00.42
0


Fenomena-fenomena di masyarakat dunia sering terjadi di luar pertimbangan akal manusia. Contoh yang aktual adalah adanya makam seorang wali yang terselamatkan dari bencana tsunami. Dalam kaitannya dengan keajaiban dunia ini, Abu Hurairah meriwayatkan tentang tiga bayi ajaib. Pertama, Al-masih Isa bin Maryamm. Dia digelari al-Masih karena setiap ia mengusap kulit yang berpenyakit kontan langsung sembuh. Di saat masih bayi, ia berkata yang diabadikan dalam al-Qur’an, “Inni Abdullah”. Ungkapan ini disampaikan sebagai pembuktian bahwa Maryam bukanlah seorang pezina dan keengganan Isa untuk dikultuskan sebagai tuhan.
Kedua, adalah shohibu Juraij. Juraij dikenal sebagai laki-laki yang santun dan ‘abid. Ia selalu beribadah di shouma ‘atihnya, layaknya musholla. Di tengah sholatnya, ibu Juraij memanggil dan ia pun selalu memenuhi panggilan ibunya meski harus memutuskan kontak komunikasinya dengan Tuhan. Pada saat yang sama rasa iri hatipun muncul dari komunitas Banii Israil. Mereka kemudian mengambil siasat dengan menyandingkan seorang pelacur kepada Juraij. Namun Juraij menolaknya. Kegagalan untuk menghancurkan nama baik Juraij tidak berhenti di sini. Pelacur tersebut melacurkan dirinya dengan seorang penggembala yang perbuatan mesum tersebut dilakukan di musholla Juraij. Ketika perbuatan mesum tersebut telah menghasilkan anak maka komunitas Bani Israil sudah mempunyai bukti yang dirasa cukup untuk membunuh Juraij dengan alasan ia telah berbuat zina.
Dalam menghadapi fitnah yang semacam ini, Juraij tetap tegas karena ia dalam posisi yang benar seraya berkata “Tolonglah bawa ke sini bayi tersebut.” Kemudian Juraij melakukan sholat dan ia pun menanyakan kepada bayi tersebut “Siapa ayahmu?” Jawab si bayi, “Ayahku adalah seorang pengembara, bukan kamu.” Mendengar penuturan bayi ajaib tersebut, bani Israil pun tidak punya senjata untuk menghancurkan nama baik Juraij bahkan mereka berbalik arah bertekuk lutut kepada Juraij dan berjanji kepada Juraij untuk merenovasi tempat peribadatannya yang telah mereka hancurkan dengan bangunan yang jauh lebih mewah, yaitu bermaterial emas. Mendengar tawaran itu, Juraij dengan kebersihan hatinya tidak mau menerimanya. Ia hanya berpesan “Bangunlah tempat peribadatan itu seperti sebagaimana keadaan semula.”
Ketiga, seorang bayi yang sedang menyusu ibunya seraya ibunya berandai kalaulah bayi ini besok kelak seperti orang yang ia lihat, yaitu seorang lelaki yang berkendaraan mewah dan berpakaian bagus. Namun bayi itu berkata “Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia.”
Demikianlah ketiga bayi yang mampu berbicara atas seizin Alloh guna mengungkap kebenaran. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari cerita di atas. Dan semoga kita termasuk dari golongan orang-orang yang sholih. Amien…………… By : Edi Bakhtiar