23.29
0


Oleh: Rohani, S. Pd.I

(Alumnus PPTQ Al-Asy’ariyah Wonosobo [1996], PP Al-Iman Purworejo [2000], Mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Islam UNSIQ Wonosobo

               MASALAH pendidikan tidak akan pernah selesai dibicarakan orang; dari awam hingga pakar punya hak untuk bicara. Dunia pendidikan cenderung menjadi gelanggang pertukaran pikiran -bahkan terkadang pertentangan pendapat berlarut- yang tidak mudah dirangkum menjadi kesepakatan umum. Setiap masyarakat punya pengalaman sendiri tentang ikhwal pendidikan warganya; namun semua pembicaraan itu biasanya bermuara pada dunia pendidikan yang kehilangan energi dan power dalam mencermati persoalan yang terjadi dan dinilai seakan-akan gagal memosisikan diri sebagai media "pendewasaan", sehingga ketika terjadi persoalan, dunia pendidikan tidak mampu menjelaskan (bayan al-waqi’) alih-alih bisa memberikan solusi untuk keluar dari jeratan persoalan-persoalan tersebut. Di samping itu, dunia pendidikan juga tidak mampu menjadi lokomotif penarik gerbong kebobrokan menuju stasiun harapan, sehingga kita berlarut-larut dalam ketidakpastian masa depan. Ini tentunya mengisyaratkan kepada kita bahwa kualitas pendidikan masih jauh dari yang diharapkan, bahkan kualitas pendidikan kita masih dilecehkan. Pelecehan ini dapat dilihat dari gaya dan bentuk pengelolaan pendidikan. Pendidikan dikelola tidak lagi untuk mengembangkan potensi manusia, tetapi untuk "menggagahi" orang-orang yang haus prestise, sehingga institusi pendidikan menjadi ajang bisnis jual-beli gelar. Pendidikan Agama: Menggapai Tuhan, Mendepak Sesama? SELAMA ini pendidikan Agama (Islam) seolah menjadi menara gading; kurikulum dan tujuan pendidikan terlalu melangit, theo centrice dan abstrak, ditambah dengan model pendidikannya yang cenderung indoktrinatif, sekedar menghafal, al-muhafadhah, minim penemuan-penemuan, al-akhdz serta seabrek wajah “buram” lainnya selalu melekat di dunia pendidikan agama kita. Zully Qadir (2001) pernah menulis pendidikan agama kita tak lebih dari sebuah formalisme belaka, yang tidak "berbekas" pada anak didik. Pendidikan agama hanya terfokus pada aras kognisi (intelektual-pengetahuan), sehingga ukuran keberhasilan anak didik dinilai ketika telah mampu menghafal, mengusai materi pendidikan, bukan bagaimana nilai-nilai pendidikan agama seperti nilai keadilan, menghormati, toleransi, tasamuh, dan silaturahim, dihayati (mencakup emosi) sungguh-sungguh dan kemudian dipraktikkan (psikomotorik). Akibat dari pendidikan agama yang menekankan aspek kognisi melulu tidak menjadikan anak didik menjadi manusia yang tawadlu, manusia yang saleh secara individu dan sosial. Karenanya, sekalipun negeri ini dikatakan sebagai negeri religius, ternyata korupsinya nomor wahid.
Model pendidikan ini hanya akan menghasilkan hilangnya saling kepercayaan (distrust) antar sesama penganut agama –bahkan seagama yang berlainan idiologi-, lenyapnya rasa saling menghormati, saling toleran, dan solidaritas. Bahkan, pendidikan agama justru memupuk semangat spasial antar umat beragama, memupuk mental gentho, , maling, bajak laut, perampok, dan preman agama. Banyak contoh telah kita saksikan bersama; kasus kekarasan terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Aliansi untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) dan penusukan terhadap Jemaat Gereja Batak di Bekasi beberapa waktu yang lalu menunjukkan betapa rapuhnya semangat toleransi, al-tasamuh, pada umat “islam” yang –katanya- mengikuti sunah Nabi. Sungguh berlawanan dengan sikap Nabi sendiri yang tetap tersenyum dikala ia disakiti, mendoakan tatkala dianiaya, bahkan ketika beliau dapat menaklukkan kota Makah, fath Makkah, dengan tanpa setetes darahpun yang mengalir, ketika sebagian penduduk Makkah (non Muslim) ketakutan terhadap pasukan muslim, justru nabi memberikan perlindungan dan berujar: “al-yaum, yaum al-marhamah wa al-salam”, hari ini adalah hari kasih sayang dan perdamaian. Sungguh suatu sikap yang patut kita jadikan teladan, uswah al-hasanah dan kaca benggala dalam keber-islaman dan kehidupan kita. Melihat kekerasan-kekerasan yang tidak mencerminkan makna dan visi Islam sebagai agama yang rahmatan li al-‘alamien, kita justru menghawatirkan jika agama malah menjadi pendidikan yang mengajarkan balas dendam, sehingga yang tumbuh adalah emosi balas dendam antar sesama umat manusia, bukan kasih sayang (al-rahmah), Pendidikan agama yang menekankan aspek kognisi memang bisa menciptakan manusia-manusia yang handal dalam hafalan, namun kurang (tidak) mampu menciptakan manusia-manusia kreatif, manusia-manusia yang mandiri dan dewasa. Manusia kreatif, mandiri, dewasa hanya dapat diraih ketika mereka diberi bekal untuk memiliki kemampuan merasakan apa yang dihadapi di lingkungan sekitar, mampu merasakan apa yang diderita sesama umat manusia, dan kematangan berpikir analogis. Manusia mandiri tidak lahir karena didikte atau dicekoki dengan segudang teori dan materi hapalan. Input dari model pendidikan ini adalah kurangnya rasa kebersamaan dan persekawanan karena tidak pernah bisa tahu dengan persis apa yang sebenarnya terjadi disekitarnya. Hafal sifat dan Nama- nama Tuhan, al-Asma’ al-Husna, namun kurang bisa mengamalkan sifat –sifat-Nya dalam kehidupan sehari-hari, dengan fasih Kalam Tuhan dibaca -walaupun terkadang karena untuk kepentingan justifikasi-, dengan lihai pula harta orang lain disikat atau dalam istilah Prof. Amin Syukur MA (Dosen Pascasarjana UNSIQ Wonosobo) disebut STMJ (Sembahyang terus, Maling Jalan); gambaran pribadi-pribadi yang congkak, mustakbirin, rakus, fara’in, dan angkuh yang menghalalkan berbagai cara untuk meraup keuntunggan pribadi dengan mengorbankan dan menindas orang lain. Pendidikan “Bathiniyah”: Sebuah Tawaran Solusi
POTRET buram dunia pendidikan Agama (Islam) di atas, tentunya hanya sekelumit dari realitas pendidikan yang ada di Indonesia, persoalan kurikulum yang kurang aplikatif dan tujuan pendidikan yang terlalu berorientasi ukhrowi, harus segera dirombak dengan sebuah solusi yang bisa menjawab tantangan masa depan. Pendidikan harus menjadi “kawah candradimuka” bagi generasi-generasi yang tangguh, cerdas dan kreatif, karenanya kita semestinya harus segera menyadari bahwa tujuan pendidikan hendaknya harus mengarah pada terciptanya manusia yang bertaqwa –pribadi yang selalu sadar akan pengawasan Tuhan, meminjam istilah KH. MA. Sahal Mahfudz (2003)- menuju terciptanya insan yang shalih dan akram. Agar pendidikan agama mampu menumbuhkan manusia-manusia kreatif, mandiri, dewasa, dan tidak bermental kerdil, salih dan akram, Pendidikan agama harus memiliki : pertama, perspektif "batiniah", dalam istilah Prof. Munir Mulkan (2000) disebut Pendidikan “waskitha”, yakni pendidikan agama yang memberi ketajaman pada anak didik guna mampu "mengolah pengalaman-pengalaman keagamaan" yang dianut, maupun agama yang ada di sekitarnya. Pendidikan perspektif "batiniah" adalah cara paling efektif untuk menumbuhkan manusia-manusia yang dapat menjiwai apa yang dilihat dan dirasakan, yang tidak menyebabkan individu terangkat akarnya dan tidak pula terasing dari ranah budayanya sendiri, berhasil membentangkan cakrawala yang memperkenalkan individu pada nilai-nilai baru, al-turats al-judud yang semakin menambah nilai keimananya. Kedua, Pendidikan Islam harus bisa mengimplementasikan - apa yang disebut oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud (2003) dengan - pendidikan humanis- religius, suatu konsep poendidikan yang dapat mengembangkan: (i), Common sense atau akal sehat; (ii). Individualisme menuju kemandirian; (iii). Thirs for knowledge, hirsun fi thalab al-ilm; (vi). Pendidikan pluralis, (v). kontekstualisme lebih mementingkan fungsi daripada symbol; dan (vi). Keseimbangan antara reward dan punishment. punishment.. Yang ketiga, Demokratisasi pendidikan harus kita terapkan, John Dewey dalam buku Democracy and Education (1916) menyampaikan pesan revolusioner: masyarakat yang demokratis harus menyediakan kesempatan pendidikan yang sama bagi semua warganya serta kualitas pendidikan yang sama. Hal ini sejalan dengan pernyataan Horace Mann, pendidikan adalah pintu gerbang kepada persamaan.
Dengan demikian hakikat pendidikan yang demokratis adalah pemerdekaan ,al-hurriyah, yang bertujuan untuk membebaskan anak bangsa dari kebodohan, kemiskinan, dan berbagai "perbudakan" lainnya serta membentuk manusia matang dan berwatak yang siap belajar terus, siap menciptakan lapangan kerja (job creator), dan siap mengadakan transformasi sosial karena sudah lebih dulu mengalami transformasi diri lewat pendidikan. Maka pendidikan adalah sebuah

proses pedagogis di mana seorang siswa dibebaskan dari ketidakmatangan dan kebodohan menjadi seorang yang human– manusia matang, intelek, dan kultural. Revolusi pendidikan, adalah kata tepat untuk menyelamatkan pendidikan Indonesia dari kehancuran. Massalisasi pendidikan harus dipadu egaliterisasi mutu untuk semua. Untuk itu dibutuhkan gedung dan instrumen pendidikan yang lebih baik, guru yang sejahtera dan bangga atas profesinya, peserta didik yang bernafsu besar belajar serta dukungan pemerintah yang maksimal. Kita berharap perbaikan moralitas-etik dalam bernegara dan berbangsa, lewat pendidikan karena pendidikan adalah proses yang seharusnya berlangsung secara sistematis, tersusun rapi, tidak gradual. Memang ironis kita berharap perbaikan moral-etika lewat pendidikan ketika sistem pendidikan yang diselenggarakan adalah sistem pendidikan indoktrinatif, pendidik berlaku bagaikan sipir penjara yang sangat galak pada para narapidana atau bahkan pendidik berlaku ibarat superman yang merasa mahatahu segalanya, sehingga peserta didik harus menurut pada apa yang dikemukakan pendidik. Produk pendidikan (Islam) seyogyanya mampu menciptakan tatanan moral baru yang bersumber dari etik Islam menuju nilai-nilai universalisme dan kosmopolitanisme peradaban Islam dalam bingkai pluralitas, bukan ?.

0 komentar:

Posting Komentar

ingin berkomentar? Tapi Tidak punya akun apa-apa ? Gampang. Kliklah panah kecil sebelum atau sesudah menulis komentar. Kemudian pilihlah ID Name/URL. Isilah nama anda ( Diharapkan bila anda pernah berkomentar dengan menggunakan nama yang sama sebelumnya, karena akan terhitung di Top Komentator). Dan untuk kotak URL-nya kosongkan saja. Beres, tinggal klik Poskan Komentar. Maka komentar anda akan segera meluncur. Selamat mencoba dan terima kasih.