19.16
0

Sampul Buku Fatwa dan Canda Gus Du
KH ABDURRAHMAN Wahid, Presiden RI ke-4 yang sarat dengan humor pernah mengomentari jamaah pengajian yang lebih memilih selonjoran di lantai atau di pelataran. “Saya tahu kenapa para ibu memilih selonjoran di bawah. Di samping pahalanya lebih besar, juga karena bila kebelet ngompol tidak kelihatan.”

Gus Dur memang unik. Selalu saja ada yang dijadikan bahan tertawa agar orang yang diajak bicara tidak tegang, bahkan terpingkal-pingkal. Namun tidak jarang guyonannya merupakan hasil pemikiran matang yang diramu sedemikian rupa agar mudah diterima oleh lawan bicara. Mengenang satu tahun kepergian Gus Dur tidak ada salahnya kita kembali mengkaji sosok yang tak ada duanya. Buku berjudul ‘Fatwa dan Canda Gus Dur’ menyuguhkan gambaran sosok Gus Dur dari kaca mata KH Maman Imanulhaq Faqieh sebagai orang yang pernah dekat dengannya selama kurang lebih 3 tahun. Baik dari fatwa maupun candanya.

Melalui buku yang merupakan catatan-catatan pribadi penulis selama bersama Gus Dur, kita akan mendapatkan serpihan-serpihan kisah tentang Gus Dur yang sulit didapatkan dari sumber lain. Ambil contoh bagaimana Gus Dur rela datang dari Jakarta menuju perbatasan Filipina dengan melintasi samudera yang luas hanya sekadar mengucapkan selamat atau kelahiran anak seorang pendeta bernama Arnold. Kemudian Gus Dur juga sering datang ke Madiun menemui pelawak nasional Kirun hanya untuk beradu banyolan sambil minta disiapkan dadar jagung.

Menurut penulis ada tiga hal utama yang dibangun Gus Dur bagi tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan. Pertama, fondasi demokrasi dan keadilan sosial. Demokrasi tidak hanya berhenti pada tataran prosedural, melainkan mampu memberikan kemaslahatan bagi rakyat. Kedua, pluralisme atau kebhinnekaan. Sebagai negara yang majemuk, kelompok mayoritas harus mengembangkan budaya damai dan melindungi kelompok minoritas. Dan yang terakhir adalah perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Demokrasi dan pluralisme amat membutuhkan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat menopang dan memperkuat kedua prinsip tersebut.

Melalui buku ini, akan semakin lengkaplah pengetahuan kita tentang sosok Gus Dur. Kebenaran yang telah dia perjuangkan sampai mati-matian selayaknya patut kita apresiasi dengan melanjutkan tongkat estafet perjuangannya. q-g


Judul Buku : ‘Fatwa dan Canda Gus Dur’
Penulis : KH Maman Imanulhaq Faqieh
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit : 2010
Tebal Halaman : xiv+234 hlm

( Irawan Fuadi, Pecinta buku, study di Tafsir Hadits UIN Yogyakarta)
Tulisan ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat