12.23
0


Oleh: Rohani

1.    Mengucapkan Niat (lafal Ushallî) dalam Shalat

Niat merupakan hal yang pokok dan penting dalam segala kegiatan, karena merupakan inti dari setiap pekerjaan. Nabi Saw., bersabda: "Segala perbuatan hanyalah tergantung niatnya. Dan setiap perkara tergantung pada apa yang diniatkan." (Shahîh al-Bukhâri, hadits no 1).
Demikian juga dalam ibadah shalat. Niat adalah rukun pertama. Karena niat tempatnya di dalam hati, maka disunnahkan untuk mengucapkan niat tersebut dengan lisan guna membantu gerakan hati (niat). Imam Ramli (w. 1004 H.) dalam Nihâyah al-Muhtâj mengatakan: "Disunnahkan mengucapkan apa yang diniati (kalimat ushallî) sebelum takbîr, agar lisan dapat membantu hati, sehingga dapat terhindar dari rasa ragunya hati (akibat bisikan syetan). Dan agar dapat keluar dari pendapat ulama yang mewajibkan.
Dalam kitab al-Asybâh wa al-Nadhâir, Imam Jalaludin as-Suyuti meriwayatkan hadits, ”Siapa berniat berbuat maksiat, tapi belum mengerjakannya, atau belum mengucapkan (melafalkan)nya, ia tidak berdosa, sebab Rasul bersabda: Allah memaafkan umatku selagi hatinya baru berniat, belum diucapkan atau belum dikerjakan”.[1] Dalam beberapa kesempatan Nabi Saw., pernah melafalkan niat. Misalnya dalam ibadah haji. Hal ini sebagai mana dijelaskan dalam hadits, 

عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقول لبّيك عمرة وحجا

Dari sahabat Anas ra berkata, saya mendengar Rasulullah SAW mengucapkan, Labbaika aku sengaja mengerjakan umrah dan haji." (Shahih Muslim, no 2168).

2.    Membaca Basmalah Surat al-Fâtihah

Membaca surat al-Fâtihah merupakan rukun shalat, baik shalat fardhu maupun sunah, hal ini didasarkan pada hadits Nabi Saw:

عن عبادة بن الصامت يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلّم لاصلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

Diriwayatkan dari ‘Ubadah ibn as-Shamit, Nabi Saw., menyampaikan padanya bahwa tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat al-Fâtihah". (Shahih Muslim, no 595).

Sementara basmalah merupakan ayat dari surat al-Fâtihah, maka tidak sah hukumnya, bagi seseorang yang shalat tanpa membaca basmalah. Hal ini berdasar firman Allah Swt,

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, dan al-Quran yang agung. (QS. al-Hijr: 87).

Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surat al-Fâtihah.[2] Karena al-Fâtihah itu terdiri dari ayat-ayat yang dibaca secara berulang-ulang pada tiap-tiap raka'at shalat. Dan ayat yang pertama adalah basmalah. Dalam sebuah hadits disebutkan:  

Dari Abi Hurairah beliau berkata, Rasulullah Saw., bersabda, "al-hadulillâhi robbil ‘âlamîn merupakan induk al-Qur'an, pokoknya al-Kitab serta surat al-Sab'u al-Matsâni." (Sunan Abî Dâwud, no 1245).[3]
Dalil lainnya adalah cerita dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa saat Nabi Saw., menjadi Imam Shalat, maka beliau memulainya dengan bacaan basmalah. (HR. Ad-Daru Quthni).[4]
Berdasarkan dalil ini, Imam Syafi'î ra., mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat yang tujuh dalam surat al-Fâtihah, jika ditinggalkan, baik seluruhnya maupun sebagian, maka shalatnya menjadi tidak sah.[5]

3.    Doa’ Qunût

Membaca do’a Qunût pada rakaat ke dua dalam shalat subuh termasuk bagian dari sunnah ab'ad, demikian pendapat ulama’ Syafi’iyyah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab,

Dalam madzhab kita (madzhab Syafi'i) disunnahkan membaca qunût dalam shalat shubuh, baik ada bala' (cobaan, bencana, adzhab, dan sebagainya) maupun tidak. Inilah pendapat kebanyakan ulama' salaf dan setelahnya. Diantaranya adalah Abu Bakar al-Shiddiq, Umar ibn al-Khattab, Utsman ibn Affan, Ali bibn Abbas dan al-Barra'  ibn  ‘Azib ra.[6]

Dalil yang bisa dijadikan acuan adalah hadits Nabi Saw., yang diriwayatakan dari Anas ibn Malik ra., Ia berkata,

أن النبي صلى الله عليه وسلم قنت شهرا  يدعو عليهم ثم ترك، فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا "  قال الحافظ النووي : حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه، وممن نص على صحته الحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخي والحاكم والبيهقي والدارقطني 

Rasulullah Saw., membaca qunût, mendoakan mereka agar celaka (dua kabilah; Ri'il dan Dzakwan), kemudian meninggalkannya, sedangkan pada shalat Subuh, ia tetap membaca doa qunût hingga meninggalkan dunia ini"  (Musnad Ahmad bin Hambal, no 12196).[7]

Hadits ini merupakan hadist sahih riwayat banyak ahli hadits dan disahihkan oleh banyak ahli hadits seperti al-Hafizh al-Balkhi, al-Hakim, al-Baihaqi dan ad-Daraquthni dan lain-lain)
Meskipun Imam Abu Hanifah berpandangan bahwa qunût merupakan perkara yang baru datang (muhdats), berdasar pada suatu riwayat yang menafikan qunût dalam shalat subuh, akan tetapi pendapat ini dibantah oleh Imam al-Sathi, yang mengatakan,

Dasar hadits yang kemudian dikatakan bahwa qunût itu perkara yang baru datang, tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk melarang qunût. Hal ini sesuai kaidah ushul fiqih, yaqdumu al-mutsbît ‘ala al-nâfî lisytimâlihi ‘ala ziyadati ‘ilmin, dalil yang menjelaskan adanya (terjadinya) suatu perkara, didahulukan oleh dalil yang menyatakan bahwa perkara tersebut tidak ada, sebab adanya penjelasan pada suatu dalil, menunjukkan adanya pemberitahuan (ilmu) yang lebih pada dalil tersebut.[8]

Adapun do'a qunût yang warîd (diajarkan langsung) oleh Nabi Saw., adalah,

اللهمّ اهدنا فيمن هديت، وعافنا فيمن عافيت، وتولّنا فيمن تولّيت، وبارك لنا فيما أعطيت، وقنا شرّ ما قضيت، فإنك تقضى ولايقضى عليك، وإنه لايذلّ من واليت، ولايعزّ من عاديت، تباركت ربنا وتعاليت، فلك الحمد على ما قضيت، أستغفرك وأتوب إليك.[9]
Dengan demikian membaca doa qunût dalam shalat shubuh, hukumnya sunnah, karena Nabi Muhammad Saw., selalu melakukannya hingga beliau wafat.  Kalau kemudian ada orang yang mengatakan bahwa doa qunût dalam Shalat Subuh sebagai bid'ah berarti, secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa para sahabat dan para ulama mujtahid merupakan ahli bid'ah. Na'ûdzu billâh min dzâlik!.

4.    Mengangkat Jari Telunjuk, saat Membaca Illallâh.

Ketika sedang duduk tasyahud, ulama' Syafi'iyah menganjurkan untuk meletakkan kedua tangn di atas paha. Sementara jari-jari tangan kanan digenggam, kecuali jari-jari telunjuk dan ketika membaca illallah jari telunjuk tersebut sunnah diangkat tanpa digerak-gerakkan, dalam sebuah hadits dijelaskan:

Diriwayatkan dari Ali bin Abdirrahman al-Mu'awi, beliau bercerita bahwa pada suatu saat Ibnu Umar ra melihat saya sedang mempermainkan kerikil ketika shoat. Ketika saya selesai shalat, beliau menegur saya lalu berkata, "(Apabila kamu shalat) maka kerjakan sebagaimana yang dilaksanakan Rasulullah SAW (dalam shalatnya). Ibnu Umar berkata, "Apabila Nabi Muhammad SAW duduk ketika melaksanakan shalat, beliau meletakkan telapak tangan kanannya dan menggenggam semua jarinya. Kemudian berisyarah dengan (menganggkat) jari telunjukknya (ketika mengucapkan illallah), dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas paha kirinya. (Shahîh Muslim, no 193).

Hadits inilah yang dijadikan dasar para ulama tentang kesunahan mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud. Sedangkan dari hikmah tersebut adalah supaya kita meng-esakan Allah SWT. Seluruh tubuh kita men-tauhidkan-Nya dipandu oleh jari telunjuk itu.
Syeikh Ibnu Ruslan dalam kitab Matn al-Zubadnya mendendangkan sebuah syair,

وعند إلا الله فالمهملة (*) إرفع لتوحيد الذي صلّيت له

Ketika mengucapkan illallahu, maka angkatlah jari telunjukmu untuk mengesakan Dzat yang engkau sembah.[10]

Jadi, mengangkat jari telunjuk ketika tasyahud itu disunnahkan karena merupakan teladan Nabi Muhammad Saw., Perbuatan itu dimaksudkan sebagai simbol sarana untuk mentauhidkan Allah Swt.

5.    Membaca Sayyidinâ Muhammad Saw

Banyak cara dilakukan untuk memberikan penghormatan dan sanjungan kepada Nabi Muhammad Saw., termasuk diantaranya adalah penambahan kata sayyidinâ didepan penyebutan nama beliau Saw., yang sering kali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun diluar shalat.
Jika Allah ta'ala dalam al-Qur'an menyebut Nabi Yahya dengan:
... وسيدا وحصورا ونبيا من الصالـحين  

...menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.

Padahal Nabi Muhammad lebih mulia daripada Nabi Yahya. Ini berarti mengatakan sayyid untuk Nabi Muhammad juga boleh, bukankah Rasulullah sendiri pernah mengatakan tentang dirinya sebagai sayyid. Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi Saw:

عن ابي هريرة قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم أنا سيد ولد آدم يوم القيامة وأوّل من ينشق منه القبر وأوّل شافع وأوّل مشفع

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Saya gusti (penghulu) anak Adam pada hari kiamat, orang yang pertama bangkit dari kuburan, orang yang pertama memberikan syafa'at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa'at." (Shahîh Muslim, bab Tafdhîlun Nabiyyinâ ‘ala Jamî’. No. 4223).[11]

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi Saw., menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad Saw., menjadi sayyid hanya di hari kiamat saja, bahkan beliau Saw., menjadi tuan (sayyid) manusia di dunia dan akhirat. Syaikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidinâ (sebelum nama Nabi Saw) karena yang lebih utama (dengan menggunakan sayyidina itu) adalah cara beradab (bersopan santun pada Nabi Saw).[12]

Mengenai kata hadist yang menerangkan sayyidinâ ini, Syaikh Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki al-Hasani mengatakan,

Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad Saw., di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits. "Saya adalah sayyid-nya anak cucu Adam di hari kiamat. Tapi Nabi Saw., menjadi sayyid keturunan Adam di dunia dan akhirat.[13]

Beberapa argumentasi ini menunjukkan bahwa Nabi Saw., memperbolehkan memanggil beliau dengan sayyidinâ, karena Nabi Muhammad Saw., sebagai junjungan umat Islam yang harus dihormati sepanjang masa. Merujuk pada dalil-dalil ini, maka membaca kata sayyidinâ, baik dalam bacaan shalawat maupun tasyahud dalam shalat merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dan bukan bid’ah.
Jadi kita diperbolehkan untuk bershalawat dengan   اللهم صل على سيدنا محمد ,  meskipun tidak pernah ada pada lafald-lafald shalawat yang diajarkan oleh Nabi (ash-shalâwat al-ma'tsûrah). Karena menyusun dzikir tertentu; yang tidak ma'tsur, hukumya boleh, selama tidak bertentangan dengan yang ma'tsur, sebagaimana penambahan lafald tabiyah yang dilakukan oleh Umar Ibn al-Khattab. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diceritakan bahwa Umar Ibn al-Khattab menambah lafald talbiyah dari yang sudah diajarkan oleh Nabi Saw. Lafald talbiyah yang diajarkan oleh Nabi adalah:

لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك
Kemudian sahabat Umar menambahkan:

 لبيك اللهم لبيك وسعديك ، والخير في يديك، والرغباء إليك والعمل

Ibnu Umar juga menambah lafazh tasyahhud menjadi:
  أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له 

Ibnu Umar berkata:"Saya yang menambahkan lafld  وحده لا شريك له . (H.R. Abu Dawud). Karena itulah, al-Hâfizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bâri, Juz. II, hlm. 287, ketika menjelaskan hadits Rifa'ah ibn Rafi', Rifa'ah mengatakan:

Suatu hari kami shalat berjama'ah di belakang Nabi Saw., ketika beliau mengangkat kepalanya setelah ruku' beliau membaca: سمع الله لمن حمده, salah seorang makmum mengatakan:ربنا ولك الحمد حمدا كثيرا طيبا مباركا فيه, maka ketika telah selesai shalat, Rasulullah bertanya: "Siapa tadi yang mengatakan kalimat-kalimat itu?". Orang yang mengatakan tersebut menjawab: “Saya”. Lalu Rasulullah mengatakan:
رأيت بضعة وثلاثين ملكا يبتدرونها أيهم يكتبها أول   
"Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba untuk menjadi yang pertama mencatatnya".

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: "Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan: i) bolehnya menyusun dzikir di dalam shalat yang tidak ma'tsur selama tidak menyalahi yang ma'tsur; ii) boleh mengeraskan suara berdzikir selama tidak mengganggu orang di dekatnya; iii) dan bahwa orang yang bersin ketika shalat boleh mengucapkan al Hamdulillah tanpa ada kemakruhan di situ".
Kesimpulannya kita diperbolehkan untuk menambah kata sayyidinâ dalam shalawat dan bacaan  tasyahud shalat, karena tambahan sayyidina ini merupakan tambahan yang sesuai dengan asal dan tidak bertentangan dengannya. Wallâhu a’lam.

6.    Mengusap Wajah Setelah Selesai Shalat

Setelah selesai berdoa, Rasulullullah Saw., selalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن السائب بن يزيد عن أبيه أنّ النبي صلّى الله عليه وسلّم كان إذا دعا فرفع يديه مسح وجهه بيده

Dari Sa'ib bin Zayid dari ayahnya, "Apabila Rasulullah SAW berdoa beliau selalu mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangnnya." (Sunan Abu Dawud, no 1275).

Begitu pula orang yang telah selesai melaksanakan shalat, ia juga disunahkan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Sebab secara bahasa, shalat berarti berdoa, karena didalamnya terkandung doa-doa kepada Allah Swt. Sehingga orang yang mengerjakan shalat juga sedang berdoa, maka wajar jika setelah shalat, ia juga disunahkan mengusap muka.
Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkâr mengutip hadits  yang menjelaskan bahwa Rasulullah Saw., selalu mengusap wajah dengan tangan, sekaligus tentang doa yang beliau baca setelah salam:

Kami meriwayatkan (hadits) dalam kitab Ibn al-Sunni dari sahabat Anas Ra., bahwa Rasulullah Saw., apabila setelah selesai melaksanakan shalat beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.. lalu berdoa, "saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya Allah hilangkanlah dariku kebingungan dan kesusahan.[14]

Hal ini menjadi bukti bahwa mengusap muka setelah shalat (berdoa) hukumnya sunnah, karena Nabi Muhammad Saw., juga melakukannya.

7.    Bersalaman Usai Shalat

Nabi Muhammad Saw., menganjurkan umat Islam untuk saling bersalaman bila saling berjumpa. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan dan persatuan umat Islam semakin kuat dan kokoh. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya seusai melaksanakan ibadah haji, maka disunahkan berangkulan (mu'ânaqah). Dalam sebuah hadits, Nabi Saw., bersabda:

Diriwayatkan dari al-Barra' ibn ‘Azib, ia berkata, "Rasulullah Saw., bersabda "Tidakkah dua orang laki-laki bertemu, kemudian keduannya bersalaman, kecuali diampuni dosanya sebelum mereka berpisah. (Sunan ibn Mâjah, no 3693).

Berdasarkan hadits inilah, ulama' Syafi'iyah mengatakan bahwa hukum bersalaman setelah shalat adalah sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid'ah, tetapi termasuk dalam kategori bid'ah mubahah, sebagaimana perkataan Imam Nawawi yang menganggapnya sebagai perbuatan yang baik untuk dilakukan.

Adapun orang-orang yang mengkhususkan diri untuk berjabat tangan setelah usai shalat Ashar dan Shubuh, maka dianggap sebagai bid'ah mubahah. Pendapat yang dipilih, jika seseorang sudah berkumpul dan bertemu sebelum shalat, maka berjabat tangan tersebut merupakan bid'ah mubahah. Tapi jika sebelumnya belum pernah bertemu maka, hukumnya adalah sunnah, karena jabat tangan itu (dianggap) sebagai pertemuan baru. (Fatwa al-Imam al-Nawawi, hal 61).

Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang sedang shalat itu sama dengan orang  yang ghâib (tidak ada di tempat, karena berpergian atau yang lainnya). Setelah shalat, ia seakan-akan baru datang dan bertemu dengan saudaranya yang muslim. Oleh karenanya, setelah selesai melaksanakan shalat, dianjurkan untuk berjabat tangan. Dalam kitab Bughyah al-Mustarsydîn, disebutkan:

Bersalaman itu termasuk bid'ah yang mubah, dan Imam al-Nawawi menganggapnya sesuatu yang baik. Tapi hendaknya di tafshil (diperinci), antara orang yang sebelum shalat sudah bertemu, maka salaman itu hukumnya mubah (boleh). Dan jika memang sebelumnya tidak bersama (tidak bertemu), maka dianjurkan (untuk salaman setelah salam). Karena salaman itu disunahkan ketika bertemu menurut ijma' ulama'. Sebagian ulama berpendapat bahwa orang-orang yang shalat seperti orang-orang yang ghaib (tidak ada/tidak bertemu). Maka baginya disunahkan bersalaman setiap selesai shalat lima waktu secara mutlak (baik sudah bertemu sebelumnya atau tidak). (Bughyah al-Mustarsyidîn, hal 50-51).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum bersalaman setelah selesai shalat adalah boleh, dan bahkan sunnah. Wa ’alallâhi falyatawakkalil mutawakkilûn.


8.     Menggunakan Tasbih untuk Berdzikir
Menurut KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dalam bahasa Arab tasbih disebut sebagai subhah atau misbahah, dalam bentuknya yang sekarang (untaian manik-manik), memang merupakan produk ‘baru’. Sesuai namanya, tasbih digunakan untuk menghitung bacaan tasbîh (subhânallâh), tahlîl (lâ ilâha illallâh), dan sebagainya. Pada zaman Rasulullah Saw., untuk menghitung bacaan dalam berdzikir digunakan jari-jari, kerikil-kerikil, biji-biji kurma atau tali-tali yang disimpul.[15] Hal ini berdasar pada hadits Nabi Saw,

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يعقد التسبيح بيمينه (رواه أبو داود)

Pernah kulihat Nabi saw menghitung bacaan tasbih dengan tangan kanannya.

Rasulullah Saw., juga pernah menganjurkan para wanita untuk bertasbih dan bertahlil serta menghitungnya dengan jari-jemari, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Syaiban, Abu Dawud, At-Turmudzi, dan Al-Hakim:

عليكن بالتسبيح والتهليل والتقديس واعقدن بالأنامل فإنهن مسؤلات مستنطقات ولاتغفلن فتنسين الرحمة

Wajib atas kalian untuk membaca tasbih, tahlil, dan taqdis. Dan ikatlah (hitungan bacaan-bacaan itu) dengan jari-jemari. Karena sesunggunya jari-jari itu akan ditanya untuk diperiksa. Janganlah kalian lalai (jikalau kalian lalai) pasti dilupakan dari rahmat (Allah).

Dalam sebuah cerita dikatakan bahwa sahabat Abu Hurairah Ra., menggunakan tali yang disimpul-simpul sampai serubu simpulan untuk ber-tasbih, sahabat Sa’ad bin Abi Waqash Ra., menggunakan kerikil-kerikil atau biji-biji kurma. Demikian pula sahabat Abu Dzar dan beberapa sahabat lainnya.
Memang ada sementara ulama yang berpendapat bahwa menggunakan jari-jemari lebih utama daripada menggunakan tasbih. Pendapat ini didasarkan atas hadits Ibnu Umar yang sudah disebutkan di atas. Namun dari segi maknanya (sebagai untuk sarana menghitung), kedua cara itu tidak berbeda. Wallâhu A’lam bish Shawâb. []


*) Rohani, Alumnus PP Al-Iman Bulus, Wakil Sekretaris PC Lakpesdam NU Wonosobo


[1] Jalâludin as-Suyûti, al-Asybâh wa an-Nadhâir, (Semarang: Toha Putra, tt), hal. 25.
[2] Sehingga surat al-Fâtihah dinamakan pula dengan as-Sab'ul Matsâni. Meskipun sebagian ahli tafsir mengatakan as-Sab'ul Matsâni sebagai tujuh surat yang panjang, yaitu al-Baqarah, Ali Imran, al-Mâidah, an-Nissâ', al-'Arâf, al-An'âm dan al-Anfâl atau at-Taubah, namun mereka semua bersepakat bahwa jumlah ayat surat al-Fâtihah ada tujuh ayat. Lihat penafsiran ayat tersebut dalam, al-Qur’an dan Terjemahnya, oleh Departemen Agama RI. Dengan demikian, menurut jumhul ulama’, meninggalkan satu ayat (basmalah) dalam shalat, menyebabkan shalatnya tidak sah.
[3] Riwayat lain dari Abu Hurairah berbunyi, “Nabi Saw., bersabda: apabila kalian membaca surat al-Fâtihah, maka bacalah basmalah. Sesungguhnya surat al-Fâtihah adalah ummul qur’an, ummul kitab dan sab’ul matsâni, sedangkan basmalah adalah termasuk satu ayat dari surat al-Fâtihah. (HR. Ad-Daru Quthni, dalam Tafsîr Ayatul Ahkâm, juz. I, hal. 34. Dikutip dalam, Ahmad Muhtadin (Ketua Tim), Fiqih Galak Gampil: Menggali Tradisi Keagamaan Muslim Ala Indonesia, (Pasuruan: Madrasah Mua’llimin Muallimat Darut Taqwa, 2010), hal. 42.
[4] An-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzab, juz. III, (Beirut: Dâr al-Fikri, tt), hal. 34
[5] Muhammad ibn Idris asy-Syafi’î, al-Umm, juz. I, (Semarang: Toha Putra, tt), hal. 107.
[6] An-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, juz. I, hal. 504.
[7] Hadits ini merupakan hadist sahih yang diriwayatkan dan disahihkan oleh banyak ahli hadits, seperti al-Hâfizh al-Balkhi, al-Hâkim, al-Baihâqî dan ad-Daraquthni dan lain-lain.
[8] Syarah Nadham Jam’il Jawâmi’, juz. 2, hal. 475. Dikutip dalam Ahmad Muhtadin, Fiqih., hal. 47.
[9] Artinya: "Ya Allah berilah kami petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami kesehatan seperti orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan. Berilah kami perlindungan sebagaimana orang-orang yang Engkau beri perlindungan. Berilah berkah kepada segala yang telah Engkau berikan kepada kami. Jauhkanlah kami dari segaa kejahatan yang Engkau pastikan. Sesunggunya Engkau Dzat Yang Maha Menentukan dan Egkau tidak dapat ditentukan. Tidak akan hina orang yang Engkau lindungi. Dan tidak akan mulia orang yang Kamu musuhi. Engkau Maha Suci dan Maha luhur. Segala puji bagi-Mu atas segala yang Engkau pastikan. Kami mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu."
[10] Ibnu Ruslan, Matn al-Zubad, (Surabaya: al-Alawiyah, tt), hal. 25.
[11] Hadist semakna berbunyi, Aku adalah sayyidnya anak adam dan (julukan) ini bukan suatu kesombongan, (Sunan Abû Dâwud, no. 4053; Sunan at-Tirmidzi, no. 3073). Selain itu juga terdapat hadits shahih yang menceritakan bahwa bahwa Sahl ibn Hanif berbicara kepada nabi dengan menyapa “ya sayyidî” (wahai Tuanku). Lihat, Hasan Ali as-Segaf, Tanâqudhât Albâny al-Wâdhihah, jilid 2, hal. 72. Cet. 4, (Amman: Imam Nawawi House, 2008). Kitab ini dapat diunduh di website aswaja.com. Bandingkan, Syaikh Idahram, Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2011), hal. 262
[12] Hâsyiyah al-Bâjûri, juz I, hal. 156, dikutip dalam Ahmad Muhtadin, Fiqih., hal. 141
[13] Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki al-Hasani, Manhâj al-Salaf fî Fahm al-Nushûsh bain al-Nadzâriyat wa al-Tatthbîq, hal. 167. Demikian pula penjelasan yang diberikan oleh Imam Mujahid dan Imam Qatadah, sebagaimana termaktub dalam Tafsîr al-Baghawî, mereka berkata: “Janganlah kalian memanggil nama Nabi Saw., dengan namanya secara langsung, seperti kamu memanggil temannya saja dengan panggilan ‘hai Muhammad!’ atau ‘hai Abdullah!’, akan tetapi panggillah dengan penuh ketawadhuan dan lemah lembut, misalnya memanggil dengan nama keagungan dan kebesarannya (Ya Nabiyyallah; Ya Rasulallah, dan sebagainya). Tafsîr al-Baghawî, juz. III, hal. 433.
[14] An-Nawawi, al-Adzkâr al-Muntakhibah min Kalâmi Sayyidil Abrâr, (Semarang: Toha Putra, tt), hal. 69.
[15] Mustofa Bisri, “Menggunakan Tasbih untuk Berdzikir”, dalam NU Online.