11.22
0

Ilustrasi

 Pengirim : Edi bakhtiar 
 Pada suatu saat Rasulullah SAW memerintahkan kepada sekelompok kaum perempuan untuk bersedekah. Terkait dengan perintah ini, Zainab as-Saqofiyah berkata kepada suaminy, Ibnu Mas’ud. “Wahai suamiku, engkau adalah kategori laki-laki miskin. Sementara Rasulullah SAW telah memerintahkan saya sebagai kaum perempuan untuk bersedekah. Maka tanyakan kepada Rasulullah ‘cukupkah pemberianku kepadamu sebagai sedekah?’. Kalau tidak, maka akan saya berikan kepada orang lain.” Jawab sang suami “Cobalah engkau saja yang menghadap Rasulullah (sebagai suami saya malu).” Kemudian Zainab menghadap Rasulullah SAW.
Ketika Zainab beserta perempuan lain sampai rumah Rasulullah SAW, sahabat Bilal menemuinya dan Zainab berpesan pada Bilal untuk menghadap Rasulullah SAW guna menanyakan apakah cukup sebagai sedekah ketika seorang perempuan memberikan nafkah kepada suami dan anak-anak yatim. “Namun awas wahai Bilal, jangan cerita kepada Rasulullah siapa kami berdua ini.” Begitu pesan Zainab kepada Bilal. Namun Rasulullah SAW tetap menanyakan siapa mereka berdua. Bilal menjawab, “Mereka adalah perempuan dari kaum anshor dan Zainab.” Rasulullah SAW kemudian bertanya lagi, “Zainab yang mana?” “Istri Abdullah bin Mas’ud”, jawab Bilal
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Mereka berdua masing-masing mendapatkan dua macam pahala, pahala karena hubungan kerabat dan pahala sedekah.”
Sebagai Kesimpulan:          
·         Seorang istri diperkenankan memberikan sedekah bahkan zakat kepada suami dan anak-anaknya terlebih yatim. Karena berkewajiban memberikan nafkah adalah suami itu sendiri.
·         Kebolehan bahkan keharusan seorang perempuan untuk mencari informasi keilmuan tentang agama meskipun harus keluar rumah.
Dalam hadis lain ditegaskan bahwa sedekah terhadap orang miskin yang bukan saudara hanya mendapatkan satu pahala, sementara bersedekah terhadap sanak famili mendapatkan dua pahala, pahala sedekah dan pahala silaturrahim.