk silaturrahmi dan ngaji kitab Tahdzib fi ghayat matn al-taqrib, sebuah kitab fiqh yang biasa dikaji di al-Iman. Di sela-sela pertemuan yang diadakan di rumah Abd. Ghafir Muslim tersebut, Penulis berandai-andai jika semua alumni al-Iman mengikuti langkah para alumni asal Purworejo ini, terbayang oleh Penulis akan indahnya pancaran pengetahuan dari marcusuar Pesantren al-Iman yang akan menjadi penerang dalam kegelapan zaman.

Selepas ngaji bab shaum, disepakati bersama dikemudian hari akan diadakan ngaji Tafsir Jalalain tapi dengan metode maqarin (perbandingan) dengan kitab tafsir lain. Sebuah ide breliant yang dicetuskan oleh sahabat saya, Arwani Muhammad yang langsung mendapat tanggapan para peserta pertemuan, sehingga saat itu muncul celetukan nama MTA Al-Iman, bukan bagian dari Majlis Tafsir al-Qur’an model A. Sukino yang sempat mengebohkan umat Islam beberapa waktu yang lampau, namun MTA trade mark al-Iman ini adalah Majlis Tafsir Alumni Al-Iman.

Dalam pertemuan tersebut juga disepakati jadwal ngaji akan dilaksanakan tiap dua bulan sekali (tepatnya pada malam minggu pertama) yang akan diadakan dikomplek Pesantrten al-Iman Bulus. Hal menarik dari pertemuan untuk ngaji tersebut, menurut Penulis adalah metode yang akan digunakan, yaitu metode maqarin, sebuah metode yang masih langka dan kurang lazim (untuk mengatakan tidak ada) yang dipergunakan oleh sebuah Pesantren, seungguh terobosan yasng luar biasa yang dicetuskan oleh para alumni Al-Iman asal Purworejo.

Selama ini, umat Islam memahami alquran sebagai  sumber hukum Islam yang terutama serta merupakan pedoman dan petunjuk bagi kehidupan manusia. Oleh karenanya sebagai seorang muslim wajib untuk mempelajari dan menggali isi Alquran, tidak semua umat Islam khususnya a’jamiy ( bukan orang arab) bisa memahami isi kandungan alquran kecuali dengan bantuan penafsiran para mufassir. Seorang mufassir tidak bisa menafsirkan Alquran begitu saja tanpa dilatarbelakangi dengan ilimu-ilmu yang berkaitan dengan tafsir (‘ulum at-tafsir). Demikian pula, ilmu tafsir terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan perjalanan waktu, terbukti dengan bermunculan dan diterbitkannya kitab-kitab tafsir dalam beraneka corak.

Sesuai dengan namanya at-tafsir al-muqarin adalah tafsir yang menggunakan metode perbandingan (komparatif), Al-Farmawi memberikan defenisi tentang at-tafsir al-muqarin yaitu: menjelaskan ayat-ayat alquran berdasarkan pada apa yang telah dituliskan oleh sejumlah mufassir. Muhammad Amin Suma memberikan defenisi at-tafsir al-muqarin ialah tafsir yang dilakukan dengan cara membanding-bandingkan ayat-ayat alquran yang memiliki redaksi berbeda padahal isi kandungannya sama, atau antara ayat-ayat yang memiliki redaksi yang mirip padahal isi kandungannya berbeda. Dari defenisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa at-tafsir al-muqarin membahas tentang penjelasan dan perbandingan antara ayat-ayat yang mempunyai redaksi berbeda tetapi mempunyai maksud yang sama, atau ayat-ayat yang mempunyai redaksi yang mirip tapi maksudnya berbeda. Penafsiran ini dapat juga dikategorikan dengan penafsiran bi al-ma’sur dan penafsiran bi ar-ra’y,

Metode muqarin dilakukan dengan cara membandingkan ayat-ayat al-quran yang satu dengan lainnya, atau membandingkan ayat-ayat alquran dengan hadis-hadis nabi Muhammad saw. yang tampak bertentangan, serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran alquran. Metode ini mencakup tiga kelompok yaitu: Pertama,  membandingkan teks (nas) ayat-ayat alquran dengan ayat lain yang mempunyai perbedaan atau persamaan dan kemiripan redaksi. Perbandingan dalam aspek ini dapat dilakukan pada semua ayat, baik dalam pemakaian mufradat, urutan kata, maupun kemiripan redaksi. 

Mufassir membandingkan ayat alquran dengan ayat lain, yaitu ayat-ayat yang memiliki perbedaan redaksi dalam dua atau lebih masalah atau kasus yang sama; atau ayat-ayat yang memiliki redaksi mirip atau sama dalam masalah atau kasus yang (diduga) mempunyai perbedaan. Bahwa objek kajian metode tafsir ini hanya terletak pada persoalan redaksi ayat-ayat alquran, bukan dalam bidang pertentangan makna.  Kedua, Membandingkan ayat yang mirip tapi mempunyai maksud yang berbeda. Ketiga, Membandingkan ayat alquran dengan matan Hadis . Keempat, Membandingkan penafsiran mufassir dengan mufassir lain.

Adapun langkah-langkah dalam penafsiran at-tafsir al-muqarin; 1) Mengumpulkan sejumlah ayat alquran. Seorang jika hendak membandingkan antara ayat yang mempergunakan redaksi yang berbeda terhadap suatu masalah yang sama, atau menggunakan redaksi yang mirip terhadap kasus yang berbeda, maka harus mengumpulkan sejumlah ayat alquran kemudian membandingkannya. Begitu juga dengan membandingkan ayat dengan hadis, mufassir juga harus mengumpulkan hadis-hadis yang mempunyai redaksi yang sama; 2). Mengemukakan penjelasan para mufassir, baik dikalangan ulama salaf maupun khalaf, baik tafsirnya bercorak bi al-ma’sur atau bi ar-ra’yi. Langkah ini dilakukan seorang mufassir dengan cara membaca, mentelaah serta meneliti sehingga dapat diketahui kecendrungan seorang mufassir dalam penafsirannya; 3) membandingkan kecendrungan tafsir mereka masing-masing, dan; 4). menjelaskan siapa diantara mereka yang penafsirannya dipengaruhi-secara subjektif- oleh mazhab tertentu

Penelitian terhadap kitab-kitab mufassir akan didapati kecendrungan mufassir terhadap suatu mazhab atau suatu aliran teologi tertentu, dan dapat juga diketahui tentang tidak sepahamnya atau bahkan menolak terhadap mazhab yang lainnya. Dari sini mufassir akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang berbagai penafsiran yang telah ada, untuk kemudian memilih atau mengadakan penafsiran yang ia pandang lebih sesuai, lebih kuat dan lebih tepat.dengan beberapa argumentasi yang dikemukakan, mufassir yang bersangkutan dapat saja mengkompromikan berbagai penafsiran yang telah ada, atau memilih dan memperkuat salah satu dari padanya, bahkan boleh jadi dia menolak semua tafsiran yang telah ada seraya mengedepankan penafsiran dalam kaitan dengan soal-soal yang sedang dibahasnya.

Kelebihan dari metode at-Tafsir al-Muqarin: a). Memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas. Bila dibandingkan dengan metode lain sebagaimana yang terlihat dalam contoh-contoh yang telah dikemukakan, dapat diketahui bahwa penafsiran dengan metode ini sangatlah luas wawasannya karena cara penafsirannya ditinjau dari segala asfek disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian para mufassirnya. B). Membuka pintu untuk selalu bersikap toleransi terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dengan pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif; c). Tafsir dengan metode al-muqaranah ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengatahui berbagai pendapat tentang suatu ayat, dan d). Mufassir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan Hadis-hadis serta pendapat-pendapat para mufassir lain.

Adapun yang menjadi kelemahan atau kekurangan metode ini adalah:  a). Metode ini tidak dapat diberikan kepada para pemula, seperti mereka yang sedang belajar ditingkat sekolah menengah ke bawah; b). Metode ini kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan sosial yang tumbuh ditengah masyarakat. Hal ini disebabkan metode ini lebih mengutamakan perbandingan daripada pemecahan masalah, c) Metode ini terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh ulama daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran baru.

Metode muqarin disajikan kepada para pencari ilmu dan pecinta Alquran untuk membuka wacana baru dan wawasan yang lebih luas dan mendalam untuk bidang kajian tafsir, karena semua aspek keilmuan ditampilkan dalam kajian dan metode ini dari perbandinggan Alquran itu sendiri atau kajian tentang Hadis dan bahkan kajian tentang pendapat para ulama dan mufassir.  Sebagai sebuah gagasan yang masih baru di Pesantren al-Iman, Penulis menaruh harapan sangat tinggi agar metode yang akan diperkenalkan ini bisa menghasilkan sebuah kitab tafsir (buku) maqarin hasil produksi santri-santri al-Iman, sebagaimana Tafsir Maudhu’I al-Muntaha yang dibesut dari hasil diskusi santri-santri senior Pesantren al-Asy’ariyyah Kalibeber Wonosobo (diterbitkan oleh LKIS Jogjakarta) sehingga kebutuhan akan buku-buku tafsir yang akuntable dapat terpenuhi berkat usaha para santri senior Pesantren al-Iman sebagai sebah amal jariyah pencerahan ummat, sebah angan-angan mulia, bukan?

*) Penulis, alumni MAK al-Iman Puworejo

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.