16.39
0


Ia turut menari kini
Dalam pencarian
Sampai penghabisan
Dan diukirnya sebuah nama dan cinta
Dengan tinta hitam dari samuderamu

Ia menatap padaku:

Seorang gila dalam segelas kopiku

Ia, serupa aku.( Kepada segelas kopiku)



Oleh : sabiq carebesth

Puisi-puisi dalam kumpulan puisi “Memoar Kehilangan” yang di tulis oleh penyair muda Sabiq Carebesth, rata-rata ditulis tahun 2010 dan 2011. Tetapi 2010 dan 2011 bukan lagi menandakan realitas bahasa. Dalam bahasa yang digunakan Sabiq, 2010 dan 2011 hanya sebagai dokumen waktu. Bukan waktu sebagai kehidupan yang menahan kita di dalamnya. Realitas ini sama seperti seseorang yang kehidupan internalnya ditandai oleh produk-produk, ungkapan, rasa bahasa maupun perspektif-perspektifnya yang semuanya datang dari masa yang sama. Namun realitas internal ini berada dalam realitas ekstenal yang seluruhnya datang dari masa yang lain. Sebuah gerhana realitas dan gerhana waktu sekaligus. Ia seperti pesawat telfon yang masih menggunakan kabel. Namun dunia di luarnya tidak lagi menggunakan kabel, melainkan sudah menggunakan sinyal. Sebuah gambaran yang mirip dengan salah satu puisi Sabiq (Pelukis dan Gadisnya). Puisi yang menggambarkan pelukis yang akan melukis gadis yang dipujanya. Te! tapi gadis itu telah tiada. Dan sang pelukis juga kehilangan gambaran sosok gadis itu: aku tak sanggup jadi bayangan bagi kelammu.
Demikian lah, “Puisi adalah ingatan/ Museum bagi jiwa yang kehilangan/ Waktu yang menjelma kenangan/ Agar tak musnah dalam kegilaan/ Dari zaman yang gemar lupa. (Puisi untuk Puisi, hlm 9)

Menghidupkan kenangan menjadi cara untuk melawan lupa, dan puisi, setidaknya oleh penulis buku kumpulan sajak “Memoar Kehilangan” ini dipilih sebagai medianya, ditempuh sebagai jalan kegilaan untuk melawan lupa. Puisi memang tidak berhubungan langsung dengan dialetika sejarah, karena ia bertopang pada kenangan. Konstruksi sejarah kadang dibuat untuk orang lupa kepada kebenaran, ketika sejarah seakan-akan digulirkan sebagai peristiwa publik.

Hampir seluruh puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam kumpulannya ini lahir sebagai gerhana bahasa dan gerhana waktu dari “dia-yang-kehilangan” itu. Negosiasi waktu seperti seperti dalam puisi sabiq ini, antara kenangan dan sejarah, melahirkan semacam persuasi terhadap sesuatu yang tidak berhenti, walau kenangan telah berhenti. Persuasi sebagai hasil dari perjalanan pencarian di luar sejarah masakini. Ketika kenangan berhenti, dan waktu terus bergerak, sejarah terus berubah, kenangan kemudian menempuh jalannya sendiri, menempuh pencariannya sendiri. Konsistensi seperti ini bagi Sabiq, dan saya menyetujuinya, adalah jalan kegilaan yang memang harus dilakukan. Karena kenangan tidak sama dengan rapuhnya bahasa yang ikut berubah bersama dengan perubahan sosial-politik. Dalam hal ini, kita tidak bisa berharap memperlakukan bahasa sebagai bagian dari infrastruktur sejarah. Karena, pada kenyataannya, sejarah juga dikonstruksi dengan “permainan bahasa”:
Dalam puisi-puisi Sabiq, negosiasi dan persuasi itu berlangsung sebagai tarian; janji pencarian sebagai tinta hitam. Keduanya adalah kegilaan, seperti kopi yang diteguk setiap hari. Dalam prosedur waktu puisi Indonesia modern di mana kesepian merupakan nyanyian bersama para penyair modernis umumnya, maka kesepian pada puisi-puisi Sabiq Carebesth merupakan keterkecualian: Kesepian diterima bukan sebagai terbelahnya waktu oleh perubahan. Melainkan, karena berhentinya kenangan pada periode tertentu bersama dengan bahasa, visi, hubungan-hubungan antara manusia dengan alam, maupun dalam pergaulan gender. Kesepian bukan dalam perspektif modernisme yang mencari masadepan sebagai harapan, melainkan justru mencari masa kemarin sebagai cara melihat sejarah dari dalam kenangan.

Puisi, dalam buku kumpulan puisi “Memoar Kehilangan” yang di tulis Sabiq Carebesth ini tampaknya hendak menempatkan dirinya sebagai pilihan bentuk dari perefleksian tentang diri dari sebuah totalitas yang mendalam tentang waktu yang hilang. Kenangan yang pada akhirnya adalah milik siapa pun manusia, dan kemanusiaanya. Puisi-puisi itu mencoba menjadi abadi, dengan tetap menjaga diri berada dalam misteri, sehingga ia tak pernah tuntas di jelaskan. Karena puisi, setidaknya dalam kumpulan puisi “Memoar Kehilangan” ini, puisi menjadi rahasia dari penulisnya, sebuah dinding tanpa jendela, dinding yang oleh penulisnya sengaja dibiarkan kosong. Maka ia pun menjadi memoar dari memarnya waktu yang hilang berlalu. Sejarah tentang waktu; yang tak perlu deskripsi dan detail bukti dari kenyataan masa kini. Puisi-puisi itu akhirnya menjadi dokumen dari waktu. Ia hadir untuk membeku sehingga waktu di dalam puisi bisa di pegang, tapi dengan tetap menjaga jarak pada batas kenangan.
Bahasa kemudian menjadi sebuah wilayah, sebuah daerah. Ia terjaga. Seperti entitas yang selamanya tidak berubah lagi. Di sana, bahasa menandakan suatu waktu, suatu masa, keadaan. Pilihan katanya, diksi dalam puisi-puisi “Memoar Kehilangan” ini, menandakan bahasa sebagai sebuah waktu. Gerhana waktu yang membuat puisi-puisi Sabiq seperti sebuah perjalanan tidak untuk menempuh perjalanan itu sendiri, tetapi justru untuk berada dalam kendaraan yang mengangkutnya, yaitu bahasa.

Beberapa pilihan kata dalam puisi Sabiq seperti: kanvas jiwaku, semesta, kalbu, mahkota, senandung, seruling, nun muram, di bibir nasib, sulam kelambu merupakan diksi yang membuat bahasa berhenti di suatu waktu atau suatu masa. Munculnya kembali diksi kalbu dalam puisi Sabiq, mengingatkan kembali tradisi puitik maupun komunitas semiotik yang membuat diksi ini pernah penting sebagai konsep yang menjelaskan nilai-nilai yang hidup dalam komunitas semiotik itu. Hal yang sama dengan ungkapan di bibir nasib, mahkota, tudung sutra biru atau sulam kelambu
Interior puisi seperti yang dilakukan Sabiq ini, pada satu sisi seperti melawan proses destabilisasi bahasa yang berlangsung terus-menerus sejak pemerintahan Orde Baru. Waktu sebagai dokumen beralih menjadi waktu sebagai memori. Memori yang terlempar, tersingkirkan. Bayangan di sini menjadi penting sebagai perayaan atas memori yang terlempar itu. Bahasa yang dihentikan atau terhentikan dari perjalanan perubahannya, dalam puisi Sabiq menjadi sebuah entitas dimana kita bisa menyimpan kepercayaan-kepercayaan kita, sejarah identitas, dalam peralihan waktu seperti ini. Dan memori diperlakukan sebagai ibu kandung dari kepercayaan maupun sejarah identitas ini.

Hampir seluruh puisi-puisi Sabiq Carebesth dalam kumpulannya ini lahir sebagai gerhana bahasa dan gerhana waktu sekaligus.
Dan akhirnya saya setuju dengan Penyair Afrizal Malna dalam kata pengantarnya untuk buku ini, “Penulis atau penyair telah mati lebih dahulu sebelum sampai ke tangan pembacanya. Pembaca dilahirkan dari penyair yang terlebih dahulu “dimatikan” di dalam teksnya sendiri.” Karena itu penyair merupakan kehadiran yang non-representatif dari puisi yang ditulisnya sendiri. Penyair telah dimatikan terlebih dahulu, sebelum pembaca melakukan hal yang sama berdasarkan berbagai strategi pembacaan”. Selamat membaca.

Data Buku:
Judul Buku : Memoar Kehilangan
Penulis : Sabiq Carebesth
Penerbit : Koekoesan, Depok
Cetakan :I, Januari 2012
Halaman : xxiv+89