14.11
0
Hening, tenang, dan udara segar menyelimuti kompleks pondok pesantren tertua di Kabupaten Purworejo itu. Keheningan tersebut dibarengi suara gemericik air jernih dan santri yang sedang menghafal. Sahut menyahut. Iya, pesantren itu bernama al-Iman. Letaknya di Desa Bulus, Gebang Kabupaten Purworejo.

Memasuki perkampungan Bulus, reporter nujateng.com merasakan ketenangan dan keasrian lingkungan pesantren. Disetiap emperan bangunan pesantren, berkumpul santri-santri sedang duduk berbincang. Mereka berdiskusi sembari membawa kitab-kitab kuning yang merupakan ciri khas pesantren salaf.

Pesantren ini memang lumayan jauh dari pusat keramaian kota Purworejo. Untuk sampai di pesantren ini, dari Jalan Raya Purworejo masih masuk sekitar dua kilometer. Letak persis-nya, berada di tengah-tengah perkampungan yang masih elok dan asri.

Sekelilingnya masih terdapat pohon-pohon besar dan aliran air gunung yang masih jernih. Sebagai tempat untuk menimba ilmu, pesantren ini sangat nyaman, karena jauh dari kebisingan kota. Saat ini, pesantren yang memiliki sejarah panjang itu dipimpin oleh KH Habib Hasan Agil Ba’abud.

Sampai di ndalem pesantren, reporter nujateng.com disambut hangat oleh KH Habib Hasan. Dengan ramah, kiai bersahaja ini menjelaskan sejarah panjang pesantren yang sempat vakum selama beberapa tahun itu. Termasuk, nama pesantren yang juga mengalami perubahan.

”Dulunya bernama al-Islamiyah, kemudian berubah menjadi al-Iman,” tutur kiai yang juga sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo selama dua periode ini. Konon pesantren ini didirikan oleh seorang ulama besar, yakni Mbah Ahmad Alim. Mbah Alim merintis pesantren ini, jauh sebelum adanya Kabupaten Purworejo.

Habib bercerita, asal usul Mbah Ahmad Alim memang masih misterius. Namun, makamnya memang ada di Desa Bulus. Konon, ketika Mbah Ahmad Alim membuka hutan belantara sehingga menjadi Desa Bulus sekitar tahun 1700-an, 1750-an atau 1800-an.

Santri Mbah Shaleh Darat
Mbah Ahmad Alim, kata Habib, konon dibuang Belanda ke daerah tersebut. Adapun penamaan kampung Bulus, lantaran konon Mbah Alim banyak menjumpai hewan bernama Bulus. “Memang Mbah Ahmad Alim dikenal sebagai seorang sufi. Konon beliau itu masih keturunan Sunan Gresik, Jawa Timur,” tambahnya, sembari menyeruput kopi hitam.

”Lambat laun pesantren yang didirikan itu banyak didatangi santri. Dengan berkembangnya zaman, kiai Ahmad Alim bahkan sempat memiliki santri yang cukup alim, dan di antaranya bahkan ada yang mashur, seperti Kiai Shaleh Darat, Semarang,” tuturnya.

Setelah kiai Ahmad Alim wafat, tapuk kepemimpinan pesantren diteruskan oleh salah satu menantunya, bernama Raden Sayyid Ali. Dipilihnya menantu sebagai pemegang tampuk pimpinan pesantren dikarenakan sang menantu itu dikenal cukup alim dan masih keturunan sayyid.

Alasan di balik itu, karena dilandasi keikhlasan. Ketika itu kira-kira terjadi pada masa Pangeran Diponegoro atau sekitar tahun 1800-an. Anak-anaknya Mbah Alim yang keluar dari Bulus, juga mendirikan pesantren yakni, Pondok Pesantren Maron, Solotiang, dan Al-Anwar Purworejo.

Dari Sayyid Ali, kepemimpinan pesantren kemudian dilanjutkan anaknya, yakni Sayyid Muhammad, kemudian diteruskan Sayyid Dahlan. Kepemimpinan Kiyai Sayyid Dahlan berakhir sekitar tahun 1935-an. Setelah itu pondok menjadi vakum. Kevakuman itu akibat dari keboyongan (kepindahan) kiai ini ke daerah Kauman, dekat masjid Jami` Purworejo.

Karena saat itu sang kiai diminta oleh Bupati Cokronegera pindah ke Kauman untuk menjadi imam dan kiai di Kauman. Setelah lama vakum dan tidak ada aktivitas, pesantren di Bulus itu dibangun atau dihidupkan kembali oleh Khadratul Walid sekitar tahun 1955.

Khadratul Walid sendiri merupakan bapak dari KH Hasan Agil Ba’bud yang sekarang menjadi pemimpin pesantren itu. Bersamaan dengan itu, pesantren yang dulunya bernama al-Islamiyah kemudian diganti nama al-Iman. Penamaan itu, karena dulu Khadratul Walid, pernah belajar pada Ustadz Segaf Al-Jufry di Magelang yang memiliki madrasah bernama al-Iman.

Dari Khadratul Walid, pesantren kemudian dipegang Sayyid Agil, adik dari Khadratul Walid. Setelah dibangun oleh Khadratul Walid itulah, mulai berdiri madrasah model klasikal, model formal tapi diniyah. Pada masa itu mulai berani memasukkan pelajaran umum, seperti bahasa Inggris, Indonesia.

Al-Quran, Nahwu, dan Sharaf
Soal mata pelajaran, pesantren ini masih sangt menjaga traidisi ala pendidikan salaf. Mulai Adzan Subuh, para santri-santri segera bergegas ke masjid (pondok) yang terletak tepat di tengah-tengah bangunan pesantren. Usai Subuh berjama`ah, aktifitas belajar dimulai.

“Setelah subuh, ada bermacam-macam kegiatan. Santri tingkat SLTP dan Tsanawiyah (kelas 1-2) difokuskan pada bacaan al-Qur`an. Sementara santri yang besar mengaji kitab dengan tata cara bandongan. Santri yang paling besar, guru-gurunya, juga pengurus-pengurus, ngaji kitab, seperti Bukhari, Muslim, dan Ihya,” jelasnya.

Khusus malam Jum`at, di pesantren ada kegiatan berjanji. Untuk mata pelajaran, , di pesantren al-Iman ini cukup padat. “Di sini, kita full-kan dan tidak terlalu ketat, tak banyak aturan dengan tetek bengek peraturan. Yang jelas, santri-santri diberikan kegiatan belajar yang padat,” katanya.

Habib Hasan selalu menekankan kepada santrinya dalam dua hal yakni Qur`an dan Nahwu-Sharaf. “Yang saya tekankan pertama adalah anak-anak itu harus bisa membaca Qur`an dengan fasih. Kedua, ilmu nahwu dan sharaf. Sebab jika santri itu tidak tahu nahwu dan sharaf, maka mustahil dia bisa memahami kitab,” paparnya.

Pondok pesantren al-Iman memiliki sekitar seribu santri. Alumni yang dididik dari pesantren al-Iman, kini bertebaran di segala bidang. Ada yang menjadi Polri, TNI, dan akademisi. Tentunya, akan lebih bagus jika alumni pesantren bisa masuk ke berbagai bidang.

- Artikel ini ditulis dan dimuat oleh web resmi PWNU Jawa Tengah